
Bernard terkejut merasakn perubahan pada tubuh istrinya yang terasa panas.
Pasti ada yang tidak beres dengan camilan yang dimakan Viona tadi.
Brengsek! umpat Bernard marah karena tahu apa yang terjadi pada istrinya.
Istrinya terkena obat perangsang.
Dia langsung tahu siapa yang melakukan perbuatan ini, pasti Irina.
Apakah dia mencoba untuk menjebak salah satu dari kami agar masuk perangkapnya? pikir Bernard.
Viona sudah semakin merasakan tubuhnya tidak enak, dia ingin membuka gaunnya.
"Panas!" katanya seraya mengelus lehernya yang terasa tidak enak.
Bernard melepaskan jasnya, lalu menyampirkan nya ke bahu Viona.
Tapi Viona mencoba untuk melepaskannya.
"Panas! kamu kenapa malah memberikan aku kain yang tebal lagi suamiku!" kata Viona mencoba menyingkirkan jas yang menutupi bahunya, dan suaranya sudah mulai terdengar parau.
Bernard memegang jasnya erat-erat dibahu istrinya, kemudian bergegas meninggalkan pesta lebih awal.
Istrinya harus di bawanya pergi, tubuh istrinya sudah terasa semakin panas.
"Besok kamu urus Irina sampai tuntas, jangan berbelas kasihan lagi, aku mau dia di asingkan keluar Negeri!" kata Bernard pada Asisten sekaligus Bodyguardnya, Jos.
"Baik Tuan!" angguk Jos patuh.
"Dan juga siapa lelaki yang bersamanya itu, selidki sampai tuntas!" kata Bernard lagi.
"Baik Tuan!"
Viona sudah meracau kepanasan, dan mulai membuka bajunya.
Bernard memerintahkan Jos untuk menurunkan kaca pembatas mobil.
Dengan patuh Jos langsung melaksanakan apa yang diperintahkan Tuannya.
Tubuh Viona menggeliat dan meliuk manja, merasakan sensasi pengaruh obat yang telah masuk ke tubuhnya.
"Suamiku.." bisiknya serak.
Viona merapatkan tubuhnya ke tubuh Bernard, menggesekkan benda lembut di dadanya ke lengan Bernard.
Tangannya dengan nakal masuk kebalik kemeja suaminya, mengelus dada Bernard dengan lembut.
"Nyaman sekali, tubuhmu terasa dingin suamiku, aku suka!"
Dengan senyuman mesum Viona mendekatkan wajahnya ke wajah Bernard, lalu mencium bibir Bernard.
Bernard terpaksa mengikuti kemauan istrinya karena pengaruh obat tersebut.
Viona duduk dipangkuan Bernard, gaunnya sudah menjadi kusut.
Satu lengan bajunya sudah merosot keluar dari lengannya, memperlihatkan kan dadanya yang kenyal.
Bernard jadi ikut-ikutan seperti terkena obat juga, dia begitu terhipnotis dengan bentuk istrinya yang berantakan.
Viona mengulum bibir suaminya lebih dalam, sembari jemarinya meraba dan mengelus dada Bernard.
Memainkan ujung dada Bernard di jemarinya, mengelus dan memilinnya dengan jemarinya.
Bernard serasa terbang dengan perbuatan istrinya tersebut, tangan Viona berlahan turun meraba perut Bernard.
Kemeja Bernard juga sudah acak-acakan dan terbuka akibat ulah Viona.
Viona merasakan tubuhnya semakin terasa terbakar, setiap sentuhan yang diberikan Bernard padanya membuat tubuhnya sangat nyaman.
Dan jemarinya yang menyentuh kulit suaminya juga membuat dia sangat nyaman.
Dan Viona semakin terasa begitu nyaman saat dia merasakan daerah sensitif nya bergesekan dengan ereksi suaminya yang mulai mengeras.
Viona mendesah senang, tubuhnya terasa mendamba. Dia semakin memperdalam ciumannya.
Mencari lidah suaminya, menjelajahi setiap gigi suaminya.
Mereka berbagi air liur dengan ciuman yang semakin dalam.
"Oh..istriku sayang" desah Bernard jadi ikut terbuai merasakan tangan Viona membelai ereksinya dari luar celananya.
Istrinya menjadi liar akibat pengaruh obat tersebut.
Kepala Bernard serasa berputar melayang merasakan jemari istrinya yang kecil membelai ereksinya.
Viona melepaskan ciumannya, bibir Viona terlihat membengkak dan merekah.
Matanya terlihat sayu penuh gairah menatap Bernard.
"Suamiku..kamu sangat enak" gumamnya tersenyum, wajahnya terlihat semakin merah saja.
"Iya istriku" gumam Bernard juga dengan suara yang serak.
"Aku ingin merasakan kamu menjamah tubuhku suamiku" kata Viona seraya mengangkat tangan Bernard dan meletakkannya ke dadanya yang terbuka.
Bernard menuruti apa yang diinginkan istrinya, meremas lembut benda kenyal di dada istrinya.
Benda kenyal tersebut terasa sangat lembut dalam remasan nya, Bernard sangat menyukainya.
Viona mendesah merasakan remasan tangan suaminya tersebut. Tubuhnya terasa mendamba, semakin ingin disentuh lebih jauh lagi oleh tangan besar suaminya.
"Sabar istriku, kita akan melakukannya di rumah ya?" gumam Bernard menahan tangan Viona yang mulai masuk kebalik celananya.
"Aku sudah tidak tahan!" gumam Viona serak, "Aku mau kamu suamiku, ayo sentuh aku lagi!" suara serak Viona terdengar begitu manja.
Bernard menarik tangan Viona yang sudah masuk kebalik celananya, dan hampir menyentuh ereksinya.
Dia sebenarnya sudah tidak tahan juga, melihat istrinya yang berantakan mempertunjukkan tubuhnya yang indah.
Tapi ia ingin melakukannya di rumah mereka, karena sepertinya obat yang diberi Irina pada makanan itu, dosisnya terlalu banyak.
Kemungkinan perlu melakukannya beberapa kali, agar pengaruh obatnya hilang.
Bersambung.....