Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Terlambat


Ditya


Kuinjak pedal gas agar laju kendaraanku semakin cepat. Aku tak mau kehilangan Lara lagi!


Menurut Maps, aku hanya tinggal dua kilometer lagi. Aku pasti masih bisa bertemu Lara. Aku masih bisa membujuknya untuk mengampuni semua salahku.


Kak Nisa memintaku merenungi semua kesalahanku selama ini. Mempermainkan ikatan pernikahan demi tujuan mencari tahu kematian Agni adalah kesalahan fatal. Lara pasti sangat sakit hati saat mengetahuinya.


Kak Nisa yang menyadarkanku kalau Lara bukanlah Agni. Memang benar ada beberapa kemiripan, tapi bisa saja karena selama ini Lara sering memimpikan Agni. Sifatnya dan sikapnya mulai mirip satu sama lain.


Aku sudah menyadarinya namun aku terlalu menutup mata. Aku emosi saat Lara mengetahui tempat aku dan Agni menyembunyikan cincin, dimana tak ada yang mengetahuinya selain kami berdua.


Aneh namun itu yang terjadi. Lara bisa tahu dan itu semua lewat mimpi. Aku yang sudah terlalu curiga dan berpikir kalau Lara menjahati Agni.


Bodoh Ditya... Bodoh!


Semoga saja aku masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya!


Malang bagiku, ada kecelakaan di depan. Jalanan mulai macet dan aku harus sabar menunggu sampai jalanan kembali lancar. Tenang, Ditya. Pasti masih bisa bertemu Lara. Lara tak tahu kalau aku sudah menemukan tempat tinggalnya sekarang.


Akhirnya kemacetan pun terurai. Mobilku bisa melaju lagi di atas aspal. Sedikit lagi... sedikit lagi...


Sesuai Maps, aku sudah hampir sampai. Titik Maps memberitahu kalau aku sudah sampai di titik tujuan.


Sebuah rumah di tepi pantai, mungkin ini tempat tinggal Lara selama beberapa hari ini. Rumah yang tidak terlalu mewah namun sangat nyaman untuk ditinggali. Dengan pemandangan menghadap ke laut yang pasti akan membuat Lara betah dan nyaman tinggal di tempat ini. Aku yakin, Lara betah tinggal di rumah ini. Bima benar-benar tahu sekali selera Lara.


Aku pun turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. Rumah ini sangat sepi namun terlihat bekas ditinggali. Rumah ini terjaga dan bersih. Kalau tidak ada yang menempati, pasti sudah kotor dan tidak terurus.


Aku mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam. Menunggu sampai ada yang membalas salamku, aku lalu mengetuk lagi. Aku masih berpikir positif kalau sang pemilik rumah tidak mendengar ada orang yang memanggil di depan.


Aku kembali mengetuk dan mengucap salam, kali ini suaraku aku kencangkan namun hasilnya nihil. Tetap saja tidak ada yang menjawab salamku


Sampai akhirnya ada seorang bapak-bapak yang mendatangiku. Sepertinya bapak ini tinggal di samping rumah. "Cari siapa ya Mas?" tanya Bapak tersebut.


"Cari Bima dan Lara, Pak. Apakah mereka ada di sini?" tanyaku langsung.


Bapak itu lalu melihat penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Mas-nya terlambat datang ke sini. Mereka udah pergi. Kemarin memang benar tinggal di sini tapi udah pergi tadi pagi."


Jangan katakan kalau aku terlambat! Jangan, please...


"Bapak tahu mereka pergi kemana? Atau mereka titip pesan apa gitu?"


Bapak itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas. Saya mana berani tanya-tanya mereka mau ke mana. Saya kan cuma pesuruh yang disuruh untuk menjaga dan membersihkan rumah ini. Kalau Den Bima mau kemana saya tidak tahu. Coba saja Mas-nya hubungi handphone Den Bima."


"Baik, Pak. Terima kasih, Pak." aku pun kembali lagi ke dalam mobil dan memukul stir mobil dengan kencang, meluapkan amarah dan rasa kecewa yang kurasakan.


Aku lalu menghubungi detektif yang kemarin aku suruh mencari keberadaan Lara dan Bima. Kuberitahu kalau kali ini aku kembali kehilangan jejak Lara.


