Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Konten Jujur


POV Author


3 Bulan Kemudian


"Papa, aku mau pakaikan jepitan di rambut Mama." pinta Lily yang hari ini datang dengan membawa beraneka macam jepitan dalam tas miliknya.


"Boleh dong Sayang. Tapi pelan-pelan ya! Jangan sampai Mama Lara kesakitan!" pesan Ditya.


Lily mengangguk dan mulai memakaikan Lara jepitan bermotif unicorn. Sementara itu Ditya terus membacakan buku untuk Lara.


"Mereka berjalan-jalan di taman yang indah. Mata mereka saling bertemu dengan detak jantung mereka yang bertalu-talu dengan kencang...." Ditya memang rajin membacakan Lara buku cerita. Dokter bilang bagus untuk proses penyembuhan Lara.


Ditya masih membacakan cerita ketika Lily berteriak. "Papa! Mata Mama bergerak!"


Ditya menutup bukunya dengan cepat. Ia melihat apa yang Lily tunjukkan padanya. Benar yang Lily katakan. Mata Lara bergerak-gerak. Ada respon rupanya.


"Sayang! Bangun Sayang! Ini aku suami kamu!" kata Ditya penuh semangat. Ia cepat-cepat menekan tombol pemanggil darurat dan memberitahu perawat kalau ada kemajuan dengan istrinya.


Tak lama dokter datang dengan tergesa. Pasien yang jatuh koma bisa tersadar adalah mukjizat. Ia berharap Lara Handaka mendapat mukjizat tersebut. Ia mau wanita cantik dan baik itu sembuh dan bisa menginspirasi banyak orang lagi.


Ditya terus memperhatikan Lara. Kini tangannya mulai bergerak-gerak. Membuat Ditya menangis haru.


Betapa Ditya amat menanti Lara sadar. Ia ingin mendengar Lara berbicara dan bisa memeluk tubuh hangatnya dengan penuh kasih sayang seperti dulu lagi. Dia ingin melihat lagi Lara tersenyum dan tertawa bahagia bersama Lily anak mereka.


Dokter pun mulai memeriksa keadaan Lara. Dokter sangat senang saat tahu kalau Lara terbangun dari tidur panjangnya Ia pun memeriksa keadaan Lara yang kini sudah membuka matanya.


"Ibu Lara dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin harus pelan-pelan karena baru saja terbangun." pesan dokter yang memeriksa.


" Iya Dok. " ujar Ditya sambil berlinang air mata. Dokter pun mempersilahkan Ditya mendekati Lara sambil terus memperhatikan keadaan Lara.


"Sayang! Kamu akhirnya tersadar. Ini aku, Ditya. Suami kamu!" kata Ditya dengan lembut.


Lily berjalan mendekat ke arah Ditya. "Papa! Lily mau bicara sama Mama!" kata Lily penuh semangat.


"Iya, Sayang!" Ditya lalu menggendong Lily dan mendekatkannya dengan Lara. "Mama! Mama udah bangun? Mama bisa main lagi sama Lily?" tanya Lily.


Lara yang sejak tadi seperti orang bingung kini menatap ke arah suara Lily. Ia menatap suaminya yang sedang menangis sedih dan anaknya Lily yang begitu bersemangat saat tahu kalau Ia sudah terbangun.


"Lily?" tanya Lara dengan suara lemah.


"Iya, Ma. Mama ingat Lily kan?"


Lara tersenyum lemah. "Tentu saja Mama ingat dengan putri mama yang cantik."


"Kalau aku, kamu ingat?" tanya Ditya tak mau kalah.


Lara lalu meminta untuk dibantu duduk karena tubuhnya masih terasa lemas. Dengan dibantu oleh perawat, Ditya mengubah posisi tempat tidur Lara menjadi sedikit agak lebih duduk.


Lara tersenyum senang karena bisa melihat keluarganya lagi. Dokter lalu meninggalkan Lara dan keluarga untuk melepas rindu. Meski belum sembuh benar, Lara terhibur dengan ulah Lily yang menggemaskan.


Lara pun sembuh dengan cepat. Keinginannya sembuh begitu besar, bahkan obat pun kalah efektifnya dalam menyembuhkan Lara dibanding semangatnya yang besar itu.


