Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
36. Akhirnya terbongkar juga.


Bernard meletakkan Viona dengan lembut ke lantai berkarpet kamar mereka.


Kemudian mengunci pintu kamar.


"Ayo sikat gigi dan berganti baju tidur!" kata Bernard menarik tangan Viona masuk ke kamar mandi.


Viona menuruti ajakan suaminya.


Mereka sikat gigi, setelah itu berganti pakaian dengan pakaian tidur.


Mereka pun naik ke tempat tidur setelah Bernard mematikan lampu kamar, dan mengganti lampu tidur di atas nakas.


Bernard menyelimuti tubuh mereka dengan selimut , daerah gunung akan sangat dingin menjelang jauh malam.


Jadi tidak perlu memakai AC lagi suasana Mansion akan selalu sejuk.


Bernard menarik Viona kedalam pelukannya, membuat lengannya menjadi bantal istrinya.


"Istriku...aku mau minta maaf padamu" kata Bernard mengecup ujung kepala Viona.


"Minta maaf?" Viona bingung mengapa suaminya ingin minta maaf.


"Saat malam pertama kita di rumah Papa...aku sangat dingin padamu, aku merasa bersalah kalau mengingatnya..kamu sangat ramah padaku, tapi aku begitu jahat"


"Aku tidak merasa suamiku jahat, aku tahu suamiku itu orangnya pendiam" kata Viona.


Bernard terkejut mendengar kata-kata Viona, di angkatnya dagu Viona agar dia bisa melihat wajah istrinya.


"Apa katamu..kamu tahu tentang aku?"


Wajah Viona langsung memerah, tanpa sadar dia keceplosan bicara.


"I.. itu, semua orang kan tahu tentang anggota keluarga Antonius...keluarga suamiku kan orang terkenal di kota kita, semua masyarakat mengetahui siapa suamiku sebenarnya" kata Viona gugup, untung dia pandai bicara.


"Oh iya.." Bernard membenarkan perkataan Viona.


Dia memang terkenal tidak banyak bicara, dan di anggap tidak berguna.


"Kamu tahu aku seorang pria yang sangat tidak bisa diharapkan, kenapa mau menjadi pengantinku?" tanya Bernard seraya mengangkat kembali dagu Viona agar melihat nya.


"A...aku" Viona tidak berani bicara jujur, dia sangat malu mengakui kalau suaminya sudah dia kagumi semenjak lama semenjak tujuh tahun lalu.


Bernard merasa kalau istrinya tersebut menyimpan rahasia, dia terlihat sangat gugup dan tidak berani bicara.


Pikiran Bernard jadi berprasangka, dia menyingkirkan kepala Viona dari tangannya.


Lalu bangkit duduk.


Apakah ada orang yang aku kenal memberitahukan siapa aku sebenarnya? pikir Bernard sembari duduk.


Viona jadi merasa tidak enak melihat suaminya sepertinya marah padanya karena tidak mau jujur.


"Baiklah..aku akan jujur!" kata Viona akhirnya.


Bernard spontan memandang istrinya, dia mulai ada rasa curiga pada Viona.


Viona pun bangkit duduk, dia menjauhkan jarak duduknya pada Bernard.


Melihat Viona membuat jarak antara mereka hati Bernard merasa tidak enak, dia merasa kalau kejujuran yang akan Viona ungkap kan akan membuat rumah tangga mereka bakalan retak.


Seharusnya tadi dia tidak usah memaksa Viona berkata jujur, biarkan saja apa adanya seperti biasa. Yang penting dia telah menikah dengan Viona.


Bernard menelan ludah merasa gugup akan mendengar kejujuran yang akan dikatakan Viona.


Viona menghela nafasnya dalam-dalam, dia mencoba untuk tenang, wajahnya dia tundukkan agar tidak dilihat oleh suaminya bersemu merah karena malu.


"Aku.." Viona menjeda kata-katanya. Dan membuat Bernard semakin takut.


"Aku sebenarnya...sejak usia tujuh belas tahun sudah menyukai suamiku, aku selalu memperhatikanmu dari jauh..aku jatuh cinta saat aku berumur tujuh belas tahun padamu suamiku!" kata Viona semakin memperdalam kepalanya karena sangat malu, wajahnya semakin merona.


Bersambung....