Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
105. Akhirnya bertemu.


Dan benar juga apa yang disampaikan oleh Jos, malamnya Morgan menelepon Bernard.


Morgan menyampaikan satu alasan untuk bertemu dengan Bernard, dengan kata-kata yang ramah bagaikan kakak yang perhatian pada adiknya.


Bernard yang mendengar perkataan Morgan tersebut hanya tersenyum sinis saja tanpa banyak bicara untuk menjawab apa yang dikatakan oleh Morgan.


Sampai Morgan menutup ponselnya, Bernard tidak begitu banyak bicara pada Morgan.


Bernard meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian bergabung dengan istrinya masuk kedalam selimut.


Menarik Viona masuk kedalam dekapannya, memeluk istrinya dengan lembut.


Bernard mengecup puncak kepala istrinya, lalu mengalungkan tangan Viona ke tubuhnya.


Tidak berapa lama, merekapun kemudian terlelap dengan nyamannya sambil berpelukan.


Besoknya, Jos sudah mengatur anak buahnya untuk bersiap terlebih dahulu berada di Mall, dengan berpakaian biasa dan tidak menyolok.


Sesuai instruksi dari Bernard, dia pun mengatur agar Tuan William juga akan hadir di sana.


Karena Ramses dan Paul disewa Morgan untuk menakuti Bernard, Jos mengupayakan anak buahnya jangan sampai terlihat mencurigakan.


Karena Ramses dan Paul mempunyai mata yang tajam dan insting yang kuat sebagai Bodyguard.


Morgan dan Andreas dengan penuh percaya diri berangkat terlebih dahulu ke Mall.


Dengan tampang seolah merekalah pemilik gedung tersebut, menginstruksikan kepada para pekerja renovasi untuk meninggalkan pekerjaan mereka.


Karena lantai dua puluh lima tersebut akan digunakan untuk suatu pertemuan penting.


Terjadi adu mulut dengan kepala pemborong renovasi bahwa Morgan bukanlah Bos mereka, jadi tidak ada hak untuk menghentikan pekerjaan mereka.


Cukup lama juga mereka berdebat, hingga akhirnya si kepala pemborong menghubungi Jos.


Dan setelah itu barulah mereka mau untuk pergi melepaskan pekerjaan mereka meninggalkan lantai dua puluh lima itu.


Morgan tersenyum senang, Andreas tertawa puas.


Mereka menunggu kedatangan Bernard.


Ramses dan Paul langsung berdiri waspada melihat Bernard datang.


Sikap dingin dan tenang Bernard membuat mereka gemetar juga, mereka tahu siapa Bernard, karena mereka sudah mengalami dihajar oleh Bernard.


Dan juga Jos, asisten Bernard tidak kalah menakutkan juga, dia hampir sama dengan Bernard.


Tapi karena ada Antonius bersaudara yang menjamin bahwa mereka akan bisa mengatasi Bernard, mereka ada sedikit berani.


Morgan dan Andreas dengan percaya diri mendekati Bernard.


"Oho! kamu membawa istrimu juga ya, ini pertemuan antara lelaki, kenapa kamu bawa istrimu? apakah kamu berharap agar istrimu membelamu kalau kami berlaku kasar padamu? sama seperti waktu itu, dia menarik rambut adikku Lidia?" kata Andreas tertawa lucu.


Bernard menatap Andreas, tatapannya sangat tajam seakan ingin menembus manik mata Andreas.


"Hei! matamu! apa kamu tidak senang dengan perkataan ku?" tanya Andreas dengan senyum mengejek.


Sementara itu Ramses dan Paul merasakan aura membunuh Bernard, sesama pemain bawah mereka tahu kalau Bernard sangat marah dengan perkataan Andreas tersebut.


"Mau mati ya!" gumam Bernard tajam menatap Andreas.


"Apa?!" Andreas terkejut mendengar perkataan Bernard tersebut, dia sangat jelas mendengar gumaman Bernard tersebut.


Tubuh Andreas ada rasa takut juga merasakan aura Bernard tersebut.


Seumur hidup Bernard tidak pernah melawan bahkan memaki mereka sebagai kakak tirinya.


Morgan juga merasakan aura Bernard tersebut, dia jadi waspada.


"Ayo, katakan maksud kalian memanggilku kemari, jangan mulut manis bicara di telepon tapi lain pada kenyataannya!" sahut Bernard tajam.


Morgan dan Andreas tanpa sadar menelan ludah mereka gugup.


Kenapa Bernard jadi berbeda, membuat mereka jadi takut.


Bersambung....