Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
160. Lidia marah.


Bernard memandang Darius yang tersungkur di tanah, dan perlahan mendekatinya.


"Apa maumu sebenarnya, bukankah kamu tahu istriku sudah memiliki suami, bukan lagi teman yang bisa seenaknya kamu ajak untuk reunian, aku tidak mengijinkan, aku tahu ada maksud dari tujuanmu sebenarnya!" kata Bernard dengan tajam.


Darius sontak mundur melihat Bernard datang mendekatinya.


"Katakan apa maumu!" bentak Bernard marah.


"Baik...baik akan kukatakan!" sahut Darius.


Lalu perlahan Darius bangkit, dan dengan sedikit sempoyongan Darius mencoba berdiri tegak.


"Dari seminggu lalu aku baru menyadari tentang perasaanku, kalau rasa sukaku pada Viona sudah bisa kuhilangkan walau sulit pada awalnya, dan sekarang aku menyadari perasaanku pada Lidia!" kata Darius menjelaskan, dia mengelap mulutnya dengan sapu tangannya.


Jos yang mendengar perkataan Darius mempunyai perasaan pada Lidia, membeku di tempatnya.


Dia diam-diam mengepalkan tangannya dengan erat, dia sangat kesal mengetahui Darius menyukai Lidia.


Entah kenapa perasaannya tidak menyukai pengakuan Darius tersebut, ada semacam tidak rela didasar hatinya.


Sementara Lidia sendiri terkejut mendengar perkataan Darius tersebut.


Semua mata memandang kearah Lidia.


Lidia jadi gugup melihat mata semua memandang kearahnya.


"Darius menyukaimu!" sahut Anna pada Lidia.


Perasaan Lidia campur aduk, dia dari dulu dan sampai sekarang hanya menganggap Darius sebagai teman saja.


Sekarang tiba-tiba Darius mengungkapkan perasaannya padanya, tentu saja Lidia terkejut.


"Lidia!" panggil Viona.


Lidia memandang Darius, dan dibalas oleh Darius juga.


"Darius, kita hanya teman, maaf aku tidak bisa menerima perasaanmu padaku, terimakasih sudah menyukaiku, tapi aku pikir kamu sungguh licik juga, setelah kamu ditolak Viona, sekarang kamu ganti menaruh perasaan mu padaku, bisa jadi satu bulan lagi setelah kutolak, kamu akan menyukai Anna, kita semua berteman, jadi seharusnya hanya berteman saja tidak lebih dari itu!" sahut Lidia menjelaskan pada Darius.


Jos diam-diam menghela nafas lega mendengar perkataan Lidia tersebut, dia sangat senang.


Bernard yang mendengar penjelasan Lidia tersebut pun merasa ada benarnya juga apa yang dikatakan Lidia.


Darius pria yang tidak bisa memegang komitmen dengan gigih, lelaki plin-plan.


Bernard mendekati Viona, dia senang kalau Darius sudah tidak memiliki perasaan lagi pada istrinya.


"Sayang..mana yang sudah matang, aku lapar, biarkan saja dia!" sahut Bernard mendekat pada Viona.


"Oh, iya ini sudah matang!" Viona mengambil daging sapi dan udang yang telah matang dari grill dengan penjepit.


Meletakkannya keatas piring bersih, lalu memberikannya pada suaminya yang telah duduk kembali.


Sementara Darius masih belum beranjak dari tempatnya, dia mendekati meja tempat berkumpulnya Bernard dan yang lainnya.


"Mau apa lagi kamu!" sahut Jos tiba-tiba berdiri melihat Darius yang mendekat.


"Apakah aku tidak diberi kesempatan untuk mengejarmu Lidia?" tanya Darius dengan wajah memelas.


"Bukankah tadi sudah jelas diberitahukan Nona Lidia, bahwa dia hanya bisa menganggap mu sebagai temannya saja!" sahut Jos mulai emosi.


Wajahnya terlihat sudah menggelap tidak senang.


"Nona? anda memanggil Lidia sebagai Nona, ternyata anda hanya sebagai pengawal saja, ku kira kalian ada hubungan spesial, ternyata hanya sebatas pengawal saja, ha..ha..haa!" sahut Darius tertawa lucu.


Wajah Lidia menggelap mendengar perkataan Darius tersebut, dia sangat marah Darius mengejek Jos.


Tanpa sadar Lidia menggenggam tangan Jos, menggenggamnya dengan erat.


Jos terkejut merasakan tangannya digenggaman oleh Lidia.


Bersambung......