
Bernard hampir tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan istrinya yang spontan itu.
Kalau dia menyerah untuk suatu hal, istrinya langsung tidak tega.
Viona langsung luluh, dan tidak ingin membuat dia kecewa.
Bernard semakin mencintai istrinya tersebut, berkali-kali di kecup ujung kepala Viona.
Wanita muda yang selisih sembilan tahun dengannya, yang diam-diam menjadi pengagumnya.
Bernard tidak menyangka selama ini dia tidak pernah disukai oleh wanita manapun, ternyata mendapat gadis muda jauh dibawah umurnya.
Cantik, rendah hati, dan masih perawan.
Bernard mengangkat dagu istrinya tersebut, menatap mata yang indah itu.
Inilah hadiah yang luar biasa yang didapatkan nya, seorang gadis muda dan cantik.
Bagian dari tulang rusuknya, pelengkap hidup, dan penolongnya.
Perlahan Bernard mengecup bibir istrinya.
"Aku mencintaimu istriku" gumam Bernard mesra, lalu membelai pipi istrinya dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu kak.." bisik Viona ditelinga Bernard.
Bernard tersenyum senang mendengar perkataan istrinya.
Di ciumnya kembali bibir istrinya dengan lembut, mengulumnya dengan perlahan.
Mereka saling mengulum, menikmati rasa cinta mereka yang semakin dalam.
Rasa keterikatan mereka sedari kecil membuat mereka semakin nyaman satu sama lain.
Bernard mengelus punggung istrinya dengan sayang, memperdalam ciuman mereka.
Jos yang sedang menyetir, dengan inisiatif sendiri menurunkan kaca pembatas agar dia tidak mengganggu Tuan dan Nyonya nya saling memadu kasih.
Bernard menyudahi ciumannya karena istrinya sudah kekurangan oksigen.
Wajah mereka sama-sama merona.
Bernard tersenyum menatap bibir istrinya yang membengkak, dia ingin menciumnya lagi.
Karena nafas istrinya belum stabil, dia mengurungkannya.
Dan mereka pun akhirnya sampai di rumah mereka.
Menggandeng tangan istrinya dalam genggamannya memasuki Mansion.
Hari sudah menjelang malam saat mereka sampai di rumah.
Bernard memutuskan ingin berendam di bathtub, tubuhnya terasa penat.
Dia ingin meregangkan otot-otot yang terasa kaku.
Bernard membantu membuka pakaian Viona, melepaskan ikatan rambut panjang istrinya.
Mereka pun sama-sama polos.
Bernard kemudian masuk kedalam bathtub terlebih dahulu.
"Ayo, kemari lah" kata Bernard mengulurkan tangannya membantu Viona untuk masuk kedalam bathtub.
Viona menerima uluran tangan suaminya tersebut.
Air hangat terasa nyaman menyentuh kulit Viona, dia berbaring disamping suaminya menikmati air hangat merendam tubuhnya.
Ukuran bathtub dikamar mandi Bernard sangat besar, cukup untuk dua orang dewasa untuk berendam.
Berbaring bersisian dengan kaki diluruskan terasa sangat nyaman, serasa dunia milik berdua.
"Bagaimana, apakah kamu merasa nyaman?" tanya Bernard menoleh pada istrinya yang berbaring disebelah nya.
Kepala mereka sama-sama bersandar di kepala bathtub.
"Iya" angguk Viona sambil menyiramkan air ke tubuhnya dengan menggunakan tangannya.
Bernard menuangkan sabun cair pada Viona.
Viona sangat menyukai aroma sabun ini.
Pertama kali dia menikah, dan mandi dikamar mandi suaminya dikediaman Antonius, dia berulang kali memakai sabun ini.
"Wangi" kata Viona mengendus aroma sabun tersebut.
"Apakah kamu tidak mengenali aroma sabun tersebut istriku?" tanya Bernard.
"Iya, ini sabun yang ada dikamar mandi mu di kediaman Antonius waktu itu kak!" kata Viona seraya menggosok sabun tersebut ke seluruh tubuhnya.
"Selain itu? dimana lagi?" tanya Bernard.
Sepertinya istrinya lupa, dia ingin mencoba mengingatkannya lagi.
"Di mana?" Viona tampak berpikir, kemudian geleng kepala.
"Bukankah ini sabun favorit kamu sewaktu kecil?" tanya Bernard mengingatkan.
"Apakah iya? kenapa suamiku tahu aku pakai sabun ini saat masih kecil?" tanya Viona bingung.
Suaminya begitu sangat mengingat kenangan masa kecilnya.
"Karena aroma tubuhmu tercium saat kita berdekatan, aku sangat suka dekat dengan kamu saat itu, bisa menghirup aroma wangi dari tubuh teman kecilku" kata Bernard tersenyum.
"Kak, kamu sungguh mesum.." kata Viona merona.
"Aku tidak mesum, aku menyukai wangi sabun teman kecilku, karena itulah aku mencari sabun itu, memborong sampai banyak untuk disimpan" kata Bernard menjelaskan.
Bersambung.....