
Viona menyambut Anna di halaman belakang, mereka duduk di kursi santai di bawah pohon taman belakang sambil menikmati teh dan camilan kecil.
Leo meninggalkan Anna bersama Viona menikmati kebersamaan mereka.
Anna tidak menyangka Viona menjadi seorang Nyonya Miliarder.
Melihat Mansion kastil tempat tinggalnya, siapapun pasti akan tahu, kalau Bernard pasti mengeluarkan biaya yang sangat fantastis untuk Mansion tersebut.
Mereka bersenda gurau sampai tidak terasa waktu sudah menjelang siang, dan waktunya mereka harus bubar.
"Bernard mengajak aku makan keluar hari ini, apakah kamu mau ikut bergabung dengan Leo?" tanya Viona.
"Apakah boleh?" tanya Anna begitu senangnya mendengar ajakan Viona.
"Iya, tentu saja boleh!" angguk Viona.
"Iya, aku mau ikut gabung dengan kak Leo!" kata Anna bersemangat.
"Ayo kita siap-siap berangkat!" kata Viona seraya berjalan masuk kedalam rumah.
"Baik, siap Nyonya!" sahut Anna bersemangat, dia tersenyum lebar memperlihatkan giginya.
Lalu setengah berlari mengejar Viona.
"Aku ingin berganti baju dulu, dan berdandan sedikit biar terlihat segar!" kata Viona.
"Baik Nyonya!" sahut Anna lagi sambil tersenyum.
Viona menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Anna yang masih terus tersenyum.
"Ada apa denganmu, kenapa terus saja memanggilku dengan sebutan Nyonya!" kata Viona mengerutkan keningnya.
"Bukankah kamu sekarang adalah seorang Nyonya?" ucap Anna masih dengan tersenyum lebar.
"Tidak lucu Anna, kamu ngeledek aku ya!" ujar Viona tidak senang.
"Jangan marah Nyonya, ingat bisa berpengaruh pada bayi loo..!" kata Anna sambil mengelus perut Viona, tapi masih tetap dengan mode tersenyum lebar.
"Kamu tidak boleh ikut makan siang dengan kami, batal! kamu pulang saja, makan di rumah!" kata Viona sambil berbalik.
Anna menangkap tangan Viona, lalu memeluk Viona dari belakang.
"Jangan marah dong, aku kan cuman bercanda, aku terlalu senang karena bisa makan siang di luar bersama kalian, terutama karena ada kak Leo!" kata Anna.
"Kamu jatuh cinta sama Leo ya, sejak kapan?" tanya Viona.
"Apakah aku kelihatan seperti sedang jatuh cinta?" tanya Anna.
"Iya..kamu begitu senang sewaktu menyebut nama Leo!"
"Wah...kelihatan sekali ya!" kata Anna, di pegangnya pipinya karena merasakan wajahnya semakin merona.
"Iya, kelihatan sekali, sudah waktunya kamu berumah tangga, jangan tunggu terlalu lama lagi, nanti Leo keburu di ambil perempuan lain!" kata Viona, lalu berbalik melanjutkan langkahnya.
"Hah! tidak! tidak! aku tidak mau, aku tidak akan biarkan!" sahut Anna dengan nada tidak senang.
"Kalau tidak mau, kamu harus nyatakan perasaanmu, Leo pria pemalu, dia tidak akan tahu kalau kamu tidak katakan, bahwa kamu jatuh cinta padanya!"
"Baiklah, aku akan katakan, aku pasti bisa ungkapkan kalau aku cinta padanya!" kata Anna semangat.
"Bagus!" sahut Viona, "Aku mau naik sebentar, tidak akan lama, Leo ada di depan, mengobrollah dulu dengannya!"
"Baik!" angguk Anna dengan cepat.
Leo di pelataran depan pintu utama Mansion sudah menunggu berdiri di dekat mobil.
Kepala Leo menoleh ke arah pintu utama Mansion, pria itu melihat pintu terbuka.
Tampak wajah imut Anna muncul dari dalam Mansion.
Jantung Leo berdegup kencang, dia merasakan wajahnya memerah melihat wajah Anna yang menurut Leo sangat cantik.
Begitu juga dengan Anna, dia merasa gugup dipandang oleh Leo.
Tatapan mata Leo yang tajam rasanya begitu maskulin dan membuat dada Anna berdebat-debar.
Anna merasakan pipinya memanas.
"Vi..Viona lagi ganti baju sebentar, katanya tidak akan lama!" sahut Anna dengan nada yang sedikit gugup.
"Baik Nona!" jawab Leo.
Anna melangkah berjalan mendekati Leo, jantungnya semakin berdegup kencang.
Anna semakin berdebat-debar saat berdiri di samping Leo, perasaannya pada Leo semakin bertambah.
Bersambung.....