Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
140. Viona hamil.


Viona perlahan membaringkan dirinya keatas tempat tidur.


Dan Bernard juga ikut mendekat ke tepi tempat tidur, dia menggenggam tangan Viona erat.


Dia semakin gugup saja, jantungnya tidak berhenti berdegup kencang.


Dokter tersebut mengambil Stetoskop, lalu membuka sedikit baju bagian atas Viona untuk memeriksa denyut jantung Viona.


Dokter tersebut tersenyum setelah memeriksa jantung Viona, dan beralih memeriksa bagian nadinya.


Bernard masih menggenggam tangan istrinya erat, dia memperhatikan apa saja dan cara Dokter tersebut memeriksa istrinya.


"Anda sehat Nona, jantung dan peredaran darah anda sangat baik, sekarang coba untuk menampung air seni, silahkan untuk masuk kedalam kamar kecil itu!" kata Dokter tersebut sambil menyerahkan sebuah wadah plastik kecil pada Viona.


Bernard membantu Viona untuk turun dari tempat tidur pasien, lalu menerima wadah yang diberikan Dokter.


Bernard memberikan wadah tersebut pada Viona saat akan memasuki kamar kecil yang ditunjuk oleh Dokter tersebut.


Sementara menunggu Viona dari keluar dari kamar kecil, Dokter tersebut memakai sarung tangan karetnya.


Tidak sampai tiga menit Viona keluar dari dalam kamar kecil tersebut.


Dia memberikan air seni yang telah ditampungnya tersebut kepada Dokter.


Dokter tersebut menerima wadah yang berisi air seni Viona, lalu kemudian mengambil sebuah alat kecil berwana putih.


Alat tersebut dicelupkan Dokter tersebut kedalam wadah berisi air seni Viona.


Dokter tersebut menunggu alat tersebut bekerja, Bernard dan Viona memandang alat yang dicelupkan Dokter dengan perasaan campur aduk.


Kira-kira sudah menunjukkan hasil positif, Dokter tersebut mengangkat alat tersebut.


Dia tampak tersenyum cerah dan kemudian senyumannya melebar menunjukkan sederetan giginya yang putih.


"Selamat Tuan Bernard, anda sekarang sudah menjadi seorang calon Papa, istri anda positif hamil!" kata Dokter tersebut tersenyum cerah.


Bernard dan Viona membeku ditempat mereka tidak percaya apa yang dikatakan Dokter tersebut.


Degup jantung Bernard berpacu dengan cepat, tubuhnya bergetar.


Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Suami Nona yang menunjukkan gejalanya, apakah beberapa hari ini anda ada melihat perubahan di diri suami anda?" tanya Dokter tersenyum memandang Viona.


"Iya, dia hanya akan memakan makanan yang saya masak, dan akan mual kalau memakan masakan orang lain!" kata Viona.


"Selain itu apa lagi?" tanya Dokter tersebut.


"Saya suka mual dan merasa tidak enak badan!" kata Bernard menjawab pertanyaan Dokter tersebut.


"Ya...anda mengalami yang namanya Couvade Syndrome yang biasa disebut Kehamilan simpatik, karena itulah anda mengalami yang seharusnya istri anda alami, anda mengidam, Tuan!" kata Dokter tersebut tersenyum cerah.


Bernard menelan ludahnya tanpa sadar.


"Anda begitu mencintai istri anda, saya turut berbahagia untuk anda berdua, Tuan Bernard anda seorang suami yang begitu peduli pada istri anda, sampai gejala kehamilan awal istri anda, anda yang mengalaminya, istri anda baru hamil dua minggu, karena itulah istri anda tidak bisa memastikan dia hamil, karena masa datang bulannya diakhir bulan!" kata Dokter tersebut menjelaskan.


Tubuh Bernard semakin gemetar, dia akan menjadi seorang Ayah.


Dipandangnya istrinya tidak percaya, istrinya hamil, hasil buah cinta mereka.


Bernard meraih Viona kedalam pelukannya, dia memeluk Viona dengan erat.


Viona juga sama gugupnya, dia membalas pelukan suaminya tersebut dengan erat juga.


"Istriku!" gumamnya bergetar, dia begitu bahagia.


Sangat bahagia, hingga tanpa sadar Bernard meneteskan air mata.


Dia akan memiliki anak, miliknya sendiri, benihnya yang tumbuh di rahim istrinya.


Tubuh Bernard bergetar menahan tangisnya yang ingin meledak, dia tiba-tiba teringat dengan Ibunya.


Tangis Bernard pun meledak, suara tangisannya terdengar. Seandainya Ibunya ada disini bersama mereka, pasti akan ikut berbahagia bersama dengannya.


Viona juga ikut meneteskan air matanya, dia begitu bahagia akhirnya bisa mengandung anak suaminya.


Dokter kandungan tersebut yang melihat mereka berpelukan dengan bahagia, ikut terharu juga.


Bersambung.....