Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
177. Anna ketakutan.


Leo semakin tegang diam tidak berani bergerak ditempatnya, melihat wajah Anna begitu sangat dekat dengan wajahnya.


"Kak..!" Anna menjadi khawatir karena Leo tidak bergerak dan tidak ada reaksi apapun.


Tangannya memegang wajah Leo, menangkup wajah Leo kedalam kedua telapak tangannya.


"Kak..!!" Anna semakin khawatir, suaranya setengah histeris ketakutan karena Leo tidak juga bersuara.


"Iya..aku baik-baik saja!" akhirnya Leo bersuara, dia tersadar dengan suara histeris Anna.


Dia tidak menyangka Anna begitu ketakutan melihat dia tidak bergerak.


Anna tiba-tiba memeluk Leo dengan erat, dan Leo kembali membeku ditempatnya berbaring.


Anna menangis.


Anna tadi ketakutan melihat Leo tidak bergerak, dia teringat pada kakak lelakinya yang dulu pernah meninggal di depan matanya.


Kakak lelaki satu-satunya putra Ayahnya yang dibanggakan oleh Ayahnya, untuk penerus marga dari Ayahnya.


Kakaknya meninggal saat menolongnya nyaris tertabrak mobil sewaktu pulang sekolah.


Anna tidak melihat mobil truk yang melaju kencang saat akan menyeberang jalan.


Untung Kakaknya melihat mobil truk yang melaju kencang tersebut, tapi malah kakaknya yang tertabrak untuk menyelamatkannya.


Anna melihat dengan mata kepalanya sendiri kakaknya meregang nyawa di depannya.


Anna semakin erat memeluk Leo sembari menangis histeris, bayangan kakaknya terlintas di benaknya membuat dia ketakutan.


"Nona...saya baik-baik saja, jangan lagi menangis!" kata Leo menenangkan Anna.


Leo merasa sangat canggung sekali dengan keadaan ini, tangannya tidak berani untuk menyentuh tubuh Anna.


Anna masih menangis sembari memeluk Leo erat, tubuhnya seperti koala bergelung di atas tubuh Leo yang besar, melingkarkan tangannya di sekitar rusuk Leo.


Akhirnya Leo memberanikan diri untuk memeluk Anna, dia mencoba untuk menenangkan Anna yang masih menangis.


"Nona.." tangan Leo perlahan memeluk tubuh mungil Anna, mengelus punggung Anna dengan lembut.


Dan Anna pun berangsur-angsur mulai tenang, tangisnya mulai reda.


Tindakan Leo tersebut membuat Anna semakin tenang dan berhenti dari tangisannya.


Tubuh Anna terasa rileks, dan dia diam beberapa saat untuk menenangkan perasaannya yang ketakutan tadi.


Anna mengangkat wajahnya yang terbenam didada Leo, perlahan memandang wajah Leo yang terlihat tidak begitu jelas di kegelapan karena hari sudah malam.


Lama Anna menstabilkan tatapannya untuk memastikan wajah Leo jelas dalam pandangannya.


"Aku kira kak Leo pingsan dan cedera!" gumamnya dengan nada yang terdengar begitu khawatir.


Leo tanpa sadar menelan ludahnya gugup, seumur hidupnya belum ada seseorang yang khawatir padanya seperti Anna.


Dia sudah biasa hidup sendiri semenjak dibawa Bernard ke pulau untuk menjadi anggota Bodyguard.


Dia sudah tidak pernah lagi bertemu dengan keluarga nya semenjak Ibunya menelantarkannya.


Dan tidak pernah lagi merasakan artinya akan perhatian dan rasa khawatir dari seseorang, semenjak Ayahnya meninggal.


Perasaan Leo campur aduk melihat Anna yang ketakutan melihat dia mengalami cedera.


Perasaan untuk mengharapkan ada seseorang yang peduli padanya, terasa mulai ada sedikit harapan itu ingin dirasakannya.


Leo merasakan tangan kecil Anna memegang wajahnya, tangan itu begitu lembut menyentuh kulit wajahnya.


Dada Leo bergetar, matanya panas.


Ada semacam kebahagiaan di sudut hatinya yang paling dalam, dan rasanya ingin meledak.


"Ayo berdiri kak!" sahut Anna menarik tangan Leo untuk bangkit.


Sementara dia sendiri lupa untuk bangkit dari atas tubuh Leo.


Leo tidak ingin mengatakan kalau Anna menyingkir lebih dulu dari atas tubuhnya, dia membiarkan saja Anna duduk di perutnya.


Leo perlahan bangkit dari berbaringnya.


Sementara di jalan macet belum juga normal seperti semula.


Bersambung.....