Dengan tanpa semangat aku pun kembali lagi ke kantor. Aku terus berpikir dan berpikir kemana lagi harus mencari Lara dan Bima. Mereka sangat pintar bersembunyi dariku. Mereka pasti tahu kalau aku akan menyewa detektif untuk mencari tahu keberadaan mereka.


Setelah itu, aku tak lagi menemukan keberadaan Lara. Hanya sebuah update-an terbaru dari media sosial miliknya yang menyatakan kalau Ia pamit untuk sementara. Ia bilang, akan memulai hidup baru dan meminta maaf kepada semua pihak yang telah Ia kecewakan.


Apakah benar ini semua? Mau kemana lagi dia? Kemana lagi aku harus mencarinya? Sosial media miliknya adalah satu-satunya jalanku dengan dirinya, aku tahu keadaannya baik-baik saja dari update-an statusnya. Dan kini, sama sekali tak ada lagi yang menghubungkan kami berdua.


Lara sudah mengganti nomor telepon miliknya. Aku sudah tak bisa lagi melacaknya. Nomor handphone Bima pun aku tak tahu. Keluarga Bima terus aku pantau dan mereka tetap ada di rumahnya. Sampai akhirnya mereka pun pergi dan aku tak tahu mereka kemana. Aku benar-benar kehilangan jejak Lara. Dan aku harus terus melanjutkan hidupku sambil berharap kalau Lara akan kembali padaku suatu hari nanti.


Aku tetap memimpin perusahaan milik Lara. Dengan harapan, uang gaji yang selama ini ditransfer ke rekening Lara bisa Ia gunakan untuk membiaya hidupnya sehari-hari. Aku tak tahu Ia berada dimana tapi setidaknya Ia harus hidup dengan berkecukupan. Itu yang aku mau. Aku percaya suatu hari nanti Ia akan kembali. Mungkin bukan hari ini, bukan esok, atau mungkin bukan tahun depan. Tapi aku akan menunggu, aku akan menunggu untuk menyampaikan permintaan maaf terdalamku sambil tetap melindungi perusahaan miliknya.


***


Lara


Keadaan bima semakin lama semakin memburuk. Mamanya Bima tetap ada di sisi Bima untuk merawat anak kesayangannya tersebut.


Segala upaya sudah dicoba. Namun, cuci darah tak bisa selamanya memperpanjang usia Bima. Kondisi ginjal milik Bima yang sudah rusak membuat keadaan semakin memburuk. Donor ginjal yang ditawarkan pun selama ini nggak pernah ada yang cocok. Bima pun sudah pasrah akan takdirnya.


Untuk mewujudkan keinginan Bima yang menyukai saat aku di depan kamera, aku tetap membuat video selama aku berada di Belanda. Menampilkan tempat-tempat wisata dan membuat konten yang bermakna seperti yang Bima inginkan selama ini.


Aku jalani semua seorang diri. Bima bahkan sudah tak sanggup lagi mengedit video yang kubuat. Aku yang mengeditnya dan menunjukkan pada Bima hasil video yang kubuat dan kuedit sendiri pada Bima. Ia tersenyum puas melihat hasil kerja kerasku.


"Kamu makin pintar saja, Ra! Aku bangga sama kamu!" puji Bima yang membuatku tambah semangat membuat video-video baru yang lebih bagus lagi.


Usahaku tak sia-sia. Meski menggunakan akun baru namun ternyata konten milikku banyak yang menyukai. Lama kelamaan banyak yang subscribe dan menonton konten milikku.


"Kamu harus sehat, Bim. Kamu kan harus melihat anak dalam kandunganku ini lahir ke dunia dan memanggil nama kamu!" kataku menyemangati.


"Aku juga mau seperti itu, Ra. Semoga saja aku masih dikasih waktu ya Ra." kata Bima dengan suara lemah.


Mamanya Bima jadi sering sekali menangis. Melihat Bima yang masih ingin hidup panjang meski dengan ginjal yang sudah rusak parah.


"Mama doakan umur kamu panjang, Nak. Semoga keinginan kamu melihat anak dalam kandungan Lara lahir ke dunia ini dikabulkan."


"Aamiin." jawabku dan Bima.


*****