Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
99. William mengamuk.


Keluarga Antonius sudah dikenal masyarakat di kota Viona sebagai orang kaya, apapun berita tentang kehidupan mereka akan masuk berita, baik media sosial maupun tivi.


Besoknya baik di tivi dan media sosial berita akan anjloknya saham keluarga Antonius tersebar di seluruh kota, dan juga luar kota.


Bernard dengan bantuan relasinya memancing Morgan untuk menanamkan modal pada suatu dana investasi pengembangan Hotel.


Dengan bodohnya Morgan mau memberikan setengah sahamnya dengan percaya diri.


Dia membayangkan akan keuntungan yang akan dia raih.


Tapi berita pagi ini membuat rumah keluarga Antonius seperti terkena serangan jantung.


William sangat murka pada Morgan, memarahi putranya tersebut dengan meledak-ledak.


"Sungguh bodoh! mudah sekali terpancing!!" teriak William pada Morgan seraya membanting koran pagi ke meja makan.


Semua yang berada di meja makan diam tidak berani buka suara.


"Keluarga Antonius hancur sudah kalian buat, sudah tidak punya harapan lagi, benar-benar sial!!" William kembali membanting koran pagi yang baru selesai di bacanya tersebut.


"Suamiku, Morgan berusaha untuk mengembangkan bisnis saja, dia tidak tahu kalau ini sebuah jebakan!" kata Lisa mencoba menenangkan William dengan nada yang lembut.


"Ini semua salahmu! inilah hasil didikanmu! kamu terlalu memanjakan putramu! jadilah dia terlalu gegabah mengambil tindakan, terlalu percaya diri!" teriak William menunjuk istrinya tersebut dengan jari telunjuknya.


Lisa terdiam mendengar perkataan suaminya itu.


Semua menundukkan kepala, tidak berani memandang Ayah mereka.


"Pertama Andreas, dan sekarang Morgan, habis sudah! apakah kamu ada menyinggung seseorang?!" tanya William pada Morgan dengan nada marah.


"Ini pasti ulah Bernard!" kata Andreas tiba-tiba.


"Kenapa kamu bilang ini ulah Bernard, apa sangkut pautnya dengan dia?!" tanya William tajam.


"Itu...!" Andreas tidak melanjutkan kata-katanya.


"Iya, bisa jadi Pa!" kata Lidia sembari berdiri, "Buktinya dia dan istrinya telah menjatuhkan karirku, mereka mengekspos videoku saat di Mall Gold Star!" kata Lidia berapi-api.


"Iya benar suamiku, mungkin dia ingin balas dendam pada kita, karena kita telah mengusir dia dari rumah kita!" tambah Lisa dengan yakin.


William tampak merenung mencerna perkataan istri dan putrinya tersebut.


"Iya pa, aku pernah mencoba untuk membuat perhitungan pada Bernard agar usaha Mall nya bangkrut, tapi tidak bisa, mungkin dia minta bantuan pada orang berpengaruh untuk melawan kita!" kata Andreas.


"Jadi akibat ulahmu ternyata perusahaan mu jadi bangkrut?!!" teriak William sangat terkejut dengan penjelasan Andreas.


"Aku mau menolong Lidia Pa, aku mencoba menakut-nakuti Bernard agar jangan berani macam-macam!" kata Andreas membela diri.


"Kamu memang sama kayak kakakmu, sama-sama bodoh! aku sudah berusaha juga berbicara pada Bernard tapi dia tidak mengangkat teleponku! kenapa kamu bertindak tanpa bicara dulu padaku, dasar bodoh!!" William melempar koran yang dipegangnya ke kepala Andreas.


Andreas memegang kepalanya yang terkena lemparan koran.


Drrrrt


Tiba-tiba ponsel Morgan bergetar.


Morgan melihat nama didalam layar ponselnya, dia lalu permisi pada Ayahnya untuk menerima telepon tersebut.


Morgan dengan cepat pergi keluar dari ruang makan itu.


"Halo!" jawabnya mengangkat ponselnya.


Beberapa saat dia mendengarkan penjelasan diseberang ponsel.


"Bagus!" katanya tersenyum senang, "Aku akan membayar setengah dulu!"


Morgan kemudian menutup ponselnya.


Dia kemudian tampak menyeringai dengan senang.


"Lihat saja pembalasan ku, kamu pikir aku tidak pintar, aku akan membuat mu menjadi gelandangan, dan julukan sampah akan kembali disematkan padamu!" kata Morgan bergumam sendirian.


Dia merasa rencana yang disusunnya kali ini akan berhasil, dia tidak peduli telah menghabiskan sebagian tabungannya.


Sebentar lagi dia akan menjadi Miliarder.


Morgan tanpa sadar tertawa membayangkan apa yang akan diraihnya sebentar lagi.


Bersambung.....