Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
118. Lisa panik.


Lisa dengan cepat merobek foto tersebut, lalu membuangnya ke tong sampah.


"Jelaskan padaku Lisa, siapa kedua pria didalam foto tersebut?" tanya William.


"Bukan siapa-siapa, itu pasti hasil editan!" kata Lisa gemetar.


Sial! siapa yang ingin membongkar masa lalu ku, itu sudah cukup lama! pikir Lisa.


Jangan harap bisa mengalahkan ku! sudah empat puluh tahun aku mengubur masalah itu, semuanya baik-baik saja! pikir Lisa lagi.


"Itu bukan hasil editan, itu foto asli yang cetak ulang, apa kamu memang menyimpan rahasia selama ini padaku?" tanya William.


"Tidak suamiku, mana mungkin aku menyimpan rahasia padamu, aku sangat mencintaimu, sudah lama kita berumahtangga, apa kamu tidak percaya padaku?" kata Lisa dengan suara lembut merangkul tangan William, dia bergelayut dengan manja.


"Pasti ada sesuatu, kenapa kamu langsung robek foto itu tanpa harus kamu lihat dulu, dan langsung mengatakan itu hasil editan?"


"Tidak! bukan seperti itu, a..aku terkejut saja mungkin ada orang yang berbuat jahat pada kita!" kata Lisa sembari tersenyum.


"Kamu sepertinya ketakutan ya?" tanya William.


"Ti..ti..tidak! aku tidak takut!" Lisa menggeleng kepala.


Tanpa sadar Lisa menelan ludah karena gugup.


"Tuan, ini ada kiriman surat lagi!" kata petugas keamanan Mansion.


"Sini biar aku saja yang buka!" kata Lisa bergegas mengambil amplop tersebut.


Lisa cepat-cepat membuka amplop tersebut, dan didalam dia melihat ada secarik dan flashdisk.


Lisa langsung pucat melihat benda tersebut, Jangan-jangan itu sebuah rekaman hasil kejahatan yang dia lakukan empat puluh tahun yang lalu.


"Apa isinya?" tanya William menghampiri Lisa.


"Tidak ada, hanya secarik kertas lagi!" kata Lisa dengan cepat.


"Coba sini kulihat!" kata William mengulurkan tangannya.


"Sama juga isinya!" kata Lisa, dia sangat gugup.


Bagaimana ini! pikirnya gemetar.


"Kemari kan, sini!" William mengambil amplop dari tangan Lisa.


Sontak membuat Lisa semakin gemetar dan gugup.


William membuka amplop, dan memang benar ada secarik kertas dan...flashdisk.


William mengambil flashdisk tersebut, lalu menarik surat itu.


William membaca tulisan diatas kertas tersebut.


Semua orang di dalam ruangan tersebut terkaget mendengar William membaca surat itu.


Ruang tengah hening.


Lisa dengan cepat meraih flashdisk tersebut dari tangan William.


Tapi William menggenggam erat benda kecil tersebut didalam telapak tangannya.


Dia semakin curiga pada istrinya tersebut, gelagatnya agak mencurigakan.


"Tadi kamu bilang hanya surat saja, ternyata ada flashdisk didalamnya!" kata William penuh selidik.


"Aku tidak melihat flashdisk itu ada di sana!" kata Lisa semakin gugup, lututnya bergetar menahan tubuhnya yang mulai ketakutan.


"Ayo, kita lihat apa isi flashdisk ini!" kata William, lalu bergegas mengambil laptopnya.


"Tunggu! Jangan dilihat, mungkin itu jebakan!" teriak Lisa spontan.


Semua melihat Lisa terkejut, mereka melihat wajah Lisa terlihat panik.


"Ada apa denganmu?" tanya William semakin curiga saja.


"Tidak! tidak! jangan dilihat, itu mungkin seseorang mencoba untuk menghancurkan rumahtangga kita!" kata Lisa semakin panik.


"Kita lihat dulu, Ayo!" kata William.


William meletakkan laptop diatas meja, membukanya, lalu memasukkan flashdisk.


Lisa sudah sangat gelisah ditempatnya berdiri, dia tidak berani melihat ke layar laptop.


William, Morgan, Andreas dan Lidia fokus melihat ke layar laptop.


Dilayar terlihat Lisa sangat muda sekali.


Lisa duduk di bar di sebuah ruang VIP bersama beberapa wanita dan lelaki.


Terlihat mereka sedang minum, lalu pintu ruang tersebut terbuka.


Dan tampak masuk seorang lelaki yang mirip dengan Morgan, melangkah mendekati Lisa.


Lalu duduk disisi Lisa, dan terlihat Lisa tersenyum pada lelaki tersebut.


Dan kemudian tampak mereka berciuman.


Mata William terbelalak melihat adegan tersebut.


Begitu juga ke-tiga anaknya.


Bersambung.....