Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
143. Anna keceplosan...


Viona membalikkan tubuhnya menghadap Bernard, dia tersenyum mengelus rahang suaminya yang tegas.


"Kak..kamu benar-benar mengidam!" kata Viona dengan perasaan geli.


"Iya sayang!" kata Bernard ikut tersenyum, dia menarik tubuh Viona merapat padanya.


Bernard mengecup kening Viona, lalu ujung hidungnya dan turun ke bibirnya.


Mengulum sebentar bibir ranum istrinya tersebut, lalu melepaskannya.


"Kalau kakak ingin buah, aku akan pesanku pada Lidia dan Anna untuk mampir membeli buah sebentar baru datang kemari!" kata Viona meraih ponselnya.


Masih dalam pelukan Bernard, Viona menekan nomor Lidia.


"Tolong mampir ke supermarket sebentar untuk membeli buah, untuk buat rujak, dan jangan lupa bumbunya yang pedas ya!" Viona meletakkan ponsel kembali kesamping.


"Mereka lagi dijalan, dan kebetulan melewati supermarket, mereka akan beli sesuai apa yang kukatakan!" kata Viona.


"Iya sayang"


Bernard kemudian duduk tegak dari berbaringnya, dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Jos agar menyediakan kamar untuk teman Viona.


"Ayo ku bantu untuk membersihkan badan, sebenar lagi sudah mau makan malam"


Setelah mematikan ponselnya, Bernard bangkit dari duduknya untuk membantu Viona bangkit dari berbaringnya.


Mengambil sandal untuk dikenakan Viona.


Sekitar satu jam kemudian mereka telah duduk di taman untuk menikmati makan malam.


Meja panjang dengan sepuluh kursi telah terisi penuh.


Manajer restoran Resort yang datang langsung melayani mereka, membawa pesanan makan malam mereka dibantu dengan oleh beberapa pelayan.


Buah yang dipesan Bernard juga telah tersedia diatas meja dengan bumbu pedas untuk makan penutup Bernard.


Lidia dan Anna hanya bengong saja mengetahui ternyata rujak tersebut untuk suami Viona.


Mereka tidak percaya bahwa Bernard yang mengidam, bukan Viona sebagaimana umumnya bagi Ibu hamil.


"Selamat ya Vio, atas kehamilan kamu!" kata Anna.


"Iya, terimakasih!" kata Viona, "Oh, iya bagaimana dengan pekerjaanmu yang diluar negeri Lidia, apakah sudah bisa pindah untuk bekerja kembali ke kota kita?" tanya Viona.


"Mungkin dua minggu lagi!" kata Lidia.


"Bagaimana dengan lelaki itu apakah kamu jadi pacaran dengannya?" tanya Viona.


"Lelaki yang mana, aku tidak ada dekat dengan lelaki manapun!" kata Lidia.


"Darius?" tanya Viona tersenyum memandang Lidia.


"Tidak, bukan aku...Anna, dia dekat dengan Darius!" kata Lidia dengan cepat, sampai tangannya dia lambaikan ke kiri dan kanan dengan cepat.


"Bukan! aku juga tidak!" kata Anna dengan cepat juga.


"Jadi siapa dong, kalau bukan kalian berdua, kalian kan selalu akrab dengan Darius!" kata Viona tersenyum geli melihat tingkah kedua temannya tersebut.


"Darius kan suka nya sama kamu, Viona!" kata Anna.


"Eh...!" Anna spontan menutup mulutnya.


Anna dan Lidia tiba-tiba membeku ditempatnya, saat Anna mengatakan Darius suka pada Viona.


Wajah Bernard terlihat menggelap mendengar nama pria lain menyukai istrinya.


Anna dan Lidia jadi gugup, Anna tidak sadar keceplosan mengatakan Darius suka sama Viona.


Mereka ingat bagaimana marahnya Bernard waktu itu menghajar wajah Darius, karena mencoba menarik perhatian Viona.


"I..itu masalah lalu, sekarang kami tidak ada dekat lagi dengan Darius, tidak tahu dia sekarang ada dimana, tidak pernah lagi saling sapa!" kata Lidia gugup, mereka gemetar melihat aura Bernard yang menakutkan.


Suasana jadi terasa sangat dingin.


Lidia dan Anna menundukkan wajah mereka merasa bersalah karena telah salah bicara.


Viona menyentuh tangan Bernard yang bertengger diatas meja dengan lembut, meremas jemari suaminya untuk mencairkan perasaannya yang tidak senang dengan perkataan Anna tadi.


Viona tahu suaminya sangat cemburu kalau mengetahui ada pria lain menyukai dirinya, walaupun dia tidak ada terlihat jalan dengan lelaki tersebut.


Bersambung.....