
Dengan hati-hati Jos meletakkan Lidia untuk duduk di kursi malas pantai.
"Terimakasih Jos" kata Lidia.
"Sama-sama Nona" jawab Jos.
Jos bergabung dengan Leo dan dua Bodyguard Bernard lainnya, duduk tidak jauh dari Lidia dan Anna.
Sementara itu tidak jauh dari mereka, Bernard mengoles cream sun block ke kaki, tangan dan daerah tubuh Viona yang terbuka untuk mencegah agar tidak terbakar sinar matahari.
Bernard menutup tubuh Viona dengan handuk lebar, lalu merapatkan kursi malas miliknya dengan kursi Viona.
Dia tidak ingin ada mata para pengunjung pria Resort yang tengah bersantai di pantai, curi-curi pandang melihat kearah istrinya.
Dia akui istrinya sangat cantik, tatapan matanya saja sangat mempesona dan memikat.
Karena itulah mahasiswa di Universitas Viona dulu sewaktu kuliah banyak yang menyukainya.
Tangannya yang panjang dilingkarkan nya disekitar kepala Viona, agar orang dapat melihat bahwa istrinya adalah miliknya, jadi jangan coba-coba memandang istrinya.
Tapi Bernard justru tidak menyadari tentang tubuhnya yang hanya memakai celana pendek saja, mempertunjukkan tubuhnya yang kekar dengan perut sixpack nya.
Dia malah menjadi pusat perhatian para pengunjung wanita, mata para wanita tersebut begitu tergoda melihat tubuh Bernard yang kekar.
Walau tubuh Bernard bertato, tapi mata para wanita tersebut tidak terganggu sama sekali.
Lidia dan Anna menyadari banyak mata wanita memandang kearah Bernard dan Viona, tapi mereka heran apa yang mereka lihat.
"Kira-kira apa yang mereka lihat kearah Viona dan suaminya?" tanya Lidia pada Anna.
"Tidak tahu, bisa jadi mereka tergoda pada Bernard, kamu kan tahu semenjak suami Viona ketahuan identitas aslinya, banyak wanita yang jadi tergoda padanya!" kata Anna.
"Iya, benar katamu!" kata Lidia baru teringat kalau Bernard adalah seorang Miliarder.
Tiba-tiba sebuah bola melayang kearah Lidia dan mengenai lengan bahunya.
"Aoww...!" sontak Lidia menjerit terkejut.
Dan memungut bola yang mengenai bahu Lidia.
"Kalau bermain bola jangan asal sembarang lempar, jadi kena orang!" bentak Jos marah pada orang yang datang untuk mengambil bola tersebut.
"Maaf saya tidak sengaja" kata pria tersebut, "Nona apakah anda baik-baik saja?" tanya pria tersebut mendekati Lidia.
Reflek tangan Jos memegang lengan pria tersebut, menahannya agar jangan mendekat pada Lidia.
"Jangan mendekat, pergilah...bawa bola anda, kalau bermain bola jangan terlalu keras melemparkannya, disini banyak pengunjung yang berlibur juga, bukan hanya anda saja!" kata Jos dengan tekanan nada tajam, matanya melebar tajam memandang pria tersebut.
"Maaf" pria tersebut jadi takut melihat tampang Jos yang marah.
Tubuh Jos yang tinggi dan kekar membuat pria tersebut gugup, dia tersadar dengan melihat penampilan Jos, dia tahu kalau Jos bukan pria sembarangan.
"Maafkan saya, kami akan pindah lokasi untuk bermain" kata pria itu undur diri.
"Bagus, pergilah!" kata Jos tajam.
Pria tersebut kemudian bergabung dengan teman-temannya yang lain, dan tampak mereka pergi dari sana.
Jos mendekati Lidia yang sudah duduk tegak memegang lengannya.
"Bagaimana keadaan anda Nona, apakah terluka?" tanya Jos khawatir.
Lidia membuka telapak tangannya yang menekan lengannya di bagian terkena bola tadi.
Jos melihat lengan Lidia memerah, dia yakin itu sangat sakit sekali dengan tubuh kecil dan tulang tangan Lidia yang langsing.
Mudah-mudahan tidak membengkak sama seperti kakinya yang keseleo.
Tidak tahu entah apa yang terjadi di diri Jos, dia merasa ada perasaan dekat dengan Lidia.
"Saya akan panggil Dokter kemari, tahan sebentar Nona, saya segera datang!" kata Jos lalu bergegas pergi untuk memanggil Dokter Resort.
Bersambung.....