
Jos menatap mata Lidia, perlahan jemari Jos ragu-ragu mencoba mengelus pipi Lidia.
Lidia balas menatap Jos lekat, dia merasakan tangan Jos ragu-ragu untuk mengelus pipinya.
Tangan Lidia meraih tangan Jos yang akan mengelus pipinya tersebut.
Meletakkan tangan Jos ke pipinya, dan menekannya disana.
Perlahan jempol Jos mengelus pipi Lidia, terasa sangat lembut dijemari Jos yang kasar.
"Nona..."
"Lidia...panggil aku Lidia!" kata Lidia.
"Saya rasanya...tidak pantas memanggil anda dengan nama, dan sepertinya saya sudah lancang mencium anda" gumam Jos merasa bersalah.
Tapi jemarinya masih mengelus pipi Lidia.
"Tidak, kamu tidak lancang, a..aku juga menginginkannya, ciuman darimu" gumam Lidia malu-malu dan nyaris tidak terdengar.
Lidia tidak tahu kenapa dia bisa begitu berani seperti ini, instingnya yang begitu kuat ingin selalu dekat dengan Jos.
Apakah aku jatuh cinta pada Jos? pikir Lidia.
Perlahan Lidia mengangkat kedua tangannya memegang rahang Jos yang tegas kedalam kedua telapak tangannya.
"Terimakasih sudah merawatku beberapa hari ini, aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi, bolehkah?" tanya Lidia menatap mata Jos.
"Aku pria yang tidak mempunyai keluarga Nona, selamanya hidupku sepenuhnya hanya untuk mengabdi pada Tuan Bernard saja, dia penyelamat hidupku, dia keluargaku saat ini, hidupku sangat keras, aku seorang Bodyguard yang setiap harinya akan terlibat dengan kekerasan!" ujar Jos menjelaskan tentang siapa dia sebenarnya.
"Aku tidak peduli, aku ingin dekat denganmu, aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi, apakah kamu tidak mau aku dekat denganmu?" tanya Lidia.
Lidia sudah berumur dua puluh lima tahun, sudah saatnya dia mengenal seorang lelaki untuk dirinya.
Dia tidak mau terlalu lama melajang, sudah waktunya untuk membuka hatinya untuk seseorang.
Dia selama ini terlalu sibuk bekerja, tidak memikirkan tentang jatuh cinta pada seseorang.
Dia merasa Jos adalah pria yang baik dan rendah hati, dan memiliki perhatian yang dalam pada seseorang yang akan dicintainya.
Walaupun dia melihat Jos begitu kasar pada Darius tadi, tapi Lidia merasa Jos tidak salah.
Dia merasa kalau Jos tidak suka bila seseorang yang sudah diperhatikannya diperhatikan pria lain, dengan kata lain posesif.
Lidia tentu saja menyukai pria yang seperti itu, pria yang takut akan kehilangan cintanya.
Karena dia pun takut kehilangan cinta seseorang yang sudah dicintainya.
"Nona...apakah anda tidak pikirkan lagi? aku hanyalah seorang pria kasar, tanpa pernah mengenyam bangku Universitas" kata Jos pelan.
Bibirnya bicara seperti itu, tapi hatinya berkata lain, ada rasa tidak rela juga kalau Lidia menjauh dari dirinya.
Jempol Jos masih terus mengelus pipi Lidia dengan lembut.
Lidia tersenyum memandang Jos.
Perlahan jemari Lidia bergerak turun ke leher Jos, jemarinya menelusuri di sekitar bawah rahang Jos.
Jos tanpa sadar menelan ludahnya merasakan jemari Lidia membelai lehernya, dan membuat jakunnya turun naik saat menelan ludahnya.
"Apakah cinta memandang status? siapa pun tidak tahu kepada siapa dan kapan akan jatuh cinta pada seseorang!" gumam Lidia.
"Nona.." tubuh Jos bergetar merasakan jemari Lidia mengelus jakunnya, jemari Lidia terasa menekan dan membelai jakunnya dengan lembut.
"Panggil namaku, Tuan!" gumam Lidia tersenyum mendekatkan wajahnya pada wajah Jos, dan hidungnya bersentuhan dengan hidung Jos.
Jos terkejut mendengar Lidia memanggilnya Tuan, dia tahu itu kata-kata candaan Lidia untuk memancing dia agar memanggil nama Lidia.
"Lidia!" akhirnya Jos mengucapkan nama Lidia dengan suara serak.
"Bagus, lagi Tuan!" gumam Lidia tersenyum senang.
"Lidia!" gumam Jos lagi.
Mata Lidia berbinar begitu senangnya, senyumannya semakin merekah melebar.
Dan, satu kecupan mendarat di bibir Jos.
Jos tersentak mendapat kecupan dari Lidia, dia merasa hidupnya malam ini akan berubah.
Dia akan memiliki orang yang penting dalam hidupnya.
"Aku begitu senang Tuan memanggil namaku" kata Lidia tersenyum senang.
"Jangan panggil aku Tuan" kata Jos merasa tidak enak dengan panggilan yang diucapkan Lidia.
"Jadi aku harus panggil apa?" tanya Lidia.
"Namaku saja!"
"Baiklah, Josku!" kata Lidia menyeringai senang.
"Panggil Jos saja"
"Josku!" kata Lidia semakin tersenyum lebar.
Sudahlah! pikir Jos, dia mengalah apapun yang dipanggil Lidia dengan sebutan namanya.
Bersambung.....