Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
123. Bukti kejahatan.


Lisa menangis didepan suami dan anak-anaknya, martabatnya sebagai istri terhormat hilang sudah.


Yang ada sekarang adalah tatapan menjijikkan dari William, ternyata dia dijebak Lisa dengan kehamilannya.


Andreas dan Lidia diam tidak bisa berkata apapun, Ibunya ternyata memakai topeng ibu yang baik selama ini.


"Dimana Papaku sekarang?" tanya Morgan akhirnya buka suara.


"Dia bukan Papamu!" kata Lisa menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Dimana sekarang Papaku, Ma?" tanya Morgan lagi.


"Dia bukan Papamu!!" teriak Lisa.


Morgan bangkit dari duduknya, dia berdiri didepan Ibunya yang tengah berlutut dilantai.


"Sekali lagi kutanya, Papaku sekarang tinggal dimana, Ma!" kata Morgan dengan tajam.


"Dia sudah meninggal!" teriak Lisa.


Morgan terkejut mendengar perkataan Ibunya tersebut, dia terduduk dengan lemas mengetahui kalau Ayah kandungnya telah meninggal.


"Aku akan menyelidiki apa benar yang telah kamu katakan!" kata William.


Wajah Lisa kembali berubah, dia semakin pucat.


"Tidak suamiku, kenapa harus mencari tahu lagi kejadian dimasa yang lalu?" tanya Lisa dengan memelas.


"Karena kamu tampaknya berbohong lagi!" kata William.


"Suamiku...maafkan aku, jangan lagi mencari tahu yang sudah lama berlalu!" teriak Lisa ketakutan.


"Tuan, ini ada kiriman surat tanpa nama seperti kemarin!" sahut Kepala pelayan datang memberikan amplop surat pada William.


Siapa lagi yang mengirim surat! bisik hati Lisa mulai cemas lagi, ada yang sudah berkhianat padaku, brengsek!


William menerima amplop tersebut, lalu membukanya dengan tidak sabaran.


Dia tahu kalau surat tersebut pasti mengenai tentang istrinya.


William mengeluarkan selembar kertas, lalu membaca apa yang tertulis di sana.


"Rahasia kejahatan istri anda!" tangan William gemetar setelah membaca isi surat tersebut.


Sial! siapa yang telah membongkar semua tentang masa laluku! pikir Lisa geram.


William melihat didalam amplop ada dua benda kecil, yang satu flashdisk, dan yang satu lagi rekaman suara.


William mengambil kedua benda kecil tersebut.


"Katakan kejahatan apa yang telah kamu perbuat?!" kata William dengan nada yang tajam.


"Aku tidak melakukan apa-apa, itu hanya fitnah! aku dijebak!" jerit Lisa membela diri.


"Baik, kamu tidak jujur, mari kita lihat ada apa di rekaman ini!" kata William.


Dia kemudian memutar isi rekaman tersebut.


"Kamu harus pastikan Bella dan klien itu yang meminum obat itu, aku akan kirim wartawan untuk menangkap basah mereka dikamar yang sudah kusiapkan, kali ini rencana yang ku susun harus berhasil, aku ingin Bella dipecat dari pekerjaannya, aku sangat membencinya, aku tidak ingin dia selalu dekat disekitar William!"


William sangat terkejut mendengar rekaman tersebut, itu suara Lisa, dan dia menyebutkan nama Ibunya Bernard.


Tanpa sadar rekaman tersebut terjatuh dari tangannya.


Yang lainnya juga terkejut mendengar suara itu, mereka tentu mengenal pemilik suara tersebut.


"Ka...ka...kamu, apakah aku tidak salah dengar apa yang kamu katakan barusan?!" tanya William dengan tubuh gemetar seperti melihat hantu.


"Suamiku...itu bukan suaraku, itu pasti diedit, ada yang mencoba merusak hubungan kita!" sahut dengan sedihnya.


"Flashdisk, mana laptop!" William tersadar ada satu benda kecil yang harus dilihat.


Andreas meletakkan laptop diatas meja.


William mengaktifkan laptop dan memasukkan flashdisk, dan di layar laptop ada tiga rekaman video.


William membuka rekaman video yang pertama.


Tampak Lisa yang masih muda berbicara pada seorang lelaki muda, sepertinya seorang pelayan.


Lisa menyerahkan sesuatu kepada lelaki tersebut, mereka terlihat berbicara dan si lelaki menganggukkan kepalanya.


Melihat adegan rekaman video singkat tersebut, William sudah langsung mengerti apa yang telah dilakukan oleh istrinya tersebut.


Bersambung.....