Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
162. Ada apa dengan Lidia.


Leo kembali bergabung dengan yang lainnya ke taman, semua sedang menikmati makan malam mereka.


Anna memberikan hasil panggang nya yang telah matang pada Leo.


Mereka semua makan tanpa membahas apa yang barusan terjadi.


Bernard makan dengan lahap, dan sesekali menyuapkan daging ikan pada Viona.


Dia menyingkirkan duri ikan sampai bersih lalu menaruhnya kepiring Viona.


"Sayang...besok apakah kita sudah bisa kembali pulang kerumah? Mall Gold Star lantai dua puluh lima sudah selesai direnovasi, sudah banyak pengusaha ingin membeli toko yang telah direnovasi, dan mereka sudah banyak yang mengirim chat padaku!" kata Bernard di sela-sela makan mereka.


"Oh, iya kak, Ayo kita pulang!" jawab Viona setuju dengan apa yang dikatakan Bernard.


Sepertinya cukuplah mereka berlibur, sudah waktunya untuk bekerja.


Walaupun Bernard tidak perlu pergi secara langsung untuk mengatasi masalah pekerjaannya, tinggal memerintahkan Manager Mall untuk mengatasinya.


Tetapi lebih baik kalau Bernard sendiri yang turun tangan untuk menanganinya.


"Oke, besok pagi kita pulang!" kata Bernard.


"Iya!" angguk Viona.


"Malam ini aku akan memeriksa pembukuan Resort, agar besok kita tinggal berangkat dengan tenang!" kata Bernard lagi.


"Iya kak!" jawab Viona mengangguk.


Mereka melanjutkan makan sambil mengobrol dengan yang lainnya.


Bernard mengatakan pada Jos agar ikut dengannya nanti setelah meraka selesai makan ke ruang kantornya.


Dan dengan patuh Jos mengangguk.


Jos sesekali menerima ikan panggang yang telah dibersihkan Lidia dari duri ikan.


Jos selama hidupnya baru kali ini dia diperhatikan seseorang.


Walau masih ada rasa canggung karena belum terbiasa.


Dengan malu-malu Jos memakan ikan yang diletakkan Lidia ke piringnya.


"Maaf, tadi temanku telah menghinamu, dia memang sedikit arogan!" kata Lidia pelan.


Tangan Jos berhenti sebentar memotong daging sapi panggang, dia merasa tidak suka Lidia meminta maaf dengan sikap Darius tadi.


Lidia merasakan kalau aura Jos dingin, saat dia meminta maaf atas sikap Darius tadi.


Dia jadi merasa semakin bersalah pada Jos, seharusnya tadi dia tidak mengatakan seperti itu.


Tapi memang dia ingin minta maaf, karena kelakuan Darius tadi benar-benar sungguh membuat jengkel.


Menghina Jos lelaki kasar dan hanya seorang pengawal.


Jos juga manusia sama seperti mereka, seseorang yang punya perasaan dan hati nurani seperti mereka.


Walaupun pekerjaan Jos sebagai bodyguard, tapi Jos memiliki hati yang hangat dan sopan.


Dan kalau Lidia perhatikan, Jos juga memiliki perasaan yang lembut, dan pasti akan menjaga seseorang yang penting didalam hidupnya dengan baik dan akan setia.


Dari cara Jos memperlakukannya beberapa hari ini, sepertinya Jos selama ini belum pernah dekat dengan seorang wanita.


Lidia diam-diam melirik ke arah Jos yang sedang makan, tampak rahangnya yang tegas bergerak-gerak mengunyah makanannya.


Terlihat sangat tampan.


Tanpa sadar Lidia terpaku menatap Jos, dia merasakan kalau Jos sangat gagah dan gentleman.


Tiba-tiba Lidia merasakan dadanya berdegup kencang, wajahnya mulai merona.


Deg! deg! deg!


Lidia tanpa sadar menelan ludahnya gugup.


Apa ini? perasaan apa ini? pikirnya bingung, Lidia mengedipkan matanya.


Jos merasakan kalau dari tadi Lidia memandang terus padanya, perlahan kepalanya menoleh memandang Lidia.


Dan mereka pun saling memandang.


Mata mereka terkunci satu sama lain, tanpa ada niat untuk mengalihkan pandangan mereka.


Wajah Lidia semakin merona, dia memandang jakun Jos yang menelan makanannya bergerak turun naik.


Jantung Lidia berdegup semakin kencang.


Bersambung....