Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
103. Rencana Morgan.


Morgan membawa Andreas ke pinggiran kota, mereka tiba di sebuah lokasi pembangunan gedung yang terbengkalai.


Tampak kumuh dan sangat kotor.


Morgan memasuki lokasi bangunan semakin kedalam, dan di sana tampak beberapa mobil terparkir.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, Morgan dan Andreas pun memasuki sebuah gudang didekat gedung yang terbengkalai tersebut.


Mereka disambut dua orang yang berjaga didepan pintu gudang.


Kemudian mereka dipersilahkan masuk untuk menemui ketua kumpulan mereka.


Didalam gudang sudah menunggu beberapa pria bertubuh kekar.


"Apa kabar Tuan Ramses?" sahut Morgan pada salah satu pria kekar tersebut yang memiliki tato di lehernya.


Ramses mendekati Morgan, dengan tatapan tajam dia memandang ke arah Andreas.


"Dia adikku!" kata Morgan.


Setelah mendengar penjelasan Morgan, Ramses membawa mereka masuk ke sebuah ruangan didalam gudang tersebut.


Ternyata itu ruang kantor.


Di dalam ruang kantor ternyata sudah ada tiga orang pria berbadan kekar juga.


"Apakah anda sungguh-sungguh ingin menghabisi Bernard?!" tanya salah satu pria yang ada diruang kantor tersebut.


"Iya, saya akan transfer sisanya nanti pada anda!" kata Morgan dengan yakin.


"Perlu anda ketahui bahwa Bernard bukanlah orang yang bisa diprovokasi, dia lawan yang tangguh!" kata pria itu.


Morgan dan Andreas tertawa mendengar perkataan pria itu.


"Dia adalah adik kami, aku tahu seperti apa dia, Bernard itu lemah dan tidak bisa melawan pada kami!" kata Morgan tersenyum lucu mendengar perkataan pria itu, yang mengatakan Bernard bukan lawan yang bisa diprovokasi.


"Dia takut pada kami!" kata Andreas dengan percaya diri.


"Anda yakin?"


"Baiklah, kalau anda berdua merasa yakin, kalau Bernard takut pada anda berdua!" kata pria tersebut mengalah dan percaya dengan perkataan mereka.


"Dimana kita akan bernegosiasi dengannya, anda yang menentukan tempatnya, kami akan datang saat anda telah berhasil membawanya, jika dia takut pada anda, kami lebih gampang untuk membekuknya!" kata pria itu.


"Oke, baiklah! kapan kami akan bergerak?!" tanya Ramses.


"Aku akan memanggilnya terlebih dahulu, laku membawanya ke gedung Mall Gold Star di lantai dua puluh lima yang masih direnovasi, lalu setelah dia berada di sana...aku akan menghubungi anda!" kata Morgan tersenyum devil.


"Baiklah!" angguk Ramses dengan yakin juga, kalau Bernard takut pada kedua saudaranya tersebut, dia dan Paul akan gampang untuk mengalahkan Bernard.


"Oke, sepakat! besok siang aku akan memanggilnya!" kata Morgan dengan senang.


"Baik!" angguk Ramses, "Aku akan menyiapkan anak buahku, dan kami akan datang tepat siang hari saat anda menghubungi kami!"


"Oke!" angguk Morgan puas.


Mereka pun meninggalkan gudang tersebut, dan kembali ke kota.


Morgan dan Andreas merasa puas dengan rencana mereka yang sempurna, semua pasti akan berjalan sesuai dengan harapan mereka.


Sementara itu di Mansion Bernard.


Bernard dan Viona sedang bersantai di kursi santai ditepi kolam renang dihalaman Mansion.


Bernard dan Viona baru selesai berenang, mereka saling bercanda dan sesekali Bernard menepuk bokong istrinya untuk menggodanya.


Dan Jos, telah mendapat satu informasi yang akan disampaikan pada Bernard, pria kaku itu tidak berani untuk mendekat ke tepi kolam renang untuk melapor pada Bernard.


Dia berdiri tidak jauh dari kolam renang.


Menunggu Tuannya untuk menyadari kehadirannya, dia takut mengganggu waktu santai Tuannya bersama sang istri.


Akhirnya Bernard pun menyadari kalau Jos berdiri tidak jauh dari kolam renang, pasti sedang menunggunya untuk menyampaikan sesuatu.


Bersambung.....