Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
204. Panthouse yang Mewah.


Sementara itu ditempat lain di sebuah butik gaun pengantin, Jos dan Lidia sedang melakukan Fitting baju pengantin.


Lidia memilih gaun pengantin pilihan Jos.


Gaun pengantin tersebut ternyata sangat pas ditubuh Lidia dan membuat Lidia sangat cantik.


Jos sesaat tidak berkedip melihat begitu cantiknya Lidia, dia sungguh terpana.


" Bagaimana? apakah cantik Josku?" tanya Lidia dengan tersenyum manis sembari memutar tubuhnya memperlihatkan bentuk gaun pengantin yang dikenakannya.


Jos mengerjapkan matanya.


" Iya..sangat cantik, cantik sekali aku suka " kata Jos dengan cepat.


" Baiklah...ini saja, aku juga suka " kata Lidia.


Mereka pun akhirnya selesai juga fitting baju pengantin, tinggal satu hari lagi mereka akan melangsungkan pernikahan mereka.


Memikirkan hari pernikahannya, Jos merasa dirinya dari semenjak Orang tua Lidia mengungkapkan keinginan mereka pada Jos untuk menikahi Lidia, dia terus saja gugup.


Setelah mereka selesai fitting baju pengantin, Jos membawa Lidia untuk membeli keperluan Lidia untuk memasuki Panthouse nya.


Setelah menikah Jos akan langsung memboyong Lidia ke Panthouse nya, dan disana belum ada keperluan yang berkaitan dengan wanita.


Lidia tentu saja bersemangat untuk berbelanja keperluannya, dia akan menempatkan barangnya disetiap sudut Panthouse Jos, agar kehadirannya sebagai Nyonya Jos nyata dikediaman Jos.


Jos seperti mimpi saja, sekarang berjalan bergandengan tangan dengan Lidia yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Tidak lama ini dia hanya dapat menyaksikan kebersamaan dan kemesraan Tuannya bersama Nyonya nya kemanapun pergi, sekarang dia merasakan bagaimana yang dirasakan oleh Tuannya tersebut.


Ini ternyata sangat menyenangkan, berjalan dengan orang yang kita cintai.


Rasanya ingin berlama-lama terus bersamanya, berdua kemanapun pergi.


Tiga jam mereka berkeliling berbelanja keperluan Lidia, dan bagasi Jos hampir penuh barang belanjaan Lidia.


Tapi anehnya Jos tidak merasa tidak senang dengan barang yang dibeli Lidia yang banyak, dia malah terlihat senang bisa menggesek kartunya untuk membayar belanjaan Lidia.


Selama ini dia tidak pernah mempergunakan uangnya untuk berbelanja, sebagai lelaki dia tidak begitu banyak untuk membelanjakan keperluannya.


Dua belas tahun Jos ikut dengan Bernard, hasil kerja nya dia simpan dengan baik.


Kadang Jos tidak tahu untuk mempergunakan uangnya mau kemana, dia hanya tahu untuk merenovasi Panthouse nya agar lebih nyaman untuk tinggal disana.


" Apakah masih ada lagi?" tanya Jos melihat barang belanjaan Lidia.


" Tidak ada lagi, sudah cukup...ini sudah banyak, lain kali lagi kita belanja " kata Lidia sembari meletakkan paper bag terakhir yang dia pegang.


" Baiklah...ayo kita pergi " Jos menutup pintu bagasi mobilnya.


Jos pun kemudian membawa Lidia ke Panthouse nya.


Jos membawa Lidia ke gedung Apartemen, yang dikenal sebagai Apartemen termewah dikota mereka.


Setelah mobil terparkir di basement gedung dengan baik, Jos membawa Lidia masuk kedalam lift, tangan mereka berdua penuh dengan membawa semua barang belanjaan Lidia.


Jos menekan nomor lantai paling teratas gedung Apartemen tersebut.


Ting!


Dengan cepat mereka sudah sampai di lantai paling atas gedung apartemen tersebut.


Lidia termangu melihat Panthouse Jos yang begitu mewah.


Mulutnya sampai menganga melihat rumah Jos yang bisa tembus pandang melihat keluar Panthouse, seluruh kota bisa terlihat disini.


Lidia meletakkan barang bawaannya dengan sembarangan, kakinya melangkah mendekati tembok Panthouse Jos yang tembus pandang.


Dia baru sadar melihat sekitar nya, Panthouse Jos ternyata tidak jauh letaknya dari kantornya.


Ini suatu kebetulan yang tidak terduga, dia akan cepat sampai kekantor kalau bekerja.


Jos memunguti barang yang diletakkan Lidia sembarangan ke lantai, menuruhnya keatas sofa.


Membariskan paper bag tersebut dengan rapi disana.


Dia tersenyum melihat Lidia yang begitu takjub dengan Panthouse nya, yang sebentar lagi juga akan menjadi rumah Lidia.


Lidia mengedarkan pandangan keseluruh Panthouse Jos, kakinya melangkah semakin dalam.


Ruang makannya dan dapur digabungkan menjadi satu, ruang itu terlihat jadi besar dan luas.


Lidia lupa dengan barang bawaannya, dia sangat terkagum-kagum dengan Panthouse Jos.


Kakinya melangkah menaiki lantai atas, dan diikuti oleh Jos dari belakang.


Sesampainya dilantai atas, Lidia kembali terkagum-kagum.


Kamar Jos yang luas sungguh mewah, dan bisa melihat tembus pandang keluar gedung.


Lidia melihat semua dengan penasaran, membuka kamar mandi dan membuka walk in closet.


Lidia tidak percaya akan tinggal diatas gedung pencakar langit, dan akan dapat melihat kotanya setiap hari lewat rumah mereka.


Jos hanya tersenyum-senyum saja melihat raut wajah Lidia yang terkagum-kagum tersebut.


" Sudah selesai terkagum-kagumnya?" tanya Jos mendekati Lidia yang tengah melihat keluar kamar yang tembus pandang.


Lidia berbalik menghadap Jos, senyumannya terlihat begitu merekah.


" Aku tidak menyangka Josku tinggal di Panthouse yang ternyata dekat dengan kantorku...jadi bisa cepat berangkat kerja " kata Lidia, lalu meraih tangan Jos.


Menggenggam tangan Jos dengan erat dalam tangannya yang kecil.


" Oh, baguslah kalau begitu " kata Jos, " Sayang bagaimana kalau kita turun untuk minum dulu?" usul Jos, dia merasa tidak enak berduaan dengan Lidia didalam kamar.


" Apa? katakan lagi Josku...aku mau dengar lagi!" sahut Lidia melompat kesenangan mendengar Jos memanggilnya dengan kata 'sayang'.


" Sayang..." panggil Jos dengan sedikit malu, dia belum terbiasa, tadi hanya spontan saja mengucapkannya.


" Aaa...aku senang sekali " sikap manja Lidia langsung kumat.


Lidia menghamburkan tubuhnya memeluk Jos.


Lidia begitu senang sekali Jos memanggilnya dengan panggilan yang mesra.


Dipeluk nya Jos dengan erat, hati Lidia begitu sangat bahagia.


Jos menyambut pelukan Lidia tersebut, memeluk tubuh Lidia dengan erat juga.


Bersambung.......