
Wanita tersebut masih terus meringis memegang lengannya, sambil memandang kearah Bernard.
" Aku hanya berniat untuk mentraktir kamu makan Bernard...tidak ada maksud lain " kata wanita itu dengan wajah yang begitu kasihan.
Wajah Viona memerah mendengar perkataan wanita itu, dia bicara sambil menyebutkan nama suaminya dengan begitu lembut seperti kepada seseorang yang disukainya.
Viona memandang kearah Bernard, melihat ekspresi wajah Bernard apakah tersentuh dengan kata-kata yang lemah lembut dari wanita tersebut.
Bernard merasakan tatapan Viona yang tajam padanya, seakan mengira dia telah berselingkuh dengan wanita tersebut.
Mendengar cara bicara wanita itu yang begitu lembut padanya, seakan mereka sudah sangat akrab dan sudah saling bertegur sapa selama ini.
Bernard tentu saja jadi kalang kabut mendapat tatapan dari Viona yang tajam, dia sama sekali tidak kenal dengan wanita yang terlihat begitu sangat berharap mendapat respon dirinya.
" Aku tidak mengenalnya sayang...aku merasa..aku tidak pernah menolong seorang wanita dulunya, aku tidak tertarik mengurus ataupun terlibat dengan wanita manapun...aku dari dulu hanya memikirkan mu, teman masa kecilku yang ingin kutemukan " kata Bernard terpaksa mengatakan tidak pernah menolong wanita itu, karena dia pun tidak ingat pernah menolong wanita tersebut.
" Apakah anda sudah dengar apa yang telah dikatakan suamiku...dia merasa tidak pernah menolong anda " kata Viona memandang tajam wanita tersebut.
" Tidak mungkin, kamu telah me...."
" Cukup!!" bentak Bernard, dia tidak suka dengan sikap memelas wanita tersebut.
Dia kira siapa dia mau memprovokasi Bernard, seorang kepala Mafia yang mempunyai insting yang kuat, sungguh trik yang tidak masuk akal.
Dari tadi wanita tersebut selalu mencoba untuk menarik perhatiannya, dan sedikitpun tidak menganggap istrinya berdiri tepat disampingnya.
Seolah-olah istrinya hanyalah sebuah pajangan yang tidak berarti sama sekali, dan tidak perlu bersikap sopan untuk menegurnya.
Dari sikapnya itu Bernard sudah tahu kalau wanita tersebut tidak murni ingin membalas tentang balas budi, tapi mencoba menggodanya.
Sungguh wanita yang tidak tahu malu, menginginkan seorang pria yang sudah menikah.
, " Anda membuat saya jadi marah, sungguh tidak masuk diakal...dan sangat menjengkelkan, mengganggu kebersamaanku dengan istriku...saya tidak kenal dengan anda. ..dan juga tidak pernah merasa menolong anda, jadi enyahlah dari hadapan kami...saya sangat mencintai istriku, dan selamanya mencintai istriku, jadi jangan buat istriku tambah marah pada anda!" sahut Bernard dengan tajam, dan dengan aura yang dingin mencekam.
Aura yang membuat orang bergidik takut.
Wanita itu membeku ditempatnya mendengar perkataan Bernard, tidak pernah merasa menolongnya.
Wanita itu jadi tidak bisa lagi bicara, wajahnya terlihat sangat kecewa dan sedih.
Dua orang Bodyguard Bernard tiba-tiba sudah ada dibelakang wanita tersebut.
" Silahkan pergi Nona...jangan mengganggu ketenangan Tuan Bernard dan Istrinya, anda nanti akan menyesal kalau masih tetap keras kepala " kata seorang Bodyguard Bernard yang menghalau wanita tersebut agar pergi dari sana.
" Aku..."
" Maaf...silahkan pergi " Bodyguard Bernard merentangkan tangannya satu untuk mempersilahkan wanita itu pergi.
Sebelum wanita itu melangkah pergi, dia menyempatkan diri untuk melihat kearah Bernard.
Tapi, ternyata Bernard tidak melihat kearahnya, Bernard terlihat lebih fokus berbicara pada istrinya seraya menyerahkan tas kecil yang tadi dilemparkan Viona ke lengannya.
Dan terlihat kemudian Bernard menarik Viona kedalam pelukannya, dan kemudian mengecup puncak kepala istrinya.
Wajah wanita tersebut semakin sedih, Bernard tidak mengenalnya, sia-sia dia datang dari luar negeri hanya khusus untuk menemui Bernard.
Ternyata Bernard sudah menikah dan kelihatannya sangat mencintai istrinya.
Bernard mendekap tubuh Viona dengan erat, memeluk istrinya tersebut dengan perasaan senang melihat tindakannya tadi memarahi wanita yang entah dari mana asalnya tersebut.
" Istriku...kamu ternyata bisa juga berkelahi ya?" kata Bernard tertawa kecil merasa lucu mengingat bagaimana Viona tadi marah.
" Apa suamiku tidak ingat...aku kan pernah menarik rambut adik tirimu waktu menghina suamiku sewaktu dirumah Papa Mertua " kata Viona menatap Bernard dengan tatapan cemberut.
"Oh iya...aku lupa " tawa Bernard semakin terkekeh lucu melihat wajah istrinya yang cemberut.
" Ayo, kita kan mau pergi membeli tempat tidur bayi kita " kata Viona mengingatkan tujuan mereka turun gunung.
" Ayo sayang...semakin banyak orang aneh sekarang, kita jangan perdulikan mereka...mereka bukan siapa-siapa, jangan sampai kita di provokasi mereka dan sampai berpisah, aku tidak mau berpisah darimu sampai seumur hidupku " ujar Bernard merangkul pinggang istrinya.
" Iya kak " ucap Viona.
Merekapun melanjutkan akan pergi untuk membeli keperluan bayi mereka yang beberapa bulan lagi akan lahir.
Bersambung.....