Beberapa hari kemudian Lara pun sudah diizinkan pulang ke rumah oleh dokter. Lara lalu pulang ke apartemen miliknya dimana Ditya kini tinggal bersama mereka.


Lara diperlakukan bak ratu yang tak boleh melakukan pekerjaan yang berat. Ditya dan Lily begitu memanjakan Lara. Mereka hanya mau Lara pulih kembali seperti dulu.


"Dit, aku mau nanya." kata Lara setelah Ditya menidurkan Lily di kamarnya.


"Mau nanya apa sih Sayangku? Hem?" Ditya menghampiri Lara dan mengecup keningnya.


Lara tersenyum senang dengan perlakuan manis dari Ditya. "Aku... Mau bertanya tentang... Tante Sofie. Bagaimana keadaannya setelah aku koma?"


Ditya menghela nafas kesal. Tiap ingat Tante Sofie, Ia menjadi emosi. Ia ingat bagaimana Lara menjadi koma. Ditya lalu duduk di samping Lara. "Tante Sofie.... Sangat terpukul dengan kepergian Agni. Itu saja yang aku tahu. Aku lebih suka menjaga kamu dibanding mencari tahu tentang Tante Sofie."


Lara bisa memaklumi kenapa Ditya begitu membenci Tante Sofie. Lara tak mau banyak bertanya. Lebih baik, Ia banyak beristirahat agar cepat sembuh dan pulih seperti sedia kala.


Lara tak mau terus-menerus menjadi beban dan menyusahkan keluarganya. Mengurus seorang sakit itu tidak mudah dan pasti sangat lelah. Lara mau sehat kembali dan bisa mengurus anaknya serta suami tercintanya, tak lagi menyusahkan orang lain.


"Ada yang kamu mau tidak, Sayang? Minuman atau makanan gitu? Atau mau aku bacakan buku cerita? Pokoknya, apapun yang kamu minta akan aku turuti." kata Ditya penuh perhatian.


Ditya bertekad, kalau Lara sampai sadar kembali Ia akan lebih perhatian lagi pada istrinya. Selama ini, Lara sibuk sendiri dengan syuting dan dia seakan tak peduli sama sekali. Ditya mau Lara banyak istirahat di rumah dan untuk sementara tidak perlu membuat konten.


Namun Lara tetap ingin membuat konten. "Aku janji enggak akan terlalu lelah. Aku ingin... Berkata jujur dan menceritakan penyebab kematian Agni. Boleh kan?" nego Lara.


Ditya tersenyum. "Lakukanlah. Asal kamu bahagia, aku juga akan bahagia. Tapi ingat, jangan terlalu lelah. Kesehatan kamu adalah yang utama."


Lara mengangguk patuh. "Tentu, Sayang!"


Lara menyalakan Hp miliknya. "Pagi semua! Ketemu lagi sama Lara Handaka. Uh... Kangen kalian deh. Pertama-tama aku mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya bagi kalian semua yang sangat sayang sama Lara. Berkat doa dari kalian aku sudah terbangun dari koma daj sekarang sedang dalam pemulihan. Terima kasih banyak semuanya!"


Mata Lara berkaca-kaca dan air mata pun tak kuasa menetes dari pelupuk matanya. "Aku juga mau berdoa untuk sahabatku Agni, yang sudah menolongku saat aku jatuh ke sungai. Dari Agni aku belajar tentang arti berbagi. Agni sudah berkorban demi keselamatanku. Aku mau konfirmasi kalau Agni tidak meninggal karena bunuh diri, bukan juga karena menyelamatkanku. Agni meninggal karena sakit yang dideritanya. Menolongku adalah kebaikan terakhir sebelum Ia menghembuskan nafas terakhirnya. Terima kasih Agni. Berkat kamu, aku belajar banyak hal, salah satunya adalah arti berbagi. Pesan Agni, yuk kita sayangi adik-adik di Panti Asuhan. Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?!"


Lara mengakhiri videonya dan memeluk Ditya. "Aku sudah mengatakannya. Aku sudah berkata jujur pada semua orang. Aku siap kalau mereka menghujatku."


Ditya mengusap rambut Lara. "Tak akan ada yang menghujat kamu, Sayang. Kamu orang baik. Aku yakin itu."


****