Suamiku Bukan Sampah

Suamiku Bukan Sampah
200. Mengenang masa lalu.


Mereka tertidur sampai Anna merasa perutnya lapar, barulah Anna bangun.


Leo terbangun merasakan pergerakan yang dibuat Anna.


" Kenapa sayang?" tanya Leo melihat Anna akan turun dari tempat tidur.


" Aku lapar kak Leo.." desis Anna memegang perutnya yang terasa lapar.


" Oh..sebentar sayang, jangan turun " kata Leo.


Tangan Leo memencet bel disamping tempat tidur dekat nakas.


Setelah itu Leo bangkit dari berbaringnya, dan masih dengan tubuh yang masih polos Leo turun dari tempat tidur.


" Sebentar lagi sarapan akan datang...mari kubantu untuk membersihkan diri " kata Leo.


Leo menyingkirkan selimut yang menutup tubuh Anna, dan Leo melihat darah Anna hasil perbuatannya barusan diatas kain sprei.


Dan darah itu terlihat banyak juga membasahi sprei, itu pasti sakit sekali! pikir Leo.


" Maaf sayang...apakah masih terasa sakit?" tanya Leo menarik Anna kedalam dekapannya.


" He-em..." angguk Anna membalas pelukan Leo, menempelkan pipinya kedada Leo.


Leo memeluk Anna erat, dan mengusap-usap punggung Anna dengan lembut.


" Maaf sayang.." gumam Leo.


Kemudian Leo mengangkat Anna, membopongnya masuk kedalam kamar mandi.


Leo membantu Anna membersihkan diri.


Anna meringis saat merasakan pahanya bergesekan dan mencoba untuk melangkah.


Leo berulang kali selalu mengatakan maaf pada Anna, membuat Anna terus tersenyum mendengar perkataan maaf Leo.


" Kak...kalau kita tidak melakukannya, kita tidak akan punya bayi...tentu akan sakit karena baru dibuka, mungkin kalau kita melakukan untuk beberapa lagi lain waktu tidak akan sakit lagi " kata Anna.


Mendengar kata 'bayi' Leo terlihat begitu bersemangat, wajahnya berbinar-binar.


" Iya benar sayang...kita harus sering melakukannya agar tidak sakit lagi, agar kita cepat dapat bayi " kata Leo dengan suara yang senang.


" Ih..kak Leo " Anna memukul dada Leo cemberut, begitu dia mengatakan akan punya bayi, suaminya tersebut langsung bersemangat, " Jangan terlalu sering, bisa remuk badanku "


" Sepertinya harus sering-sering sayang " kata Leo tersenyum lebar memeluk Anna dari belakang, seraya tangannya mengelus perut Anna lalu mengecup tengkuk Anna bertubi-tubi.


Anna terkikik merasakan tengkuknya dikecup Leo, Anna merasa kegelian.


Setengah jam mereka dikamar mandi, akhirnya mereka pun selesai juga mandi.


Leo masih tetap membopong Anna, membawa istrinya keluar dari dalam kamar mandi.


Tempat tidur telah rapi, sepertinya selama mereka mandi, kamar telah dibersihkan pelayan.


Dan sarapan mereka telah ditaruh diatas meja sofa.


Mereka pun sarapan masih dengan memakai bathrobe.


Sarapan yang mengepul masih hangat membuat perut semakin lapar saja.


Sementara itu di Mansion kastil, dikamar utama lantai dua Bernard sudah tidak begitu mual-mual lagi seperti biasanya di pagi hari.


Hari ini Bernard dan Viona akan menghabiskan waktu mereka berdua, berjemur ditepi kolam berbaring santai di kursi malas.


Jos hari ini ada kencan dengan Lidia dan sedang mempersiapkan pernikahannya dua hari lagi.


Bernard hari ini juga berniat akan membawa Viona untuk cek-in kandungannya, dan setelah itu akan pergi untuk melihat tempat tidur bayi.


Dan berencana untuk mendekorasi di kamar sebelah untuk kamar bayi mereka.


Bernard menoleh memandang Viona yang berbaring disebelahnya, Viona memejamkan matanya menikmati sinar matahari di kulitnya.


Bernard tersenyum memandang wajah istrinya tersebut, mengelus pipinya dengan lembut.


Perut istrinya sudah semakin membengkak karena mengandung bayi mereka.


Tapi, Bernard melihat istrinya tersebut semakin cantik saja walaupun perutnya sudah mulai membengkak.


"Istriku...apakah kita makan siang diluar? setelah itu baru pergi melihat keperluan bayi kita?" tanya Bernard mengecup pipi Viona, sambil tangannya mengelus perut Viona dengan lembut.


" Iya kak...kita makan diluar saja, sekalian juga melihat baju untuk ibu hamil, bajuku sudah sempit...perlu beli yang agak longgar sedikit agar perutku tidak sesak " kata Viona, lalu mengecup hidung Bernard yang begitu dekat ke wajahnya.


" Baik sayang "


Setelah setengah jam bersantai, mereka pun bersiap-siap akan pergi turun gunung.


Karena Jos pergi kencan, Jos digantikan oleh Bodyguard Bernard yang lain untuk menjadi sopir sementaranya.


Bernard memilih tempat makan siang mereka dicafe tempat Viona yang selalu mencuri lihat dirinya dari jarak jauh.


Viona terkejut juga dibawa Bernard ke cafe tersebut, dia tersenyum mendengar suaminya ingin duduk ditempat biasanya dia mencuri lihat suaminya.


Viona menunjuk satu meja dengan sepasang kursi di sudut cafe.


Bernard menatap meja tersebut dengan berbagai macam pikiran.


" Aku ingin membeli tempat ini " tunjuk Bernard pada meja biasanya Viona duduk makan sendirian, " Dimeja ini, siapapun tidak diperbolehkan lagi untuk duduk dan makan "


Viona tertawa lucu mendengar perkataan suaminya tersebut, sifat posesif Bernard mulai keluar lagi.


Bernard pun menghenyakkan bokongnya dikursi tempat biasanya Viona duduk.


Dan Viona pun duduk di kursi satunya lagi.


Bernard kemudian mengedarkan pandangannya, untuk melihat dan mengingat dimana dia dulu biasanya duduk untuk memantau gedung didepan cafe tersebut.


Mata Bernard langsung diam disatu titik, melihat satu meja diujung cafe, disudut dekat dinding kaca cafe yang dapat melihat gedung miliknya yang baru pertama kali dibangunnya.


Ya, disitulah dia biasanya duduk menikmati makan siangnya, sambil memantau pembangunan proyek gedung Antares didepan cafe tersebut.


Jadi di kursi inilah dulu, seorang gadis remaja sering memperhatikan dirinya diam-diam.


Sudut bibir Bernard terangkat tersenyum membayangkan dirinya selalu diperhatikan Viona diam-diam.


Bersambung.....