Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
155. Lidia peduli pada Jos.


Mereka saling memandang satu sama lain, mata mereka begitu lekat saling memandang.


Lidia ingin memberikan satu pelukan pada Jos, seumur hidupnya pasti belum pernah menerima pelukan hangat dari seseorang.


Lidia tidak tahu apa yang terjadi padanya, dia merasakan keinginan yang begitu kuat ingin meraih Jos, ingin memeluk tubuh kekar Jos dan mengelus punggung Jos dengan lembut.


"Nona" gumam Jos pelan.


Jantung Jos berdegup kencang, dia merasa sepertinya tidak sopan menatap mata indah Lidia begitu lekat.


Dia ingin memalingkan wajahnya untuk menghindari menatap mata Lidia, tapi rasanya lehernya begitu berat digerakkan.


Dia seakan terhipnotis menatap mata Lidia.


Lidia mencoba untuk berdiri.


"Apa yang anda lakukan Nona!" tiba-tiba Jos panik melihat Lidia bangkit berdiri.


Reflek Jos menangkap tangan Lidia yang mencoba berdiri.


Keinginan Lidia akhirnya terwujud, tangannya meraih tubuh kekar Jos.


Dan kemudian memeluk Jos dengan erat, melingkarkan tangannya ketubuh Jos.


Jantung Jos semakin berdegup kencang, kakinya gemetar gugup.


Apa yang terjadi? pikirnya.


Jos tidak berani membalas pelukan Lidia, kedua tangannya dia jauhkan dari tubuh Lidia yang sedang memeluk dirinya.


"Jos" gumam Lidia.


"Iya Nona" jawab Jos pelan.


"Aku..aku turut prihatin padamu, aku merasa sedih" gumam Lidia semakin erat memeluk Jos.


"I..iya, terimakasih Nona...itu sudah lama, saya sekarang sudah terbiasa, tidak perlu sedih lagi" kata Jos semakin gugup.


Mendengar perkataan Jos tersebut, Lidia semakin erat memeluknya, wajahnya menempel didada Jos, dan aroma tubuh Lidia semakin jelas tercium oleh hidung Jos.


"Tapi aku merasa kalau kamu baru saja mengalaminya" kata Lidia memejamkan matanya, tanpa sadar meresapi rasa hangat dari tubuh Jos.


Sangat nyaman dan merasa seperti terlindungi.


Jos membiarkan Lidia memeluk tubuhnya untuk beberapa saat.


Dia merasakan tangan Lidia mengelus punggungnya.


Jos semakin gugup, dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Lidia padanya.


Lidia mencoba menghiburnya.


Lidia adalah teman Nyonya nya, tidak sopan untuk membalas pelukan Lidia.


Jos membiarkan Lidia melampiaskan perasaannya yang sedih.


"Pasti perasaanmu sedih tidak pernah mengetahui siapa orang tuamu..dan sedih tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua, dan pasti ada kerinduan ingin merasakan kasih sayang dari orang yang kamu cintai" kata Lidia.


Lalu melepaskan pelukannya, Lidia mendongakkan kepalanya menatap Jos.


Jos menunduk menatap mata Lidia yang masih memerah.


"Perasaan itu sudah lama hilang Nona, saya sekarang sudah menjadi pria dewasa, dan mandiri...Nona jangan bersedih, saya sudah terbiasa, itu hanya masa lalu" kata Jos.


"Iya kamu benar, tapi entah kenapa aku bisa membayangkan Jos kecil, sendiri tanpa pernah merasakan kasih sayang orang tuanya membuat aku jadi begitu iba" kata Lidia pelan, lalu menghela nafas membuang rasa sedihnya.


Lidia masih memegang Jos.


Dan Jos tidak berani bergerak, tangannya masih dia buat selebar mungkin agar jangan sampai menyentuh Lidia.


Jos membiarkan Lidia memegang tubuhnya, karena kaki Lidia satu tidak menginjak lantai kamar.


"Apakah anda sudah baikan Nona?" tanya Jos hati-hati.


"Iya sudah?" angguk Lidia.


"Apakah saya perlu membantu anda naik ketempat tidur anda, Nona?" tanya Jos.


"Iya, mau!" Lidia mengangguk.


"Oke, baik..maaf kalau saya bersikap lancang, saya akan membopong anda ketempat tidur Nona" kata Jos dengan nada sedikit gugup.


"Iya..tidak apa-apa!" kata Lidia.


Jos kemudian mengangkat Lidia, dan Lidia reflek mengalungkan tangannya memeluk leher Jos.


Dan wajah mereka pun berdekatan satu sama lain.


Nafas Lidia terasa meniup wajah Jos, dan itu membuat telinga Jos memerah.


Dengan kaki panjangnya Jos membawa Lidia ketempat tidurnya, dan meletakkan tubuh Lidia dengan hati-hati.


Lidia masih mengalungkan tangannya dileher Jos tanpa ada niat untuk melepaskannya.


Lidia merasa semakin nyaman dekat dengan Jos.


"Nona" kata Jos pelan.


Dia telah meletakkan tubuh Lidia ditempat tidur, tapi Lidia belum melepaskannya.


Bersambung....