
Viona tidak percaya dengan perkataan suaminya tersebut, memborong sabun?
Dia ingin tertawa.
"Apa? memborong sabun?"
"Iya!" angguk Bernard tersenyum, dia merasa bangga dengan tindakannya tersebut.
Viona tidak tahan lagi, dia pun tertawa lucu.
"Kenapa tertawa?" tanya Bernard memandang Viona, wajahnya cemberut karena ditertawai istrinya.
Viona semakin tertawa, dia merasa lucu suaminya sampai segitunya memborong sabun karena menyukai wanginya.
Bernard membalikkan tubuhnya kesamping, memandang istrinya tidak senang.
Wajah Viona sudah memerah karena tertawa.
"Kamu mengejek aku ya" Bernard menarik tubuh Viona untuk duduk.
Viona meredakan tawanya, tapi tetap saja wajahnya terlihat menahan tawa.
"Perasaan sabun itu sudah tidak diproduksi lagi sekarang, aku tidak pernah melihat nama merk sabun ini" kata Viona menunjuk sabun cair tersebut.
"Aku telah membeli pabriknya, dan tidak ingin sabunnya diedarkan dipasaran" kata Bernard dengan santainya.
Viona langsung terdiam mendengar penjelasan suaminya tersebut.
Mem.. membeli pabriknya? bisik hati Viona tidak percaya.
Astaga! suaminya luar biasa.
"Kenapa? kamu tidak percaya? besok aku bawa kesana ya" kata Bernard masih dengan santainya.
"Kak..." Viona tidak bisa berkata-kata lagi.
"Iya sayang..." jawab Bernard lembut, dia tersenyum melihat wajah istrinya yang tidak percaya dengan perkataannya.
"Suatu hari aku mencium wangi sabun yang mirip dengan aroma sabun yang dipakai gadis kecil temanku" kata Bernard mulai bercerita.
"Aku langsung teringat padanya, jadi aku mencari aroma tersebut, begitu ketemu, aku pun memeriksa nama merk sabun tersebut"
"Sebagai pengobat rindu, aku memborong sabun itu, lalu setelah aku berhasil menjalankan bisnis Kakek, aku membeli Pabriknya, supaya tidak ada orang lain yang memakai sabun itu"
Viona menatap suaminya tidak percaya, dia semakin mengetahui seperti apa pribadi suaminya.
Memiliki perasaan yang tidak ingin melepaskan hal yang disukainya dimiliki orang lain.
Dan perasaan yang setia pada suatu hal yang dia sukai.
Viona mengangkat tangannya, menyentuh wajah suaminya dengan lembut.
Suaminya adalah pria dewasa yang Melankolis.
Dan dia melampiaskan rasa sedihnya, dengan menyimpan kenangan yang berkaitan dengan orang yang telah meninggalkannya tersebut.
Suaminya adalah anak yang dibenci Ayahnya, dan juga saudara tirinya.
Tentu saja akan selalu menyimpan kenangan yang berkaitan dengan orang yang peduli padanya.
Hati Viona terasa sakit memikirkan kisah hidup suaminya tersebut.
Viona menghamburkan tubuh polosnya memeluk Bernard, memeluknya dengan perasaan sayang.
Bernard merasa istrinya terbawa suasana.
Tapi Bernard sangat senang istrinya begitu peduli padanya.
Dia pun membalas pelukan istrinya dengan perasaan sayang.
Mereka berpelukan dengan tubuh polos didalam bathtub.
"Kak..aku sayang padamu" gumam Viona menempelkan pipinya ke dada Bernard.
"Aku juga istriku" kata Bernard mengelus punggung Viona yang polos.
Mereka seperti itu beberapa saat.
Setelah puas, mereka pun melepaskan pelukan mereka.
Bernard mengelus pipi Viona dengan sayang.
Mereka kemudian saling tersenyum satu sama lain, menatap dengan pandangan berbinar.
Bernard melihat bibir ranum istrinya.
Perlahan dia menunduk, lalu mengecup bibir Viona.
Viona memejamkan matanya, lalu membuka mulutnya.
Menyambut ciuman Bernard.
Mereka kemudian saling mengulum bibir.
Bernard menarik tengkuk istrinya memperdalam ciumannya.
Kedua tangan Viona melingkari leher Bernard, menyambut ciuman suaminya lebih dalam lagi.
Mereka berbagi air liur, dan saling memilin.
Suara ciuman mereka terdengar saling berdecak, lidah mereka bertemu dan saling memilin.
Mereka menikmati rasa cinta mereka yang semakin mendalam, rasa yang begitu membahagiakan sampai ke tulang sumsum.
Bersambung.....