Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Lara Handaka si Selebgram Hot


Lara


Aku menatap Tante Sofie yang sesekali tersenyum seakan melihat Agni ada di depannya. Kadang, membaca ceritanya sangat semangat. Tertawa-tawa dan sangat ekspresif.


"Maafin Mama ya, Ra. Maafin kesalahan kami berdua selama ini." pinta Anggi dengan berderai air mata. Sudah beberapa kali Anggi meminta maaf.


Aku tersenyum. "Aku sudah memaafkan kalian kok , Gi. Biar bagaimanapun, kalian adalah keluargaku. Terlepas dari semua yang terjadi, mungkin ini jalan dari Allah buat kita semua."


Aku menatap Anggi dan menghapus air mata di wajahnya. "Hiduplah dengan baik bersama Tante Sofie sesuai apa yang Agni mau. Agni sayang kalian berdua, meski selama ini hanya bisa memendam rasa sayangnya dalam hati. Mulailah semua dari awal. Kalau kamu mau tinggal dekat Panti, tak apa. Aku akan kembali tinggal di tempat Papa. Agar saat kalian datang aku bisa menyambut kedatangan kalian. Kabari aku kapan pun kamu butuh bantuan. Sebagai sesama keluarga harus saling membantu bukan?!"


Anggi mengangguk dan lalu memelukku. "Kenapa aku bisa membenci dan menjahati saudara sebaik kamu Ra?! Aku janji, aku akan balas semua kejahatanku dengan kebaikan demi kebaikan dalam hidupku. Terima kasih sudah memaafkan kami."


Aku tersenyum, betapa kini semua masalah sudah terselesaikan dengan baik. Anggi melepaskan pelukannya.


Aku berjalan mendekat dan berjongkok di samping Tante Sofie yang sedang membaca buku cerita. Aku terdiam dan menunggu reaksi Tante Sofie.


Meski awalnya asyik sendiri, perlahan Tante Sofie menyadari keberadaanku. Ia menutup buku ceritanya dan melihat ke arahku.


"Amel? Amel udah pulang? Amel lama ya nunggu Mama? Mama lagi bacain cerita buat... Amel. Loh kok ada dua Amel?" Tante Sofie terlihat kebingungan. Menatap bolak balik makam Agni dan wajahku.


Aku tersenyum dan menggenggam tangannya. Tangan yang dulu selalu menjahatiku, namun kini mengenaliku saja Ia tak bisa.


"Ini Lara, Tante. Tante ingat sama Lara enggak?" tanyaku dengan lembut.


Tante Sofie terlihat berpikir sejenak. Ia lalu menggelengkan kepalanya. "Kamu bukan Amel!" katanya kecewa. Setelah bersedih sebentar, wajahnya tiba-tiba ceria. "Kamu mau lihat cincin pemberian Amel tidak?"


Rupanya Tante Sofie kembali berhalusinasi. "Amel beliin cincin. Cantik sekali." ditunjukkannya jari manisnya yang terdapat cincin Agni melingkar dengan cantiknya. "Cantik bukan?!" tanyanya sambil mengagumi cincin tersebut.


Aku tersenyum dan ikut memuji cincin miliknya. "Iya. Cantik sekali."


"Amel harus tau!" Tante Sofie lalu menunjukkan cincinnya pada makam Agni dan mulai berbicara seorang diri. "Tuh Mama bilang apa, cantik! Seperti Amel!"


Tante Sofie kembali asyik dengan dunianya sendiri. Berbicara di depan makam seakan Agni bisa diajaknya bicara.


Aku pamit pada Anggi yang terus menemani Mamanya dengan setia. Kami bertiga lalu pulang ke rumah.


****


Aku dan keluarga kecilku memutuskan kembali tinggal di rumah Papa Handaka. Rumah sebenar-benarnya rumah.


Aku melakukan renovasi dan membuat rumah Papa menjadi lebih nyaman lagi ditinggali. Aku bahkan mengajak Mama Bima untuk tinggal bersama kami. Rumah Papa Handaka sangat besar, tak masalah menambah penghuni baru.


Aku tetap membuat konten yang positif. Kugunakan lagi akun Lara Handaka si Selebgram Hot. Uang hasil endorse kusumbangkan ke Panti Asuhan yang dipimpin Kak Nisa.


Aku dan keluargaku juga rajin ke Panti. Bahkan, kami mulai membantu Panti lain yang juga butuh sumbangan dana.


