Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
82. Menjenguk Ayah mertua.


Geraham Bernard mengetat, mau coba-coba bermain denganku? baiklah! mari kita bertarung! pikir Bernard dengan sudut bibirnya terangkat sedikit menyunggingkan senyuman sinis nya.


Kalian yang memulai, jangan salahkan aku kalau sudah marah! bisik hati Bernard mulai menunjukkan sisi pysco nya, matanya tajam memandang pintu lift tanpa berkedip.


Viona merasakan kalau suaminya sudah mulai marah, dia juga tidak menyangka saudara tiri suaminya sudah lancang menyinggung suaminya.


Semenjak mereka keluar dari rumah Ayah suaminya, mereka tidak pernah sekalipun mencoba untuk bersinggungan lagi dengan keluarga Ayah Bernard.


Tapi tidak tahu entah kenapa setiap mereka bertemu dengan suaminya, mereka selalu tidak tahan untuk menyinggung suaminya.


Viona merasa keluarga suaminya itu, seperti punya tempramen yang aneh, selalu saja ingin menindas Bernard.


Apakah mereka ingin mengendalikan suamiku? apakah mereka pikir bisa melakukan apapun pada suamiku? pikir Viona merasa tidak habis pikir dengan keluarga suaminya itu.


Di lobby pintu utama gedung Mall sudah tidak ada kerumunan massa yang protes lagi.


Mobil Bernard sudah menunggu didepan halaman lobby gedung.


Jos, asisten Bernard sekaligus Bodyguardnya telah menunggu di dekat mobil.


Jos membukakan pintu mobil untuk Bernard dan Viona.


Kemudian Jos pun membawa mobil meninggalkan gedung Mall Gold Star tersebut.


"Bagaimana, apakah kamu sudah melakukannya?" tanya Bernard pada Jos.


"Sudah Tuan, mereka sudah mulai bekerja dan melakukannya serapi mungkin, besok sahamnya sudah anjlok!" sahut Jos.


"Bagus!" kata Bernard puas.


"Aku dengar Ayah anda masuk rumah sakit Tuan!" kata Jos lagi.


Tubuh Bernard tersentak sesaat mendengar perkataan Jos tersebut, tapi kemudian dia menenangkan dirinya kembali.


"Biarkan saja, sudah bukan urusanku lagi!" kata Bernard dengan tenang.


Bernard menarik Viona untuk mendekat padanya, lalu memeluk istrinya tersebut.


Bernard mencoba menenangkan dirinya yang mulai emosi, mengangkat Viona ke pangkuannya.


Lalu membenamkan wajahnya ke ceruk leher istrinya.


Viona membalas pelukan suaminya, dan mereka sama-sama diam dalam dekapan masing-masing.


Bernard memejamkan matanya untuk menenangkan perasaan amarahnya.


Dia mencium aroma mencurigakan pada keluarganya.


Sepertinya Ayahnya berpura-pura sakit untuk menarik simpatik nya, agar dia mau bertemu dengan Ayahnya.


Sepertinya dia harus menunjukkan sifat aslinya kepada keluarganya tersebut, agar mereka jangan macam-macam padanya.


Ponsel Viona tiba-tiba bergetar.


Bernard mengangkat kepalanya dari leher istrinya.


Viona mengambil ponselnya, dan melihat layarnya.


Ternyata Ayahnya yang menelepon.


Viona menekan warna hijau pada layar ponselnya.


"Halo!" sahutnya.


Sejenak Viona mendengarkan apa kata Ayahnya diseberang telepon.


"Baik Papa!" jawab Viona. Lalu kemudian menutup telepon.


"Kenapa?" tanya Bernard melihat perubahan wajah istrinya.


"Papa sakit, dia ingin aku menjenguknya!" kata Viona.


"Ayo! kita pergi menjenguknya!" kata Bernard.


Jos membawa mereka ke rumah Viona.


Sesampai di rumah Viona, hanya ada Ayahnya saja.


Naira tidak ada di rumah.


"Kakakmu kerja, katanya malam baru pulang" kata Ayahnya menjelaskan, karena Viona melihat kakaknya Naira tidak ada di rumah.


"Papa kami antar ke rumah sakit saja ya, biar dirawat di rumah sakit!" kata Viona.


"Tidak perlu, Papa hanya rindu melihatmu" kata Ayah Viona.


"Papa Mertua yakin tidak mau ke rumah sakit?" tanya Bernard.


"Tidak apa-apa, Papa hanya ingin mencicipi masakanmu, apakah kamu mau memasak untuk Papa?" tanya Tuan Philip pada putrinya Viona.


"Baiklah, aku akan masak untuk Papa!" sahut Viona setuju.


"Bernard..kalau bosan kamu bisa istirahat dikamar Viona!" kata Tuan Philip pada menantunya tersebut.


Pria paruh baya itu sekarang telah menyukai Bernard, dia bersyukur Viona bersedia menikah dengan Bernard.


Ternyata Bernard sangat mencintai putrinya Viona, dan bahkan memanjakannya.


Bersambung....