Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Sogokan


Lara


"Kok Kak Lara tau sih? Kak Ditya yang cerita sama Kak Lara ya?" tanya Bunga.


"Tau dong. Sebagai sesama selebgram, aku kenal sama senior aku. Apalagi Bunga bilang kalau Kakaknya sudah di surga. Memangnya Agni tinggal di sini juga? Bukannya Agni punya apartemen sendiri ya?" aku mulai mencari tahu tentang Agni.


Lupakan kekagetanku tentang asal usul suamiku Ditya. Yang penting sekarang Agni dulu. Tak masalah bagiku mau Ditya keluarga Kusuma atau tidak. Aku mencintainya dan menerimanya apa adanya.


"Mana betah Kak Agni tinggal di apartemen, Kak? Paling seminggu cuma sehari dua hari di sana. Sisanya tidur di kamar ini bersama yang lain." jawab Bunga dengan jujur.


"Oh ya? Kenapa enggak betah?"


"Kak Agni bilang kalau dia enggak suka tidur sendirian. Lebih suka tidur bersama adik-adik di sini. Kalau sendirian rasanya sepi. Jadi, meski Kak Agni pulang malam hari tetap saja Kak Agni selalu pulang ke Panti."


Iya sih. Kalau sudah biasa tidur di tempat ramai lalu harus sendiri pasti rasanya tak enak.


"Kak Agni akrab sekali enggak dengan Ditya? Sahabatan gitu?" aku berusaha mengorek informasi lagi.


"Aku enggak mau bilang ah Kak. Nanti aku enggak nepatin janji lagi sama Kak Ditya." ternyata Bunga memegang teguh janjinya.


"Aku kan istrinya? Kenapa enggak boleh? Kak Lara janji deh enggak akan bilang sama Ditya kalau Bunga cerita." bujukku.


"Enggak mau ah, Kak. Bunga takut Kak Ditya marah." susah juga ternyata membujuk Bunga.


Aku putar otak gimana caranya membujuk Bunga. Gimana kalau pakai sogokan? Tapi apa?


Hmm....


Oh iya, di tas milikku ada sesuatu yang bisa aku jadikan pancingan Bunga agar mau cerita.


"Kak Lara punya ini. Bagus enggak?" aku mengeluarkan sebuah bros berbentuk bunga. Hadiah dari teman Papa saat pergi ke luar negeri. Sebenarnya aku sayang tapi mau bagaimana lagi.


"Bagus banget, Kak." Bunga mulai tergoda dengan iming-iming dariku.


"Bunga mau? Kalau mau, akan Kak Lara berikan buat Bunga." pancingku.


"Mau! Boleh memangnya buat Bunga?"


Aku mengangguk. "Boleh dong. Apa sih yang nggak buat Bunga?" Kuberikan bross kesayanganku pada Bunga.


"Ya udah, untuk membalas jasa Kak Lara yang sudah baik, Bunga akan jawab pertanyaan Kak Lara. Pasti Kak Laea mau bertanya tentang Kak Ditya kan?" pintar sekali Bunga menebak maksud terselubungku.


Aku tersenyum. "Bunga pintar ih. Kak Lara salut sama kepintaran Bunga. Tenang saja, Kak Lara enggak ada niat jahat kok. Kak Lara hanya ingin lebih mengenal suami Kak Lara saja. Oke, Kak Lara mau nanya hubungan Kak Agni dan Kak Ditya. Mereka dekat?" tanyaku.


Bunga mengangguk. "Kak Agni adalah sahabat Kak Ditya."


Deg...


Kak Agni adalah sahabat Kak Ditya....


Kak Agni adalah sahabat Kak Ditya....


Kata-kata Bunga berputar cepat di kepalaku.


Jadi, yang Ditya sering bilang tentang sahabatnya adalah Agni? Dan Ditya sudah menyadari kalau aku mirip Agni?


Aku jadi menyangsikan cinta Ditya. Apakah yang Ia cintai adalah Agni atau aku?


"Kak Lara! Kok malah melamun sih?" tanya Bunga.


"Oh iya. Ini!" kuberikan bross yang sejak tadi kujadikan pancingan pada Bunga. "Kak Lara mau jalan-jalan dulu ya!"


