Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
83. Akhirnya bertemu dengan teman masa kecil.


Bernard semenjak menikah, baru dua kali dengan yang sekarang berkunjung ke rumah istrinya.


Dan Bernard pun sebenarnya belum begitu mengenal keluarga istrinya tersebut.


Bernard mengedarkan pandangannya melihat sekitar rumah Viona, rumah yang tidak begitu besar.


"Kamar Viona ada gambar hello kitty di pintu kamarnya!" kata Tuan Philip pada Bernard.


"Baik Papa Mertua!" kata Bernard mengangguk.


Bernard menaiki tangga yang sempit menuju lantai dua.


Di lantai dua ternyata khusus hanya untuk ruang kamar saja.


Dan lorongnya pun sempit, hanya cukup untuk satu orang berjalan.


Bernard mencari pintu yang mempunyai gambar hello kitty.


Ada empat kamar dilantai atas.


Akhirnya diapun menemukan kamar yang pintunya ditempeli gambar hello kitty.


Perlahan Bernard membuka pintu kamar tersebut, dan kemudian mendorong daun pintu semakin lebar terbuka.


Ruang kamar terlihat sempit, dan tempat tidurnya juga kecil.


Bau aroma tubuh istrinya masih terasa dikamar tersebut.


Bernard mengedarkan pandangan nya ke sekitar ruang kamar Viona.


Dia melihat foto Viona di lemari belajar disudut kamar.


Bernard meraih foto tersebut.


Sepertinya foto sewaktu Viona remaja, terlihat sangat muda sekali, dan cantik.


Bernard tersenyum melihat foto istrinya saat remaja, terlihat sangat imut sekali.


Bernard meletakkan foto tersebut kembali keatas meja belajar istrinya.


Bernard kemudian duduk di tepi tempat tidur istrinya yang kecil.


Wajahnya terlihat senang bisa berada dikamar istrinya, disinilah istrinya tinggal dan hidup selama ini.


Ada rasa senang bisa melihat-lihat isi kamar Viona.


Bernard melihat sebuah album di rak buku Viona yang kecil.


Bernard bangkit, dan berjalan ke rak buku tersebut, lalu meraih album foto tersebut.


"Ini sepertinya foto-foto istriku semasa kecilnya" gumam Bernard tersenyum, matanya terlihat berbinar membuka album foto itu.


Dari warna album foto tersebut terlihat sudah usang, jelas terlihat kalau itu foto-foto yang sudah lama sekali.


Bernard penasaran melihat wajah masa kecil istrinya yang imut.


Bernard membuka satu persatu album tersebut.


Tampaklah foto-foto masa kecil istrinya yang imut.


Wajahnya tersenyum melihat gadis kecil didalam album tersebut, sangat lucu dan menggemaskan.


Pipinya yang tembam sangat imut, sedari kecil istrinya sudah terlihat sangat cantik.


Bernard begitu tidak bosannya melihat foto-foto masa kecil istrinya, membolak-balikkan foto itu berulang kali.


Tapi lama kelamaan dia merasa foto-foto itu seperti familiar.


Bernard merasa sepertinya pernah melihat gadis kecil tersebut, tapi dimana?


Bernard terus membolak-balikkan album foto tersebut.


Dan sampailah dia di satu foto, di bagian lembar akhir album.


Gadis kecil tersebut berdiri disisi seorang wanita dewasa, yang Bernard ingat wanita itu pernah datang melayat Ibunya saat meninggal bersama gadis kecil yang berdiri disampingnya.


Tubuh Bernard membeku, matanya nanar melihat foto tersebut.


Tangannya tiba-tiba gemetar.


Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Bernard ingat betul wajah wanita tersebut, karena waktu itu dia sudah cukup umur sebagai anak lelaki untuk mengingat masa kecilnya.


Benar! wanita itu! bersama gadis kecil yang tersenyum manis itu.


Kaki Bernard lemas, dia tidak mempercayai penemuannya ini.


Apakah...apakah gadis kecil ini dalah istriku? bisik hatinya tidak percaya.


Bernard menghempaskan bokongnya keatas tempat tidur Viona.


Mata Bernard tidak berpaling menatap foto gadis kecil bersama wanita tersebut.


Apakah ini Mama Mertuaku? pikir Bernard bergetar, tangannya yang memegang album tersebut, tiba-tiba gemetar begitu gugupnya.


Tidak mempercayai penemuannya ini.


Mata Bernard terasa berkabut, pria bertato itu benar-benar tidak mempercayai apa yang dilihatnya.


Dadanya ada semacam luapan yang tidak bisa di ungkapkannya.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka.


Kepala Bernard reflek berputar menoleh kearah pintu kamar Viona yang terbuka.


Didepan pintu yang terbuka masuklah istrinya, dengan senyuman manisnya yang begitu menawan.


"Suamiku, ternyata kamu disini" kata Viona melangkah mendekat pada Bernard.


Tapi Viona kemudian terheran melihat perubahan wajah suaminya yang tampak lain.


Sementara itu Bernard melihat Viona tidak berkedip.


Gadis kecil yang dulu sangat dirindukannya ternyata adalah istrinya.


Bernard tidak tahu lagi, bagaimana untuk mengungkapkan perasaannya yang begitu sangat bahagia.


Ditatapnya istrinya tanpa berkedip, Bernard melihat istrinya seolah melihat Ibunya.


Ya, Viona adalah teman Ibunya.


Bernard melemparkan album tersebut ke atas tempat tidur, lalu dengan cepat berdiri.


Bernard meraih tangan Viona, dan menarik tubuh istrinya masuk kedalam dekapannya.


Memeluk istrinya tersebut dengan begitu eratnya, dan air matanya pun tanpa disadarinya mengalir dari sudut matanya.


Bernard menangis.


Bersambung.....