
Lara
Benar yang dikatakan oleh Ditya, kalau acara akan segera dimulai. Aku melihat sudah ada pengunjung yang berdatangan ke Panti. Bunga bilang, biasanya yang datang adalah para donatur tetap yang sudah diberi undangan sebelumnya oleh Kak Nisa selaku pengurus Panti.
Kak Nisa pun memulai acara dengan melakukan doa bersama lalu memberikan kata sambutan. Kak Nisa juga mengucapkan terima kasih kepadaku dan Bima yang mau berbagi di Panti ini.
Aku datang ke panti ini tidak dengan tangan kosong tentunya. Sebelumnya, Bima sudah membawakan barang-barang yang sudah kami beli untuk keperluan sekolah adik-adik di Panti seperti buku, tas dan peralatan menulis.
Selesai membuka acara, Kak Nisa menghampiriku. Sejak tadi, kami belum sempat mengobrol berdua. Kak Nisa asyik berbicara dengan Ditya, sementara aku dan Bima sibuk dengan persiapan syuting.
"Bagaimana Lara syuting di Panti ini? Maaf ya kalau banyak kekurangan di sini. Maklum saja, kami hanya mengandalkan uang dari donatur untuk perawatan Panti ini. Untungnya sekarang anak-anak sudah mulai mandiri dan pintar membuat kerajinan tangan yang bisa kami jual. Hasilnya lumayan untuk tambahan pemasukan di Panti ini." Kak Nisa berbicara dengan suara yang lembut. Begitu menenangkan rasanya. Seakan Kak Nisa adalah kakakku sendiri.
"Aku suka Kak syuting disini. Anak-anaknya ramah, Panti ini juga terasa hangat dan aku disambut sekali saat berada disini. Aku merasa seperti tidak sedang syuting tapi seperti sedang berada di rumah sendiri. Apalagi Kak Nisa baik banget sampai mengijinkan kami untuk merekam semua kegiatan selama kami di sini. Rencananya, aku dan Bima akan menyumbangkan sebagian dari penghasilan kami hari ini untuk Panti Asuhan Kak Nisa. Kak Nisa bisa gunakan untuk biaya operasional Panti. Kedepannya, aku juga ingin bisa menjadi donatur tetap di sini. Doakan ya Kak semoga rezeki aku makin banyak jadi banyak juga yang aku sumbangin di sini." aku tidak mau menggunakan uang Papa untuk beramal di sini. Aku ingin menggunakan uang yang kuperoleh dari hasil menjadi selebgram untuk beramal.
"Aamiin. Kak Nisa doakan. Syukurlah kalau kamu suka berada di sini. Terima kasih banyak atas semua kemurahan hati kamu dan teman kamu. Silakan menikmati lagi acara di sini. Kamu boleh berkeliling Panti ini kalau kamu suka. Kak Nisa pergi dulu ya!" pamit Kak Nisa.
Selepas Kak Nisa pergi, aku pun memulai syuting kami lagi. Bima merekam semua kegiatanku selama di Panti. Momen saat aku sedang melihat barang dagangan, mencoba makanan yang dijual dan bercanda sambil bersenda gurau dengan anak-anak Panti.
Bima bahkan merekamku saat aku menawarkan diri untuk menggendong anak bayi yang sudah ditinggalkan oleh orang tuanya di Panti ini. Aku sangat sedih melihat bayi sekecil ini sudah tidak punya orang tua. Bayi ini begitu tidak diinginkan kehadirannya di dunia. Kemanakah hati nurani mereka? Kenapa tega berbuat seperti ini pada bayi yang tak berdosa.
Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Cepat-cepat aku menghapusnya, namun sayang Bima sudah terlanjur merekamku. Bima bilang tak akan menghapus hal-hal natural yang aku lakukan dan kubiarkan saja Ia melakukan yang Ia suka.
Aku mengantar bayi yang tertidur pulas ke dalam kamar bayi dan menaruhnya di dalam box bayi. Ada kurang lebih 5 bayi yang berada di Panti Asuhan milik Kak Nisa. Mereka tidur di box yang diisi dua bayi, yang jika salah satu menangis yang lain akan ikut menangis.
"Ternyata kamu punya sisi keibuan yang kuat ya, Ra?!" aku terkejut melihat Ditya ternyata mengikutiku sampai ke kamar bayi.
"Ish! Kamu ngagetin aku terus nih! Kok kamu enggak di depan aja sih? Melihat anak-anak berjualan seru juga loh ternyata." aku berjalan keluar dari kamar bayi karena tak mau membangunkan bayi-bayi yang sedang tertidur tersebut.
"Kita ke taman belakang yuk!" ajak Ditya.
