Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
𝟓𝟕. Perkumpulan bawah ( bagian 2 ).


Helikopter tidak lama kemudian mendarat dilapangan yang agak kecil dari lapangan yang pertama tadi.


Viona melihat laut ada di mana-mana, ini disebuah pulau ditengah lautan.


Helikopter mendarat dengan mulus dilandasan lapangan tersebut. Disusul dengan dua helikopter yang mengikuti mereka tadi.


Bernard kemudian turun terlebih dulu dari helikopter, setelah itu menunggu dibawah untuk membantu istrinya menuruni tangga helikopter.


Setelah Viona turun dengan aman, Bernard membawanya menuju mobil yang telah menunggu mereka tidak jauh dari helikopter mendarat.


Ada beberapa mobil terparkir disana menunggu mereka, sama seperti mobil yang mereka tinggalkan dilandasan utama tadi.


Mobil hitam anti peluru.


Ternyata mereka masih menempuh perjalanan lagi dengan menggunakan mobil untuk menuju tempat yang dituju.


Viona semakin merasakan lututnya gemetar, suaminya sepertinya seorang Pemimpin suatu kumpulan tertentu.


Viona menelan ludahnya tanpa sadar, tangannya yang berada dalam genggaman suaminya, tanpa sadar menggenggam tangan suaminya tersebut dengan begitu eratnya.


Bernard menoleh pada istrinya, merasakan tangannya digenggam begitu erat oleh istrinya.


Dia merasa istrinya pasti merasa sangat gugup. Bernard menarik istrinya kedalam dekapannya, memeluknya untuk menenangkan perasaannya yang gugup.


"Jangan takut ataupun gugup istriku, aku akan selalu disampingmu, setelah aku selesai mengurus mereka, kita akan segera pulang!" kata Bernard mengelus punggung istrinya sembari mengecup puncak kepala istrinya tersebut dengan sayang.


"Iya suamiku" angguk Viona.


Mobil meluncur dijalan yang beraspal mulus. Viona tidak percaya dengan apa yang dilihat nya, jalan di pulau itu sangat bagus, di aspal dengan mulus seperti jalan raya yang ada dikota.


Tidak berapa lama mereka sampai ditempat tujuan. Hanya menempuh perjalanan tiga menit karena jalan yang mulus.


Sebuah gudang yang sangat besar dan luas, dihalaman gudang ada beberapa kontener tersusun menumpuk dengan rapi.


Mobil perlahan berhenti didepan halaman gudang.


Begitu mobil telah sampai langsung seorang Bodyguard keluar dari mobil yang mengikuti mereka dari belakang.


Membuka pintu mobil untuk Bernard turun dari dalam mobil. Dan tetap membukanya agar Viona turun juga menyusul Bernard.


Setelah Bernard dan Viona turun, pintu ditutup kembali oleh Bodyguard tersebut.


Para Bodyguard Bernard berbaris menyambut Bernard dan Viona, mereka membungkuk hormat.


Bernard menggenggam tangan Viona masuk kedalam gudang yang sangat besar tersebut.


Pintu gudang dibuka oleh Bodyguard Bernard, dan Bernard pun masuk bersama Viona diikuti para Bodyguard nya dari belakang.


Begitu Bernard masuk kedalam gudang yang luas itu, diujung ruang gudang terdengar suatu perkelahian.


"Hentikann..!!" teriak seorang pria dari antara pria yang berada ditempat perkelahian tersebut dengan lantang.


"Tuan Bernard datang!!" serunya lagi dengan keras.


Tapi mereka tidak mau mendengarkan, perkelahian itu tetap berlangsung. Enam orang pria bertubuh kekar saling meninju dan menendang dengan bringasnya.


Bernard memandang pria-pria kekar tersebut masih saja saling adu jotos.


Seumur hidup Viona tidak pernah melihat perkelahian, ini baru pertama kalinya secara langsung dia melihat lelaki berkelahi.


Tubuh Viona gemetar, lututnya bergetar begitu shock nya melihat perkelahian itu.


Bernard merasakan Viona ketakutan. Di elusnya punggung Viona agar tidak takut.


"Diamlah sebentar disini istriku, aku akan membereskan mereka dulu, jangan takut!" kata Bernard pada Viona.


"Jaga Nyonya baik-baik, aku akan urus mereka!" kata Bernard pada para Bodyguardnya.


"Baik Tuan!" angguk mereka serentak seraya membungkuk hormat.


Bernard menggulung kedua lengan bajunya sampai siku lengannya. Lalu dia bergegas menghampiri kumpulan pria yang berkelahi tersebut.


Bersambung....