Aku pun keluar dari kamar Bunga. Fakta yang baru saja kudapat sangat mencengangkanku. Ditya dan Agni bukan hanya berasal dari satu Panti, tapi mereka bersahabat dekat.


Perlahan rasa takut mulai melingkupiku. Bagaimana kalau Ditya memang hanya mencintai Agni dan bukan aku? Bagaimana kalau Ditya tahu bahwa aku yang terjun ke sungai bersama sahabatnya?


Jadi, semua mimpi yang selama ini selalu menghantuiku benar adanya?


Enggak.


Aku harus mencari tahu semuanya. Aku harus membuktikan semuanya. Aku nggak mau hidup dalam ketidakjelasan seperti ini. Aku adalah Lara Handaka bukan Agni. Apapun yang terjadi, Ditya adalah suamiku bukan milik Agni.


Aku akupun memutuskan untuk membuktikan kebenaran mimpi yang terakhir kali aku alami. Mimpi tentang cincin yang dikubur di halaman belakang Panti.


Aku pun berjalan ke halaman belakang dan mendapati padang rumput yang sangat luas. Di mana aku harus mencarinya? Jelas, di mimpiku waktu itu, kejadiannya saat Ditya dan Anggi masih sekolah SMA. Kalau sekarang beberapa tahun kemudian jelas saja ada perubahan di halaman belakang Panti.


Baru saja aku melangkah ke sana, Hp miliku berbunyi. Aku tak menggubrisnya. Aku tetap berjalan menuju pohon dan bunyi dering Hp kembali mengangguku.


Siapa sih? Enggak tau situasi dan kondisi saja!


Aku melihat nama yang tertera di Hp milikku. Ditya.


Apa Ditya punya firasat ya kalau aku sedang mencari tahu tentangnya?


Aku tak mengangkat teleponnya. Aku berjalan terus ke arah pohon yang hanya tersisa beberapa meter lagi, namun suara notifikasi kalau ada pesan masuk kembali mengusikku.


*Sayang! Angkat telepon aku! Emergency!*


Emergency? Ada apa?


Setelah melihat kalau aku sudah membaca pesan yang Ia kirimkan, Ditya langsung meneleponku lagi.


"Hallo Sayang. Maaf aku tadi lagi-"


"Kamu dimana? Kamu masih di Panti?" tanya Ditya dengan nada panik.


Ada apa ini?


"I-iya. Aku masih di Panti sama Bima. Ada apa ya?" tanyaku. Hatiku mulai cemas dan khawatir. Apa yang telah terjadi. Apa aku buat kesalahan? Apa ada berita lagi tentangku?


"Bilang sama Bima, pulang sekarang! Kita ketemu di RS Kesehatan Keluarga Itu Penting!" perintah Ditya dengan tegas.


"Ke Rumah Sakit? Sekarang? Memangnya kenapa?" tanyaku. Degup jantungku kembali berdegup makin kencang. Siapa yang sakit? Kenapa Ditya sampai cemas dan panik begitu?


"Kamu sakit, Sayang? Sakit apa? Aku kesana sekarang!"


Aku berbalik badan meninggalkan pohon yang penuh misteri, yang beberapa langkah lagi aku sudah sampai dan membuka semua tabir.


Lalu langkahku terhenti saat mendengar perkataan Ditya selanjutnya.


"Bukan aku yang sakit.... Tapi Papa kamu!"


Deg...


Papa?


Papa Handaka sakit?


"Ra!" Ditya kembali menyadarkanku karena aku tiba-tiba terdiam.


"Papa aku sakit? Sakit apa?" tanyaku dengan suara tercekat yang aku paksakan.


"Papa kamu... kena serangan jantung!"


Deg...


Papa....


Enggak. Papa enggak punya penyakit jantung! Ini pasti bohong!


"Enggak... Kamu bohong kan? Papa! Huaaa......" aku menangis sesegukan dan terjatuh. Hp yang kupegang juga terjatuh. Aku hanya bisa menangis.


Sampai Bima datang dan berlari menghampiriku. "Ra!"


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Bima.


Huaaaa.... Aku terus menangis dan menangis...


Bima mengambil Hp milikku dan berbicara dengan Ditya di telepon.


"Baik. Kami akan kesana!" Bima menaruh Hp milikku dalam saku celananya. Ia lalu menuntunku dan aku bak boneka yang menurut kemana Ia akan membawaku.


Papa...


Papa....


****