
Viona membuat mie buatan tangan yang diinginkan Bernard.
Dengan setia Bernard menunggu Viona membuat mie tersebut, dia sangat kagum melihat tangan istrinya begitu cekatan mengerjakan bahan makanan tersebut.
Perut Bernard benar-benar sudah sangat lapar, tidak tahu entah kenapa bisa begini.
Belum pernah dia merasakan begitu lapar seperti ini.
Dengan setia dan menahan lapar, Bernard dengan sabar menunggu Viona membuat mie tersebut.
Selang lima belas menit mie pun akhirnya selesai dibuat, dan kuah yang diracik Viona terasa sangat wangi menambah perutnya semakin berbunyi kelaparan.
Viona meletakkan semangkuk besar mie dihadapan Bernard.
Bernard memandang mie tersebut, dengan toping beberapa iris daging, tomat, dan daun bawang, benar-benar sangat menggiurkan.
Bernard mengambil sumpit, dan mulai mencicipi mie tersebut.
Dia tidak percaya, begitu disentuh lidahnya, ini sungguh sangat enak! pikir Bernard begitu senangnya.
Dia dengan lahap memakan mie tersebut.
"Kak...hati-hati, masih panas!" kata Viona mengingatkan Bernard.
Bernard tidak mendengarkan Viona, dia sudah sangat lapar. Lapar sekali.
Viona membuat susu hangat untuk Bernard, dan menaruhnya didepan suaminya tersebut.
Bernard merasa mienya terlalu sedikit, dia meminta Viona membuat lagi mie untuknya.
Viona menuruti Bernard, membuat lagi mie tersebut.
Bernard menghabiskan tiga mangkuk mie, dan dua gelas susu hangat.
Viona sangat heran pada suaminya itu, nafsu makannya tidak seperti biasanya.
"Kak, apa yang terjadi padamu? kenapa nafsu makan mu tidak seperti biasanya?" tanya Viona terheran-heran.
"Tidak tahu sayang, bangun tidur aku merasa tidak enak, terus..langsung kelaparan!" kata Bernard.
"Apakah sekarang sudah agak mendingan?" tanya Viona.
"Iya, sudah!" jawab Bernard.
Viona membereskan dan mencuci bekas peralatan masakan yang dipakainya.
Suara ketukan di pintu ruang dapur terdengar.
"Tuan" panggil Jos.
Bernard menoleh pada Jos.
"Baik!" jawab Viona.
Bernard dan Jos pergi, dan Viona kembali melanjutkan pekerjaannya.
Bibi Rose masuk ke dapur dan ikut membantu Viona beres-beres.
"Tuan sangat menyukai masakan anda Nona" kata Bibi Rose.
"Ya Bi, padahal aku merasa masakanku biasa-biasa saja!" kata Viona.
"Biasa, tetapi penuh cinta cara buatnya Non, makanya terasa sangat enak di lidah Tuan Bernard!" kata Bibi Rose.
Viona tertawa kecil mendengar perkataan Bibi Rose, penuh cinta ya! pikir Viona.
"Ini ada buah melon dan semangka dari kebun belakang, baru dipetik dan masih segar" kata Bibi Rose.
Viona melihat buah melon dan semangka tersebut besar juga.
Tukang kebun Bernard ternyata sangat pandai merawat tanaman, terlihat dari buah tersebut.
"Aku akan buat jus untuk Tuan" kata Viona setelah berpikir sebentar untuk mengolah buah tersebut.
"Saya akan bantu untuk memotongnya!" kata Bibi Rose.
"Terimakasih Bi" kata Viona, lalu mengelap tangannya yang basah.
Setelah Bibi Rose memotong dan membersihkan buah tersebut, Viona pun membuat jus.
Viona kemudian membawa jus tersebut keruang kerja suaminya.
"Benar seperti dugaan anda Tuan, berkasnya sudah saya fotocopy, untung pria tersebut masih ingat apa yang terjadi waktu itu"
Viona mendengar perkataan Jos saat dia akan membuka pintu ruang kerja suaminya yang sedikit terbuka.
Viona merasa dia sepertinya sangat lancang untuk mendengarkan pembicaraan suaminya, yang menurutnya sangat konfidensial.
Viona berbalik lagi keruang tengah, nanti saja dia akan datang lagi.
"Sayang...!" baru saja kakinya akan berbalik, terdengar suara Bernard memanggil dirinya.
Bernard terlihat membuka pintu ruang kerjanya lebar-lebar.
"Kenapa tidak masuk? apa yang kamu bawa?" tanya Bernard beruntun.
Bernard terlihat sangat senang melihat jus yang dibawa istrinya tersebut.
Viona merasa bersalah karena ketahuan sama suaminya.
Bersambung....