Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
55. Resort yang mewah.


Mobil hitam tersebut meninggalkan halaman rumah Ayah Viona.


"Untuk sementara jangan berkunjung dulu kerumah Papa Mertua, kalau mau bertemu, nanti kita atur untuk mengundangnya kerumah kita saja!" kata Bernard pada Viona.


"Baik suamiku" angguk Viona menurut saja apa yang diusulkaan Bernard.


Mobil meluncur menuju luar kota.


"Kita mau kemana?" tanya Viona melihat keluar jendela mobil.


Sepertinya mereka sudah meninggalkan kota.


"Nanti juga kamu tahu" kata Bernard menoel ujung hidung Viona sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian mobil memasuki kawasan pantai. Dari jauh Viona melihat ada pembangunan Resort yang lumayan luas.


Mobil hitam tersebut berlahan parkir di area parkir pantai.


"Ayo turun!" ajak Bernard.


Bernard membantu Viona turun dari mobil, lalu seperti biasa selalu menggenggam tangan Viona.


"Ini...?" tanya Viona kebingungan. Apakah ini usaha yang dirintis oleh suamiku juga? pikir Viona menebak-nebak.


"Ini Resort yang sedang kukembangkan, daerah pantai ini sangat cocok untuk tempat hiburan dan berlibur!" kata Bernard seraya terus membawa istrinya tersebut lebih kedalam lagi untuk melihat pembangunan Resort.


"Sudah mulai selesai sebagian.." kata Viona memperhatikan area bangunan yang terlihat mewah.


"Iya, itu kamar Resort, sebelah sana Restoran.. yang sebelah itu Meeting room!" kata Bernard menunjuk fasilitas Resort yang baru selesai.


"Desainnya sangat mewah!" kata Viona mengagumi cara mendesain letak dan bentuk Resort tersebut.


Desain kamar Resort yang terbuat dari kaca anti pecah, Viona menduga ini Resort pasti untuk kalangan orang kaya.


Biaya untuk berlibur disini pasti mahal, hanya khusus bagi mereka kalangan orang elite.


"Bagaimana menurut istriku, apakah desainnya bagus?" tanya Bernard.


"Iya sangat cantik dan terlihat mewah!" kata Viona mengangguk.


Membuka pintu kamar, dan memperlihatkan desain didalam kamar tersebut.


"Wah, sangat mewah!" kata Viona tanpa sadar.


Fasilitas kamar tersebut sudah lengkap, sudah ada tempat tidur king size, sofa, kulkas, lemari pakaian yang besar, meja kerja lengkap dengan laptop yang telah tersedia diatas meja, dan kamar mandi.


Dinding kamar yang terbuat dari kaca anti pecah dapat melihat langsung laut yang sangat indah, ini benar-benar tempat liburan yang mewah.


"Ini tempat liburan yang sangat mewah " kata Viona terkagum-kagum, "Apakah seperti ini juga dengan kamar lainnya?" tanya Viona.


"Iya, tiga puluh kamar, semuanya sudah lengkap, yang belum Lobby resort, fasilitas hiburan dan olahraga, masih tahap perbaikan, mungkin perlu dua bulan lagi baru selesai!" kata Bernard.


Viona tidak percaya suaminya mempunyai banyak usaha, Bernard yang dikenal banyak orang yang seperti pecundang ternyata seorang yang pandai berbisnis.


Tok.. tok


Pintu kamar Resort ada yang mengetuk, kemudian pintu terbuka.


Seorang pria berpakaian formal masuk kedalam kamar, lalu dengan sopan membungkukkan sedikit tubuhnya menghadap Bernard.


"Tuan Bernard, maaf! saya tidak bisa mengatasi mereka, mungkin anda yang harus turun untuk membungkam mereka!" kata pria tersebut.


Viona melihat pria itu sepertinya berkeringat, ia tampaknya tergesa-gesa menemui Bernard.


Wajah Bernard terlihat dingin, gerahamnya mengetat.


Bernard meraih tangan Viona, membawanya keluar kamar, dan kemudian diikuti pria tersebut dibelakang mereka.


Bernard menuju mobilnya, disamping mobil telah menunggu beberapa Bodyguard nya.


Salah satu Bodyguard membukakan pintu mobil untuk Bernard dan Viona.


Viona melihat mobil hitam sudah ada banyak terparkir disana, sewaktu mereka tadi datang, mobil-mobil tersebut belum ada.


Bersambung....