Aku setuju dan mengikuti langkah Ditya ke taman belakang Panti. Ternyata Panti ini luas juga, meski Pantinya terlihat sederhana dan biasa saja namun ada halaman belakang yang luas dan bisa untuk anak-anak bermain bebas.
"Kamu suka berada di Panti ini?" tanya Ditya.
"Kenapa sih sejak tadi selalu saja ada yang bertanya sama aku, apa aku suka ada di Panti ini? Tadi Kak Nisa yang nanya, dan sekarang kamu. Jujur aja, Panti ini membuat aku merasa nyaman. Kalau ditanya suka atau nggak, aku sedih saat berada di Panti ini. Sedih melihat bayi malang yang sudah ditinggal oleh orang tuanya. Aku juga sedih melihat adik-adik yang seharusnya penuh limpahan kasih sayang kedua orang tua tapi harus berada di sini karena tak memiliki orang tua lagi. Tapi aku senang, suasana di sini begitu kekeluargaan dan aku merasa seperti berada di rumah sendiri."
"Masa sih seperti berada di rumah sendiri? Beda dong Panti ini dengan rumah kamu yang megah itu! Jujur aja, kamu tuh adalah orang yang beruntung. Coba lihat adik-adik di sini, jangankan harta berlimpah, orang tua saja mereka tak punya. Berbeda sekali bukan dengan kamu?" aku merasa Ditya tuh berkata sinis sekali padaku. Kenapa? Seperti menyindirku juga.
"Apa yang kamu lihat belum tentu apa yang sebenarnya terjadi. Hidupku juga tidak seberuntung orang lain. Kalau boleh memilih, aku lebih memilih untuk dilahirkan di keluarga yang sederhana. Keluarga yang yang saling menyayangi satu sama lain. Keluarga dalam artian keluarga sebenarnya, bukan keluarga sambung yang malah membuat kedekatanku dengan Papa malah semakin menjauh. Sejujurnya, anak-anak di Panti ini tak berbeda jauh denganku." kataku sambil menatap kejauhan dengan tatapan sedih.
"Mereka merasa kesepian meskipun berada di Panti yang ramai seperti ini. Sama sepertiku, merasa kesepian meski aku tinggal bersama keluargaku. Aku seperti sudah kehilangan keluarga sejak Mamaku meninggal dan Papa menikah lagi. Apa bedanya dengan anak-anak di sini? Tapi sudahlah! Mungkin memang seperti ini takdir hidupku. "
Percakapan kami terhenti kala Hp-ku berbunyi. Rupanya telepon dari Bima yang mengatakan kalau Ia akan pulang duluan. Bima bilang, Ia ada janji dengan salah seorang pengusaha yang akan mengendorseku.
"Dari siapa, Ra? Bima?" tanya Ditya setelah aku menutup Hp-ku dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang sejak tadi aku pakai.
"Iya. Bima bilang dia mau pulang duluan. Kamu mau kan anterin aku pulang?" tanyaku penuh harap.
Ditya tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja. Masa sih aku nggak nganterin tunangan aku sendiri?"
Tunangan?
Tahukah Ditya saat Ia mengatakan kalau aku tunangannya, jantungku berdegup dengan sangat kencang. Aku merasakan kebahagiaan yang berkali-kali lipat dalam waktu sekejap.
Bagaimana tidak, Ditya amengaku sebagai tunanganku?! Mimpi apa aku semalam? Rupanya Ia memang berniat untuk menikahiku. Bahagia sekali aku...
"Tunangan? Jadi kamu beneran menyetujui perjodohan yang dilakukan kedua orang tua kita?" Aku harus memastikan semuanya. Aku enggak mau kegeeran dan kecewa atas dugaanku sendiri. Aku mau memastikan semuanya. Bagaimana perasaan Ditya dan apa alasannya menerima perjodohan kami.
"Aku serius. Aku memang menyukai kamu sejak kita syuting bareng. Kamu anaknya asyik dan aku tuh merasa seperti sudah mengenal kamu sebelumnya. Sebenarnya tujuan aku mengajak kamu ke Panti ini adalah...." Ditya mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sakunya dan membuka kotak tersebut. Ternyata sebuah cincin.
Wow... Cincin? Jadi Ditya mau...
"Aku mau melamar kamu menjadi istri aku. Maukah kamu menjadi wanita yang selalu berada di sisiku dalam suka dan duka? Dalam sedih maupun senang? Dalam kekurangan maupun kelebihan? Menjadi milikku selamanya?" Ditya lalu berlutut seraya mengangkat kotak cincin di tangannya.
Oh... My.... God...
Ini adalah hari bersejarah bagiku!
Aku dilamar!
Aku dilamar!
Aku akan menikah dengan Ditya!
****
Hi semua... Jangan lupa like, komen, vote dan ads favorit ya. Maacih 😊😊😘😘😘