
Setelah wanita itu diusir pergi, barulah Bernard dan Viona makan siang dengan tenang.
" Suamiku...pesonamu sungguh berkilau, membuat wanita tidak bisa mengalihkan pandangannya darimu" kata Viona di sela-sela makan mereka sambil tersenyum.
" Jangan katakan seperti itu istriku...aku tidak suka " kata Bernard tidak senang.
" Baiklah " ucap Viona masih sambil tersenyum.
" Makanan ini enak juga, makan siang yang cocok untuk anak remaja " kata Bernard mengamati makanan yang tengah di sendoknya, lalu dimasukkan kedalam mulutnya.
" Iya, rasanya pas, dan terasa lezat " kata Viona.
" Iya, benar...seandainya waktu itu kita bisa berkenalan, bisa makan siang disini duduk berdua...rasanya pasti sangat menyenangkan" kata Bernard.
Viona tersenyum mendengar perkataan suaminya tersebut, ya, seandainya waktu itu dia lebih agresif berkenalan dengan Bernard.
Tapi, dia tidak melakukannya, karena dia tahu Bernard dingin dengan siapa pun yang menegurnya, terutama dengan wanita.
" Suamiku...,itu tidak mungkin, kamu kan terlalu cuek dengan siapapun yang menegurmu...aku tidak berani menegurmu waktu itu " kata Viona
Bernard berhenti mengunyah makanannya, dia memandang istrinya, ternyata dulu Viona ada niat ingin menegurnya tapi tidak berani melakukannya.
" Begitukah?" tanyanya seperti orang bengong.
" Iya " jawab Viona.
Bernard berpikir sebentar mengingat sikapnya kepada orang lain saat itu.
Dia memang cuek bukan berarti dia tidak menanggapi orang yang menegurnya, hanya saja dia terlalu banyak pikiran, jadi kesannya dia terlihat tidak perduli dengan orang disekelilingnya.
Dulu dia terlalu fokus memikirkan tentang Ibunya yang mati karena kecelakaan, dan memikirkan bagaimana dia menjalani hidupnya yang begitu di benci oleh Ayahnya sendiri.
Sehingga dia tidak perduli dengan siapapun yang menegurnya, sehingga orang-orang takut pada tatapan matanya yang tajam.
" Iya, benar juga apa yang kamu katakan sayang..aku terlalu larut dengan duniaku sendiri, sehingga orang-orang takut padaku " kata Bernard, lalu kembali mengunyah makanannya.
" Tapi, itu bagus juga...jadi tidak ada wanita yang mendekatimu kak, kalau tidak..pasti kita tidak jadi berjodoh " kata Viona.
" Tidak sayang, dulu aku tidak tertarik dengan wanita manapun...pikiranku masih memikirkan teman masa kecil yang belum ketemu, aku rindu ingin bertemu dengannya...aku mencarinya terus " kata Bernard sembari memandang Viona yang menikmati makan siang nya.
"Uhuk..." Viona terbatuk mendengar perkataan Bernard.
Dia tidak menyangka ternyata sikap cuek Bernard pada setiap wanita karena dirinya.
" Aku tidak tahu entah kenapa mau saja menikah padamu waktu itu, perasaanku seperti terjerat oleh matamu...aku familiar dengan tatapan matamu, tapi aku tidak tahu kapan dan dimana aku pernah melihat tatapan matamu...dan sikapmu yang terang-terangan menatapku tanpa rasa takut, aku semakin yakin ingin menikah denganmu " kata Bernard menjelaskan.
Viona tersenyum manis mendengar penjelasan suaminya tersebut, dia sangat bahagia.
Viona menyentuh tangan Bernard yang berada di atas meja.
" Terimakasih suamiku, ikatan perasaan kita sangat kuat, aku sangat bahagia "
" Iya sanyang " Bernard menggenggam tangan Viona yang menyentuh tangannya tersebut.
Merekapun kemudian menyelesaikan makan siang mereka, dan setelah makan siang mereka akan lanjut untuk melihat keperluan bayi mereka.
