
Leo masih terus menggenggam tangan Anna sampai mereka menuju mobil diparkir.
Mereka tidak ada sedikitpun berkeinginan untuk melepaskan genggaman tangan mereka.
Leo membuka pintu mobil penumpang di sebelah sopir, dan mempersilahkan Anna untuk naik.
Setelah Anna duduk barulah mereka melepaskan tangan mereka, dan Leo kemudian membantu Anna memasang sabuk pengaman.
"Terimakasih kak!" ucap Anna.
Leo kemudian menutup pintu mobil pelan, dan kemudian memutar menuju pintu sopir.
Setelah memakai sabuk pengaman dengan benar, Leo pun perlahan membawa mobilnya keluar dari area parkir kaki lima tersebut.
"Ternyata makan di situ enak juga ya kak, makanya pengunjungnya sangat ramai!" sahut Anna setelah mobil jalan dengan mulus di jalan.
"Iya, tapi tidak baik karena terlalu ramai, membuat kita jalan berdesak-desakan, lain kali kalau mau cari makan, jangan makan di tempat ramai begitu!" kata Leo, nada suaranya terdengar sedikit tidak suka.
"Iya kak!" jawab Anna.
Eh! tiba-tiba Leo tersadar dengan apa yang barusan dia katakan.
Kenapa aku bicara seperti itu, seolah-olah kami ada hubungan! pikir Leo.
"Maaf Nona, aku bukan bermaksud..." Leo jadi salah tingkah, dia merasa malu.
"Kenapa kak, apakah kak Leo tidak ingin mengajakku lagi untuk keluar makan lain kali?" tanya Anna dengan nada suara sedikit tercekat.
Tidak tahu entah kenapa perasaan Anna jadi sedih mendengar kata maaf Leo.
"Bukan begitu, rasanya aku begitu lancang mengatur Nona untuk tidak makan di tempat seperti itu!" kata Leo mencoba untuk meralat perkataannya.
"Menurutku tidak lancang, kan benar tempat itu sangat padat dan jalan saja sangat sempit" kata Anna.
"I..iya" Leo jadi salah tingkah.
Anna memandang Leo yang tengah menyetir.
"Apakah memang kak Leo tidak ingin lagi mengajakku untuk makan di luar?" tanya Anna lagi menatap Leo dengan lekat.
Leo menelan ludahnya gugup, dia merasakan mata Anna masih saja menatapnya.
"Ya, lain kali kita makan di luar lagi" kata Leo akhirnya, dia merasa tidak enak melihat tatapan mata Anna yang penuh harap untuk bisa jalan lagi dengannya.
Anna langsung tersenyum senang mendengar perkataan Leo tersebut.
Leo pun ikut tersenyum juga, dia juga sebenarnya ingin jalan lagi dengan Anna.
Tapi Leo merasa, apakah dia memang bisa untuk jalan sama lagi dengan Anna.
Mobil pun tidak lama kemudian sampai di depan rumah Anna.
Leo menghentikan mobilnya.
Mereka sepertinya enggan untuk berpisah.
Leo perlahan menoleh kearah Anna yang terlihat diam sembari meremas tangannya.
Perasaan Leo campur aduk memandang Anna, kejadian tadi yang mereka alami rasanya sangat menyenangkan.
Mereka rasanya seperti sudah dekat sekali, dan bahkan tadi mereka sudah saling berpegangan tangan.
Ada semacam perasaan yang sangat kuat didasar hati Leo ingin lebih dekat ingin mengenal Anna.
Anna menoleh kearah Leo, dan mereka pun saling menatap satu sama lain.
Anna terus saja meremas tangannya, dia bingung dengan dirinya, begitu enggan untuk turun.
"Nona..." panggil Leo.
"Apakah aku boleh minta nomor ponselmu?" tanya Anna.
"Oh iya, tentu saja boleh!" kata Leo dengan cepat, hati Leo begitu senang Anna berinisiatif bertukar nomor ponsel dengannya.
Anna mengambil ponselnya dari tas kecilnya, lalu memberikannya pada Leo.
Leo menerima ponsel Anna, lalu menyimpan nomor ponselnya di dalam ponsel Anna.
Setelah itu menyerahkannya pada Anna.
Anna menerima ponselnya, dan melihat nomor yang telah ditulis Leo tersebut.
Anna pun menekan nomor tersebut, dan ponsel Leo di dalam sakunya pun berbunyi.
Leo merogoh sakunya dan melihat layar ponselnya, di layar tampak ada satu nomor baru.
"Itu nomorku" Kata Anna.
"Iya, baik Nona" jawab Leo menyimpan nomor Anna.
Leo pun kemudian turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Anna.
Pintu mobil kemudian ditarik Leo terbuka.
Kemudian Leo membantu Anna untuk melepaskan sabuk pengaman Anna.
Setelah sabuk Anna lepas, Leo memegang tangan Anna untuk membantunya turun.
Dan Anna pun akhirnya turun juga dari mobil.
Leo mengantarkan Anna sampai ke depan pintu pagar rumah Anna.
Setelah Anna masuk kedalam rumahnya, barulah Leo pulang ke Mansion kastil.
Bersambung.......