Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
201. Wanita tidak dikenal.


Bernard memandang istrinya yang tengah memperhatikan meja dan kursi mereka duduk.


" Masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah...meja dan kursinya sudah terlihat lama dan tidak diganti, pemilik cafenya begitu rapi, merawat barang lama dengan rapi " kata Viona mengelus meja dan kursi yang mereka duduki.


" Iya, sepertinya begitu...semuanya sama seperti dulu, tidak diganti dengan yang baru " kata Bernard ikut memperhatikan juga.


" Apakah menu makanan nya sama seperti dulu juga ya, aku mau pesan sama dengan yang dulu aku makan " kata Viona bersemangat, dia ingin mencicipi lagi makan siang yang biasa dia makan saat melihat Bernard diujung cafe dengan sembunyi-sembunyi.


" Aku juga mau coba, istriku makan apa waktu itu saat jadi penguntitku " Bernard juga jadi ingin mencicipi apa yang ingin dipesan Viona.


Seorang pelayan cafe datang menghampiri meja mereka, lalu menanyakan apa yang ingin mereka pesan.


Pelayan tersebut menulis menu pesanan Bernard dan Viona, setelah itu pergi untuk menyiapkan makanan yang dipesan Bernard dan Viona.


Seorang pelanggan wanita cafe tersebut, datang menghampiri meja Bernard dan Viona.


" Maaf..mungkin saya salah mengenali orang atau mungkin tebakan saya benar...apakah anda Bernard Antonius?" tanya wanita itu memandang Bernard.


Bernard memandang wanita tersebut sambil mengerutkan keningnya, apa lagi ini? pikir Bernard tidak senang.


" Kamu siapa?" tanya Bernard dengan dingin.


" Bernard...ini aku Nora, lama tidak bertemu...hampir lima tahun kita tidak bertemu lagi, saat terakhir aku pergi keluar negeri ikut dengan orang tuaku...kamu menolongku waktu itu " kata wanita tersebut menjelaskan pada Bernard.


" Aku tidak ingat " kata Bernard menggelengkan kepalanya dengan wajah datar.


" Aku kena jambret waktu itu dan hampir tertabrak mobil...untung kamu menolongku, dan kamu membawaku pulang kerumah " kata wanita bernama Nora tersebut menceritakan kejadian yang membuat mereka saling kenal.


" Banyak orang yang telah kutolong... jadi aku tidak bisa mengenal mereka satu persatu, begitu juga denganmu " kata Bernard masih dengan nada yang dingin.


" Oh.." wanita tersebut tampak kecewa mendengar jawaban Bernard tetap tidak kenal dengannya.


Pelayan yang tadi melayani Bernard dan Viona, datang membawa pesanan makanan Bernard dan Viona.


Wanita yang mengaku bernama Nora tadi masih belum beranjak dari tempatnya, sampai pelayan yang mengantarkan makanan Bernard dan Viona pergi dia masih berdiri tidak jauh dari meja Bernard dan Viona.


" Maaf Nona...kami mau makan siang dulu, terimakasih masih mengingat suamiku karena menolong anda...atau, apakah anda ingin mengatakan sesuatu lagi pada suamiku?" tanya Viona dengan tenang, melihat pada wanita tersebut yang masih belum pergi.


" Eh.." wajah wanita tersebut tiba-tiba berubah melihat kearah Viona, dia terlalu fokus memandang Bernard, sehingga tidak memperhatikan Viona duduk didepan Bernard.


" Katakanlah...kalau ada yang ingin anda katakan " sahut Viona mempersilahkan wanita itu bicara.


" Itu...apakah kamu benar sudah menikah?" tanya wanita tersebut memandang Bernard.


" Bukankah barusan istriku mengatakan kalau aku adalah suaminya " kata Bernard masih dengan nada dingin.


Wanita tersebut menelan ludahnya dengan pandangan yang terlihat kecewa.


" Aku selalu mengingatmu selama lima tahun belakangan ini...ternyata penantianku sia-sia, setelah malam itu kamu menolongku...beberapa hari kemudian kita bertemu lagi " kata wanita itu.


" Tapi waktu itu aku ingin mentraktir kamu untuk makan malam...tapi kamu menolak, dan hari ini tanpa sengaja kita bertemu lagi...aku ingin membalas budi ingin mengajak anda makan malam " kata wanita itu dengan suara yang tercekat, dia terlihat gugup.


" Terimakasih Nona...tidak perlu mengingat lagi peristiwa tersebut, itu sudah lama dan aku sudah tidak ingat lagi...maaf kami mau makan siang " kata Bernard masih tetap dengan nada yang datar.


Viona memandang wanita tersebut yang sepertinya tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri, dia merasa wanita itu tidak punya rasa malu.


Dia terang-terangan memandang terus pada Bernard, dan itu sangat mengganggu.


" Maaf Nona...kami mau makan siang, apakah anda masih harus berdiri terus disana melihat kami makan siang?" tanya Viona dengan nada yang sedikit tidak senang.


Wanita itu melihat kearah Viona.


" Maaf....apakah saya boleh ikut makan siang dengan kalian?" tanyanya dengan berani.


Mendengar apa yang dikatakan wanita itu membuat Viona hampir memuntahkan apa yang akan dimakan nya, sungguh tidak punya sopan santun.


Dan menurut Viona perkataan wanita tersebut benar-benar tidak punya rasa malu.


" Maaf?" tanya Viona dengan nada tajam.


" saya ingin..."


" Cukup!" kata Bernard dengan nada yang sangat tajam, ini sungguh mengganggunya.


" Pelayan!" teriak Bernard.


Seorang pelayan dengan cepat datang menghampiri meja Bernard dan Viona.


" Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya pelayan itu.


" Wanita ini mengganggu makan siang kami...aku tidak kenal dengannya, tolong usir dia meninggalkan cafe ini...kalau tidak cafe ini tidak akan pernah buka lagi " kata Bernard dengan nada yang tajam.


" Maaf Tuan, kami akan mengusirnya " kata pelayan tersebut, lalu memberi kode pada Manajer cafe tersebut.


" Maaf Tuan...kami akan mengatasi wanita ini, silahkan menikmati makan siang anda bersama istri dengan tenang " kata Manejer cafe tersebut setelah melihat Bernard, pelanggan prioritas utama mereka.


" Tidak, aku masih ingin mengobrol dengan Bernard...aku rindu padanya, sudah lama aku menyimpan rasa suka padanya karena telah menolongku " kata wanita tersebut tidak ingin pergi.


" Maaf Nona, anda mengganggu ketenangan cafe kami, anda tidak diperbolehkan lagi datang kemari...silahkan pergi " kata Manejer cafe menarik paksa wanita tersebut.


Wajah Bernard menggelap mendengar apa yang barusan dikatakan wanita tersebut, dia tidak menyangka setelah dia berumahtangga banyak bermunculan wanita ingin mendekat padanya.


Ini sungguh tidak menyenangkan, membuat dia kesal saja.


Bersambung......