
Setelah Bernard selesai memilih kandidat yang cocok untuk pengawal yang dipesan, Bernard pun bersiap kembali untuk pulang bersama istrinya.
Bernard membersihkan diri dan berganti baju yang bersih.
Lalu membawa istrinya untuk kembali pulang kerumah mereka.
Perasaan Bernard sekarang sudah tenang, istrinya sudah mengetahui tentang siapa dia sebenarnya.
Sepanjang perjalanan seperti biasa dia selalu menggenggam tangan istrinya, dan sesekali mengecupnya dengan penuh sayang.
Hari sudah malam saat mereka sampai di Mansion.
Bernard meminta Viona memasak, dia ingin memakan masakan istrinya.
Viona menuruti kemauan suaminya, memasak makan malam mereka.
Karena hari ini Bernard sangat capek, setelah beristirahat sebentar sehabis makan malam, dia mengajak istrinya untuk tidur lebih awal.
Viona menuruti suaminya, dia juga capek, capek melihat suaminya menghajar orang, capek karena perjalanan mereka yang panjang.
Mereka sama-sama capek.
Viona pun bergabung dengan suaminya kedalam selimut, memeluk tubuh suaminya sebagai guling.
Esoknya Viona bangun kesiangan, matahari sudah terlihat masuk dari celah-celah jendela balkon kamar.
Viona melihat jam diatas nakas, jam 9 pagi.
Ternyata dia benar-benar sangat capek sekali, sampai kesiangan bangun.
Dia menoleh ke samping, kosong.
Suaminya ternyata yang telah bangun lebih awal. Viona merenggang kan tubuhnya, dan kemudian turun dari tempat tidur.
Masuk ke kamar mandi membersihkan diri dan menyikat gigi.
Setelah dia selesai berganti baju, seorang Pelayan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan kamar.
Viona meninggalkan kamar agar Pelayan lebih leluasa untuk membersihkan kamar.
Kemudian dia pun pergi mencari suaminya, perutnya terasa sudah mulai lapar.
Saat menuju ruang makan Bibi Rose juru masak Mansion mengatakan kalau sarapan sudah tersedia di meja makan.
"Sarapan sudah dimeja makan Nona, Tuan Bernard sudah selesai sarapan, dia sekarang berada dikolam renang!" sahut Bibi Rose.
"Oh, iya Bi, terimakasih!" kata Viona.
Setelah selesai sarapan Viona menuju kolam renang melihat suaminya.
Bernard terlihat berbaring dikursi malas ditepi kolam, sepertinya dia berjemur.
Dan kelihatannya baru selesai berenang.
Viona tersenyum melihat suaminya tersebut yang tampaknya sedang menikmati sinar matahari membakar kulitnya.
Viona tidak mau mengganggu suaminya berjemur, dia pergi menuju ayunan yang berada dibawah pohon.
Viona sangat menyukai sofa ayunan, dia bisa berbaring disana.
Mengangkat kakinya berselonjor di ayunan sofa tersebut, sambil terayun-ayun dia mengotak-atik ponselnya.
Semenjak dia menikah sudah jarang melihat ponselnya. Viona melihat banyak chat dari temannya.
Viona mengabaikan chat yang tidak perlu dijawabnya.
Dia membaca chat dari Lidia dan Anna, dia tersenyum lucu membaca chat mereka.
Tanpa sadar dia sampai terkekeh sendiri membaca isi chat tersebut.
Lidia dan Anna memang suka jahil, komentar mereka kadang aneh- aneh. Tanpa sadar Viona cekikikan membaca chat Lidia.
Viona tidak sadar dari tadi sudah ada seseorang berdiri tidak jauh dari tempat dia berayun, melihat dia tertawa sendirian sambil melihat ponselnya.
Wajah orang tersebut tampak sangat tidak senang, melihat Viona terlihat hanya fokus pada ponsel ditangannya sambil tertawa.
Viona merasakan sebuah bayangan mendekat padanya, Viona mendongakkan kepalanya untuk melihat bayangan tersebut.
"Suamiku?" Viona melihat wajah Bernard sangat dingin dan datar.
"Ada apa?" tanya Viona heran, dia pun bangkit untuk duduk.
"Kamu tertawa sama siapa?" tanya Bernard tidak senang.
"Ini..dengan Lidia!" kata Viona.
"Apa kamu tidak melihat aku duduk disana, kenapa malah duduk disini?" tanya Bernard kesal.
"Kamu lebih senang bicara dengan orang lain dari pada menghampiri suami sendiri!" kata Bernard lagi yang terlihat semakin kesal.
Viona diam tidak bisa bicara untuk menjawab suaminya.
Suaminya sepertinya merajuk.
Bersambung.....