Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
93. Penyerangan.


Pintu gerbang besi perlahan terbuka, dan mobil anti peluru tersebut keluar dari halaman Mansion.


Leo bersama seorang Bodyguard membawa Viona ke kota.


Hari tampak cerah, jalan yang sepi tampak begitu terasa damai.


Mobil meluncur dengan mulus diatas aspal.


Dibelakang mereka ada mobil lain yang tampak berjalan cukup kencang, seolah-olah ingin mendahului mobil yang dikendarai oleh Leo.


Leo dengan santai membiarkan saja mobil dibelakang mereka untuk mendahului mobilnya.


Mobil tersebut pun melewati mereka.


Tapi tiba-tiba, mobil tersebut berhenti didepan mereka menghalangi jalan mereka.


Leo mendadak mengerem mobilnya.


Viona menjerit kaget.


Leo memperhatikan apakah mobil yang didepan mereka mogok atau bukan.


Ternyata tidak.


Pintu mobil terbuka, dan beberapa pria kekar seperti Leo keluar dari dalam mobil tersebut.


Mereka ada lima orang.


Viona yang duduk dibelakang terkejut melihat orang-orang tersebut.


Tiba-tiba berhenti menghalangi jalan mereka, sepertinya ingin melakukan sesuatu pada mereka.


"Siapa mereka?" tanya Viona mulai ada rasa takut.


"Orang-orang yang mau cari masalah!" jawab Leo.


Diantara mereka tampak ada yang mambawa stik bisbol.


Leo dan rekannya yang berada dalam mobil terlihat tenang melihat kelima orang yang turun mendekati mobil mereka.


"Nyonya...tolong pakai sabuk pengaman anda!" kata Leo masih dengan tenangnya.


"Baik!":jawab Viona, tangannya tampak mulai gemetar.


"Nyonya, apapun yang terjadi, tenang saja, aku pastikan anda akan tetap aman!" kata Leo.


"Baik!" angguk Viona patuh.


Dia harus kuat mental menghadapi hal semacam ini.


Dia istri seorang pemimpin kumpulan bawah, dia harus berani melihat adegan kekerasan yang akan sering dia saksikan.


Leo dan rekannya juga terlihat mulai mengencangkan sabuk pengaman mereka.


Kelima pria tersebut sudah mulai mendekati mobil Leo.


Leo memegang stir dengan erat.


Leo dengan kecepatan penuh mengemudikan mobilnya kearah kelima orang tersebut.


Dan terdengar lah suara benturan yang keras, dan mobil Leo pun menabrak mobil yang menghadang ditengah jalan tersebut.


Viona memegang sabuk pengamannya dengan erat.


Kepalanya terhuyung ke depan, tapi tubuhnya tetap duduk dengan tegak di kursi.


Terasa guncangan yang keras karena menabrak mobil yang menghalangi mobil mereka.


Mobil tersebut terpental ke sisi jalan.


Viona menoleh kebelakang, terlihat beberapa pria yang tadi mau menyerang mereka sebagian terkapar dijalan.


Jantung Viona berdegup kencang melihat kejadian tersebut.


Dia tidak menyangka akan mengalami penyerangan ditengah jalan.


Siapa mereka? apakah mereka ingin menargetkan dirinya?


Tubuh Viona bergetar, dia ketakutan.


Nyawanya terancam, sewaktu-waktu tanpa dia sadari bisa jadi ada seseorang menyerangnya dimana saja.


"Apakah anda baik-baik saja Nyonya?" tanya Leo melihat Viona melalui kaca spion.


"I..iya, aku baik-baik saja!" angguk Viona menelan ludah.


"Sepertinya itu orang-orang yang ingin menyingkirkan Tuan Bernard, mereka melihat Nyonya didalam mobil!" sahut Leo.


Jantung Viona pun kembali berdetak begitu kencangnya.


Benar juga dugaannya.


"Jangan khawatir Nyonya, kami akan melindungi anda, kami akan menjaga anda selalu aman!" kata Leo.


"Terimakasih!" jawab Viona gemetar.


Akhirnya mereka pun sampai di kota.


Viona memberitahukan alamat yang akan dia tuju.


"Kami akan menunggu anda Nyonya, gunakanlah waktu anda dengan nyaman, jangan beritahukan kejadian tadi pada siapapun!" kata Leo.


"Baik!" angguk Viona.


Dia pun turun dari mobil.


Viona memeriksa bumper mobil tersebut, tidak ada lecet sedikitpun.


Ternyata mobil itu telah dirancang sedemikian rupa, seperti mobil Tank.


Bersambung....