
Lisa tetap saja membantah semua tuduhan tersebut padanya.
Pengunjung sidang yang mengikuti persidangan itu, riuh berbisik melihat Lisa yang tetap bersikukuh tidak melakukan semua rencana pembunuhan tersebut.
"Astaga, kenapa dia tidak mengaku juga, jelas-jelas di rekaman itu dia!"
"Ada juga orang yang seperti ini ya, tidak mau mengakui kesalahannya, bukti-bukti sudah memberatkan nya, tetap saja tidak mau mengaku salah!"
"Sepertinya dia mempunyai kelainan jiwa!"
"Dia sepertinya tidak merasa bersalah telah melakukan kejahatan tersebut!"
"Menurutku orang seperti begini harus dihukum seumur hidup baru cocok!"
Tok! tok! tok!
Palu kembali diketuk Hakim ketua untuk menenangkan keriuhan ruang sidang.
Ruang sidang akhirnya tenang, semua kembali fokus mengikuti jalannya sidang.
Pengacara Penggugat kemudian melanjutkan kembali gugatannya mengenai kematian Bella Raynald.
Viona merasakan Bernard mengepalkan tangannya dengan erat, Viona mengelus tangan suaminya tersebut dengan lembut untuk menenangkan perasaannya mulai emosi untuk mendengarkan tentang kematian Ibunya.
Lisa terlihat tenang duduk di kursi terdakwa.
"Apa motif anda membunuh Nyonya Bella Raynald, Nyonya terdakwa?" tanya pengacara Penggugat memulai pertanyaan mengenai kematian Ibu Bernard.
"Aku tidak membunuhnya!" bantah Lisa.
"Apakah motif anda cemburu pada Nyonya Bella?"
"Aku tidak tahu!"
"Apakah karena Nyonya Bella mempunyai seorang putra dari suami anda, sehingga anda nekat untuk menyingkirkan Nyonya Bella?"
"Aku tidak tahu!" jawab Lisa mulai gemetar lagi.
"Apakah anda merasa terancam oleh kehadiran Nyonya Bella karena mempunyai anak dari suami anda, dan anda takut harta warisan Mertua anda jatuh pada Nyonya Bella dan putranya?"
"Aku tidak tahu!" jerit Lisa.
"Apakah Nyonya Bella Raynald menjadi ancaman bagi anda, karena mengetahui bahwa putra pertama anda bukanlah putra dari suami anda Tuan William!"
"Tidak! tidakkk!!" jerit Lisa, dia kebingungan mau membela diri, semua yang dikatakan oleh pengacara Penggugat memang benar.
Karena itulah dia ingin melenyapkan Bella Raynald.
William terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan Pengacara Penggugat pada Lisa.
"Karena itulah anda menjebak Nyonya Bella Raynald agar tidur dengan salah satu klien nya dan dipecat dari pekerjaannya, tapi sayangnya malah suami anda yang anda jebak!!"
"Tidak! bukan seperti begitu, minuman itu salah tempat, jadi salah minum!!" jerit Lisa tanpa sadar mengakui kesalahannya.
Ruang sidang langsung riuh mendengar pengakuannya tersebut.
Semua pengunjung sidang yang mengikuti jalannya sidang saling berbisik mengomentari pengakuan Lisa tersebut.
Hakim ketua kembali dengan cepat mengetuk palu agar ruang sidang kembali diam.
Ruang sidang pun kembali tenang, dan pengacara penggugat kembali memberi pertanyaan menjebak.
"Kenapa anda repot-repot harus menjebak Nyonya Bella Raynald, anda cukup mengakui saja kesalahan anda pada suami anda, kan beres!"
"Morgan adalah anak suamiku, bukan anak orang lain!" kata Lisa.
"Jadi kalau memang seperti itu kenapa anda membunuh Nyonya Bella dengan cara kecelakaan lalu-lintas, sama seperti anda mencelakai Ayah putra anda Morgan?"
Lisa langsung panik mendengar perkataan Pengacara Penggugat tentang Ayah Morgan disinggung.
Ruang sidang kembali riuh dan bising.
"Aku tidak berniat melakukannya, dia terlalu keras kepala! dia terlalu banyak mengetahui rahasiaku, dia harus disingkirkan! dia pengganggu, dia bisa membongkar rahasiaku! dia layak mati!!" teriak Lisa histeris.
Ruang sidang semakin ribut.
Tok! tok! tok!
Dengan kuat Hakim ketua mengetuk palu untuk menenangkan suasana ruang sidang yang riuh.
Ruang sidang kembali tenang.
"Dan Ayah putra anda Morgan, apa motif anda membunuhnya?"
"Dia layak mati, dia pengganggu! selalu mengancam akan memberitahukan pada suamiku tentang siapa Ayah Morgan, dia memeras aku dengan selalu meminta uang! dia harus disingkirkan!!" kata Lisa histeris, air matanya keluar dengan derasnya.
Morgan sangat terkejut mendengar pengakuan Ibunya tersebut, Ayah kandungnya dibunuh oleh Ibunya sendiri.
Tubuh Morgan gemetar saking shock nya, dia tidak menyangka Ibunya bisa sekejam itu.
William juga sama terkejutnya, dia semakin bergidik mengetahui kejahatan istrinya.
Selama ini dia tidur satu ranjang dengan pembunuh berdarah dingin.
Bersambung.....