Anggi dan Tante Sofie yang perlahan membaik, kini mengabdikan dirinya di Panti. Mengurus anak-anak kurang beruntung yang tak memiliki orang tua.


Tante Sofie berubah menjadi jauh lebih baik lagi. Ia bahkan selalu menyambut kedatanganku dengan hangat.


Perusahaan tetap dipimpin oleh Ditya. Aku lagi-lagi gagal bekerja di kantor. Lebih enak bekerja di depan kamera, tinggal ngomong doang beres.


Sudah bisa diduga, bisnis yang dijalaninya gagal. Semua karena penyelewengan yang Ia lakukan demi memenuhi gaya hidupnya. Beberapa kali Arya mengajak Anggi balikan, namun selalu ditolak.


Anggi sudah hidup bahagia bersama Mamanya. Ia tak lagi mau hidup dengan benalu macam Arya. Arya juga pernah datang ke tempatku. Memohon agar diberikan pekerjaan lagi, sayangnya Ditya tak memberi kesempatan. Bagi Ditya, semua kesempatan untuk Arya sudah tak ada lagi.


Arya pun akhirnya kembali menjadi karyawan baru di salah satu perusahaan kecil. Kudengar Ia bekerja dengan tekun di sana. Semoga saja Ia selamanya bekerja benar dan hidup benar juga tentunya.


"Jangan jauh-jauh Sayang mainnya!" teriak Ditya pada Lily yang sedang mengayuh sepedanya. Kuncir kuda miliknya mengayun di setiap kayuhan kakinya.


"Iya Papa!" jawab Lily sambil berteriak.


Aku melihat kebahagiaan keluarga kami sambil dalam hati mengucap syukur atas segala nikmat yang kumiliki. Keluarga bahagia yang tak semua orang bisa dapatkan.


Ditya dan Lily adalah hartaku yang paling berharga. Oh iya, ada lagi harta paling berharga yang kini sedang ada dalam perutku.


Ditya memelukku dari belakang. Wajahnya diletakkan di bahuku dan tangannya memelukku sambil mengusap perutku yang membuncit.


"I love you, Sayang!" ucap Ditya seraya mengecup pipiku.


"I love you too juga Sayangku!" balasku.


Kami menatap Lily yang masih asyik bermain sepeda. "Terima kasih sudah memberikan semua kebahagiaan ini, Sayang!" kata Ditya.


"Aku juga berterima kasih karena kamu bersabar menungguku dan selalu mencintaiku. Aku, Lily dan calon anak kita sangat sayang sama kamu!"


Ditya tersenyum dan kembali mencium pipiku. "Aku akan terus menunggu kamu. Aku akan terus mencintai kamu. Aku akan terus menyayangi kamu. Jadi, kamu harus terus mencintaiku juga, seperti mentari yang terus menerangi bumi dengan sinarnya."


Senyum di wajahku menghilang manakala melihat mentari sudah meredup dan berganti dengan awan hitam. "Tuh mentarinya udah ganti awan mendung! Panggil Lily nanti kehujanan!"


Romantisme kami berubah menjadi gerakan cepat sebelum hujan datang. "Lily! Cepat kesini! Mau hujan!" teriak Ditya.


Lily menggowes sepedanya menuju kami, bersamaan dengan hujan yang mulai turun. Kami pun berjalan cepat menuju tempat berteduh. Untunglah hanya kena sedikit hujan saja.


"Mama! Kacamata Mama basah!" teriak Lily.


"Oh iya. Terima kasih, Sayang!" kulepas kacamataku dan membersihkannya dengan tisu.


Ya, aku kembali menjadi Lara Handaka. Mataku sudah dioperasi lasik namun tetap harus memakai kacamata.


"Kamu mau pakai kacamata atau tidak, tetap cantik di mata aku!" itu yang selalu Ditya bilang.


Jadi, say bye to Lara cupu... say yes to Lara Handaka si Selebgram Hot. Karena konten harus yang bermutu dan bermanfaat untuk orang lain.


Aku Lara Handaka, ini kisah hidupku. Bagaimana dengan kamu?


...Tamat...


****


Terima kasih yang sudah mengikuti novel ini sampai tamat. Semoga kalian suka ya. Jangan lupa baca novel aku yang lain. Terima kasih atas dukungannya. Luv u all 😍😍😍