
Viona membantu Bernard masuk ke dalam mobil.
Suaminya sudah terlihat tidak bertenaga lagi, tubuhnya seperti agar-agar, sempoyongan.
"Istriku..kemarilah jangan terlalu jauh!" kata Bernard mulai meracau, Bernard menggapai Viona untuk mendekat padanya.
Mobil berlahan meninggalkan lobby Hotel.
Bernard memeluk Viona erat, lalu dibawanya ke atas pangkuannya.
"Istriku..kamu malam ini cantikkk sekali..." kata Bernard terkekeh.
Viona tersenyum melihat suaminya yang sudah mabuk, terlihat lucu dengan mata sayu seperti mata orang yang ingin tidur.
"Aku ingin meninju wajah mereka satu persatu, seperti saat aku meninju wajah para bajingan yang mencoba membunuhku waktu itu karena memuji istriku sambil tersenyum, aku tidak suka!" katanya sambil membelai pipi Viona.
Viona terkesiap mendengar perkataan Bernard. Mencoba membunuhnya? jantung Viona tiba-tiba berdegup kencang.
Ada yang mencoba ingin membunuh Bernard.
"Hanya aku yang boleh memuji istriku dan tersenyum kepadanya!" kata Bernard tersenyum, lalu mengecup bibir Viona sekilas.
"Istriku aku mencintaimu" kata Bernard dengan wajah yang sudah merah.
Deg!
Jantung Viona berdebar mendengar perkataan Bernard.
Apakah orang mabuk memang bisa bicara jujur untuk mengungkapkan isi hatinya?
"Aku sangat mencintaimu...sangat mencintaimu..sangat..sangat mencintaimu" kata Bernard berulang kali.
Di telusuri nya bibir Viona dengan telunjuknya.
"Aku selalu ingin mencium bibir istriku yang terasa sangat manisss sekali" Bernard tersenyum mesum ala orang mabuk.
"Aku menemukan kasih sayang yang tulus dari istriku...aku baru tahu rasanya disayangi dan di cintai itu terasa begitu bahagia sekali, aku rasanya tidak ingin jauh-jauh dari istriku"
Bernard mengecup bibir Viona lagi.
Dan kembali berbicara sendirian lagi.
"Kenapa aku tidak tahu kalau istriku sudah menyukai aku dari semenjak remaja...aku ingin rasanya mengulang masa itu, pasti sangat menyenangkan jalan dengan anak abg" katanya terkekeh merasa lucu sendiri.
"Istriku kapan kamu melakukan ciuman pertama?" tanya Bernard menatap mata Viona, suaranya terdengar sangat sedih.
Viona tersenyum melihat wajah suaminya itu yang terlihat sudah sangat merah, tapi bisa berekspresi dengan wajah sedih.
Viona mengelus pipi Bernard, lalu mengecup bibir suaminya tersebut sekilas.
"Ciuman pertamaku di ambil sama kamu..suamiku" bisik Viona tersenyum menatap Bernard.
"Emm...apa?" tanya Bernard seperti tidak mendengar perkataan Viona.
"Kamu orang pertama yang telah mengambil ciuman pertama ku suamiku" kata Viona dengan perlahn seraya menangkup kedua pipi Bernard dengan ke dua telapak tangannya.
"Benarkah?" wajah Bernard yang merah semakin merah tersenyum mendengar perkataan Viona.
Dia senang sekali mendengar kalau dia lah pria beruntung yang telah mengambil mencium pertama istrinya.
Viona mengangguk.
Bernard memeluk Viona, dia sangat senang sekali. Ternyata Viona bisa menjaga diri tetap suci sampai begitu lama.
Bernard merasa sangat beruntung sekali, inilah hadiah yang dia dapat dari sekian tahun menjadi seorang yang di anggap seperti sampah.
Istri yang luar biasa. Cantik, cinta padanya, perhatian padanya, pandai memasak, paling hot dan masih perawan saat menikah dengannya.
"Istriku...kamu adalah penolong hidupku, tulang rusukku, aku mencintaimu?" Bernard memeluk Viona erat.
Viona membalas pelukan Bernard dengan erat juga.
Tidak lama kemudian mereka pun sampai di Mansion mereka.
Bodyguard Bernard membuka pintu mobil. Dan, kemudian mencoba untuk membantu Tuannya tersebut masuk kedalam Mansion.
Bernard menyingkirkan tangan Bodyguard nya itu.
"Biarkan Nyonya yang membantuku!" ujarnya.
"Baik Tuan" Pengawalnya pun mundur.
Dengan tubuh sempoyongan Bernard merangkul bahu Viona.
"Ayo istriku...kita masuk ke rumah kita!" kata Bernard dengan suara mabuk.
Viona memapah Bernard pelan-pelan masuk ke dalam rumah.
Bersambung....