Setelah Bernard berdiskusi dengan pihak cafe, dan melakukan tanda tangan kepemilikan pada lokasi tempat biasa Viona nongkrong.
Dan pihak cafe akan memberi tanda khusus dilokasi tersebut.
Dan akan membuat pagar pembatas untuk meja tersebut, Bernard akan sering mengajak Viona untuk makan siang disana.
Bernard sangat menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan Viona, bahkan pabrik sabun saja dia beli.
Mereka pun keluar dari cafe setelah Bernard selesai membereskan masalah tempat tongkrongan Viona.
Dengan mesra Bernard merangkul pinggang istrinya melangkah keluar cafe.
" Bernard..!" panggil seorang wanita berjalan dengan cepat kearah mereka.
Bernard dan Viona sontak menghentikan langkah kaki mereka.
Mereka memandang wanita tersebut yang ternyata wanita yang sama dengan yang tadi telah diusir Manejer cafe.
" Bernard, aku merasa tidak enak kalau tidak membalas budi padamu...sudah cukup lama aku mencarimu, aku terus memikirkanmu...kebaikanmu waktu itu masih terus kuingat, aku tidak bisa tenang kalau tidak membalas budi mu " kata wanita tersebut dengan wajah memelas, dia terlihat sangat kasihan.
Bernard dan Viona memandang wanita itu dengan tatapan bingung dan heran dengan sikap gigih wanita tersebut ingin membalas tentang balas budi.
Bernard tidak suka dengan situasi seperti ini.
Dan juga Bernard benar-benar tidak suka dengan wanita yang tidak tahu malu, yang terus saja mengusiknya, yang sedikitpun dia tidak peduli lagi tentang balas budi.
Dia tulus menolong orang dan dia ingin yang ditolongnya tidak perlu lagi merasa terbebani mengenai balas budi.
Dan satu lagi yang paling menjengkelkan Bernard, wanita tersebut sedikitpun tidak menganggap Viona ada disampingnya.
Bernard sangat yakin kalau wanita tersebut bukan niat murni untuk membahas tentang balas budi, tapi ada niat tersembunyi.
Wanita tersebut mendekati Bernard dengan wajah kasihan nya, mencoba meluluhkan hati Bernard agar mau menerima balas budinya.
" Hei!" teriak Viona pada wanita tersebut, " Berhenti disitu "
Mata Viona memandang galak pada wanita itu, lalu melepaskan diri dari rangkulan Bernard.
Viona berkacak pinggang memandang wanita tersebut dengan wajah marah.
" Anda sungguh tidak tahu malu...sudah dari tadi suamiku mengatakan tidak perlu lagi membalas budi, itu murni tulus dari suamiku menolong anda...jadi anda jangan terlalu mengada-ada berusaha terus mencari perhatian pada suamiku...apa anda tidak lihat dia sudah menikah?! " sahut Viona dengan suara yang tajam, matanya terbuka lebar memandang wanita tersebut.
Viona sangat kesal dengan tingkah wanita tersebut, yang terus saja mencoba membuat Bernard agar peduli padanya.
" Bernard..." wanita tersebut tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Viona, dia mencoba lagi untuk menarik simpati Bernard.
Bukk!!
Viona melemparkan tas kecilnya pada wanita tersebut, dia jadi emosi melihat wanita itu yang ingin mendekati Bernard.
Dan paling kesalnya, wanita itu masih terus saja memanggil nama Bernard, seolah sudah begitu akrab sekali dengan suaminya.
Sungguh menjengkelkan.
Wanita tersebut meringis memegang lengannya yang dilempar Viona dengan tasnya, wajahnya begitu sangat kasihan sekali, dia seperti wanita lemah yang ditindas Viona.
Melihat raut wajah wanita itu yang begitu memelas, malah membuat emosi Viona semakin naik.
Dasar! tidak punya rasa malu, dramamu sungguh kampungan! bisik hati Viona dengan wajah yang galak.
Bersambung......