
Morgan, Andreas dan Lidia hanya bisa diam saja tidak bisa membantu Ibu mereka, Ayah mereka sudah sangat emosi akibat perbuatan Ibu mereka yang memalukan.
Mereka hanya bisa memandang saja bagaimana Ibu mereka dengan begitu sedihnya, menangis memohon ampun pada Ayah mereka.
"Memalukan! kamu katakan Bernard anak haram, sementara kamu terlebih dahulu telah menipuku dengan kehamilanmu!!" teriak William.
"Kalau kamu tidak menipuku, mungkin Bella lah sekarang yang menjadi istriku, Kakek telah lama ingin menjodohkan kami berdua, karena tipu muslihat mu, akhirnya aku masuk perangkap mu, brengsek!!" umpat William, lalu menendang kursi untuk melampiaskan emosinya yang terasa sakit di kepalanya.
"Tidak!! itu tidak mungkin!!" teriak Lisa histeris.
"Bella sudah meninggal, bagaimana lagi aku harus meminta maaf padanya, putranya sudah membenciku karena telah menelantarkan Bella!" William terduduk lemas di kursi, dadanya terasa sakit.
Dia telah dibutakan oleh cinta Lisa yang ternyata seorang wanita yang licik, terlalu pencemburu hingga membuat dia bisa nekat berbuat apa saja.
Putraku! bisik hati William teringat pada Bernard, rasa penyesalannya terasa sangat dalam pada Bernard.
William ingat bagaimana dia membiarkan Lisa berbuat apa saja pada Bernard, membiarkan Lisa selalu memarahi Bernard sedari kecil.
Sekarang penyesalan yang ada di hati William terasa sangat menyiksa perasaannya, dia telah mengabaikan putranya sendiri.
Tapi malah memberikan kasih sayangnya yang berlimpah pada Morgan yang bukan anak kandungnya.
Semenjak Bella meninggal, Bernard hanya diterima oleh Ayahnya Peter Antonius dengan penuh kasih sayang.
William sedikitpun tidak pernah merasa senang kalau melihat Bernard, karena dia akan teringat pada Bella yang diduga nya telah menjebaknya untuk bisa tidur dengannya.
Tapi ternyata Bella tidak pernah ada niat sedikitpun untuk menggodanya, dan menjebaknya.
"Katakan apa lagi yang telah kamu perbuat, jangan ada lagi yang akan membuat aku membencimu!" kata William dengan tajam.
"Tidak ada lagi suamiku!" kata Lisa dengan nada lemah.
"Benarkah?"
"Iya, benar, tidak ada lagi!"
"Aku tidak akan memaafkan mu kalau ada lagi yang telah kamu lakukan, dan aku akan bercerai denganmu lalu segera angkat kaki dari rumahku kalau kamu berbohong!" kata William dengan tajam.
Dia menelan ludahnya tanpa sadar, dia merasa wajahnya sudah pucat pasi.
Dia berharap apa yang telah dilakukannya tidak ketahuan semuanya, dia ingin menghubungi bawahannya secepatnya.
Tapi karena William masih ada disini, jadi dia tidak bisa untuk menghubungi bawahannya.
Dia ingi melakukan penyelidikan, siapa yang telah berani menggali lagi apa yang telah dia lakukan dimasa lalu.
Dia tidak ingin William mengetahui akan kematian Ayahnya dan Bella, dia sudah melakukan segalanya untuk ketenangan hidupnya bersama suami dan anak-anaknya.
"Tuan, ini ada surat lagi!" kepala pelayan datang untuk memberikan surat tanpa nama pada William.
Apa lagi ini! bisik hati William, ternyata masih ada lagi yang dilakukannya!
William membuka amplop tersebut, selembar surat lagi.
Tangannya tidak sanggup lagi untuk memegang surat tersebut, William menyerah sudah untuk membacanya.
"Andreas, kamu yang baca!" kata William pada Andreas.
Andreas menerima surat tersebut, lalu kemudian membacanya.
"Istri anda tahu persis apa penyebab kematian, Peter Antonius dan Bella!"
Mendengar isi surat itu, tubuh William ambruk jatuh terduduk ke lantai.
"Papa!" Lidia berlari kearah William, dia mencoba menolong William untuk berdiri.
"Mamaa! kamu sungguh kejam!!" teriak Andreas.
"Siapa yang kejam! dasar bodoh! aku melakukan semua ini untuk kalian, untuk masa depan kalian agar bisa hidup yang berkecukupan, tidak berkekurangan apapun!" teriak Lisa dengan mimik wajah yang tersenyum.
Andreas mundur beberapa langkah melihat wajah Ibunya yang terlihat menyeramkan.
Bersambung.....