Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
127. Lisa didalam sel sementara.


Lisa ditempatkan disel sementara, dia terus saja berteriak dan mengatakan bukan pembunuh.


Para Polisi yang bertugas tidak memedulikan teriakannya.


"Berisik!!" bentak seseorang dibelakang Lisa.


Lisa spontan tersentak mendengar bentakan tersebut, ternyata dia ditempatkan satu sel dengan beberapa tahanan wanita lainnya.


Karena ruangan sel sementara itu agak gelap, Lisa tidak melihat kalau dibelakangnya ada tiga tahanan wanita lainnya.


"Kalau berteriak lagi, akan ku pukul kepalamu!!" bentak wanita itu lagi.


"Tidak, jangan! aku hanya ingin di pulangkan, aku tidak bersalah karena itu aku berteriak agar dibebaskan!" kata Lisa gemetar.


Dia sangat benci dengan situasinya sekarang, dia adalah wanita terhormat dan bermartabat.


Tempat ini sangat menjijikkan, dia disatukan dengan para pembunuh dan kalangan bawah seperti ini.


Ini suatu penghinaan baginya.


Lisa merasa dirinya tidak sepadan dengan wanita-wanita tersebut.


"He! mana ada pembunuh mengakui kesalahannya, kita ini sama! aku juga tidak mengakui kalau aku telah membunuh suamiku!" kata wanita itu mendekati Lisa.


Lisa sontak mundur melihat wanita itu mendekati nya, tubuhnya tambah gemetaran.


"Jangan sok takut begitu padaku, Jangan-jangan kamu lebih menakutkan dengan apa yang terlihat sebenarnya, Nyonya kaya dengan uang yang banyak bisa melakukan apapun!!" ujar wanita itu sinis pada Lisa, tatapan matanya terlihat tajam menatap Lisa.


"Tidak! aku bukan yang seperti itu!!" kata Lisa panik.


"Benarkah?!" cibir wanita tersebut tidak percaya.


"Nyonya...polisi tidak bodoh asal menahan seseorang kalau tidak mendapat bukti yang kuat!" kata wanita itu menyeringai sinis.


"Tidak! tidak! aku bukan pembunuh!!" teriak Lisa histeris.


"Tolong! keluarkan aku dari sini, tolongg!!"


Prangg!!!


"Berisik!!" teriaknya marah.


"Sungguh menjengkelkan! membuat orang tidak bisa istirahat!!" bentak wanita lain dari kegelapan sel tersebut.


Lisa tersentak mendengar suara wanita lain dari dalam kegelapan sel tersebut.


"He! wanita tua! mau ku hajar ya!!" seorang wanita lain keluar dari gelapnya sel.


"Ti...tidak! maaf aku tidak sengaja, aku tidak mau tinggal disini, aku mau keluar!" kata Lisa ketakutan.


"He! wanita tua! kamu pikir kami juga mau dikurung disel ini, kamu bukan Nyonya lagi kalau sudah berada di sini! jangan bersikap manja, terima saja apa yang telah kamu perbuat, jangan merasa sok jadi korban!!" bentak wanita tersebut melotot pada Lisa.


Tubuh Lisa semakin gemetar, sial! kenapa aku bisa berakhir disini bersama para wanita-wanita menjijikkan ini! pikir Lisa sangat kesal.


"Kalau berteriak lagi jangan salahkan kami berbuat kasar padamu!" kata wanita itu dengan tajamnya.


Setelah berkata seperti itu diapun kemudian menendang jeruji besi dengan kuatnya, seolah-olah memberi kode pada Lisa kalau perkataannya benar-benar serius.


Pranggg!!!


Lisa tersentak begitu takutnya.


Kemudian kedua wanita tersebut kembali ke dalam gelapnya sel, kembali berbaring untuk melanjutkan tidur mereka.


Lisa gemetaran ketakutan, dia merasa sangat marah dan kesal dengan keadaannya sekarang.


Dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini, cukup lama dia aman tanpa ada yang bisa menyentuhnya.


Dia begitu marah kepada entah siapa dia, yang berhasil mengungkapkan perbuatannya yang sudah cukup lama tertutup dengan rapi.


Dia ingin memberi perhitungan pada orang tersebut, dia harus menyusun rencana agar bisa terbebas dari tuduhan ini.


Lisa mencoba untuk beradaptasi dengan ruang sel tersebut, dia harus bersabar, besok dia akan bebas.


Dia akan bicara pada pengacaranya besok, Lisa yakin rencananya akan berhasil dan dia akan bebas.


Bersambung.....