Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Wedding Day


Ditya


Kalau ditanya bagaimana perasaanku menjelang pernikahanku dengan Lara? Rasanya deg-degan. Tak sabar untuk menunggu momen itu datang.


Lalu bagaimana perasaanku pada Lara? Jawabnya, aku sudah jatuh hati pada pesona yang Lara miliki. Aku bahkan sudah hampir melupakan keberadaan sahabatku, Agni.


Namun ternyata, hal yang justru sudah lama aku mulai lupakan kini kembali menyinggung dan membuatku resah. Hal yang membuatku menaruh curiga namun juga membuat aku terheran-heran.


Aku merasa, ada saat dimana Lara menjadi dirinya sendiri. Sifatnya yang pemalu, manis dan terlampau rendah diri begitu menguasai namun membuatku merasa nyaman.


Terkadang, aku bahkan merasa dalam diri Lara ada beberapa hal yang sangat persis dengan yang dimiliki oleh Agni. Selera makannya, itu contoh yang baru-baru ini aku amati.


Seakan rasa terkejut aku terhadap minuman kesukaan Lara yakni susu rasa pisang belum cukup, aku kini melihat bagaimana Lara memisahkan daun bawang dan menaruhnya secara rapi di atas piring. Hal ini sangat mirip dengan apa yang biasa Agni lakukan kalau kami berdua sedang makan bersama.


Berada disekitar Lara membuatku merasa nyaman dan seperti berada di samping Agni. Sifatnya yang asik, seleranya yang satu frekuensi denganku dan rasa sayangnya terhadap adik-adik di Panti mirip sekali dengan Agni.


Aku terus-menerus dibuat terkejut oleh sifatnya yang berubah- ubah macam bunglon saja. Kadang begitu rapuh, kadang malah terlalu berani.


Apa aku salah kalau berpikir di dalam diri Lara ada sebagian diri Agni? Mereka seakan satu tubuh namun 2 jiwa. Kalau ditanya, siapa yang aku cintai? Aku juga akan bingung menjawabnya.


Agni sahabatku dan juga seseorang yang sangat aku sayang. Lara, tunanganku dan aku begitu terpukau akan kecantikannya. Aku juga menyukai kepribadiannya. Dan aku memutuskan untuk menikahinya dan melupakan semua kebingungan yang selama ini menderaku.


Mungkin saja mereka memang memiliki kemiripan. Namun yang pasti, wanita cantik di depanku ini adalah Lara Handaka. Lupakan saja semua kecurigaanku selama ini. Kami akan menikah dan kami akan hidup bahagia.


Aku masih terbayang wajah cantiknya saat mengenakan kebaya dan gaun pengantin di butik tadi. Benar-benar cantik.


Sejak pertama mengenal Lara, aku bisa melihat di balik dandanan yang cupu tersimpan wajah yang cantik. Sayangnya, sifat rendah diri dalam diri Lara seakan sudah mendarah daging. Mungkin karena rasa kecewanya selama ini.


Semakin aku mengenal, aku menjadi tahu kalau Lara hanya memiliki seorang teman akrab yakni Bima. Lara cerita, di kantor tidak ada yang berani berbicara dengannya karena menganggap Lara adalah anak pemilik perusahaan. Menganggap Lara beda kasta dan terlalu takut untuk berteman akrab dengannya.


Sebenarnya apa yang Lara rasakan tidak jauh berbeda dengan apa yang aku rasakan. Di kantor, orang-orang begitu menghormatiku sebagai pemimpin perusahaan. Tanpa mereka ketahui, aku hanyalah anak angkat Papa. Aku bukanlah pemilik yang sebenarnya.


Aku juga tidak memiliki teman akrab sama seperti Lara. Dulu, waktu aku kuliah ada beberapa teman yang masih akrab dan suka mengobrol denganku. Namun saat mereka tahu kalau aku adalah anak dari pemilik Kusuma Corporation, pertemanan kami mulai terasa berbeda. Ada yang merasa sangat dekat sampai seenaknya meminjam uang. Ada juga yang sok akrab dan meminta koneksi dari perusahaan Papa. Pertemanan mereka semakin tidak tulus dan aku sendiri yang menjauh pada akhirnya.


Mungkin itu pula yang Lara rasakan. Apalagi, Lara sudah kaya sejak lahir. Kalau aku, tak ada yang mengenalku. Penampilanku sangat berubah, dari seorang anak laki-laki tak terurus yang lebih mengutamakan perut adik-adiknya di Panti dibanding penampilan, menjadi seorang anak pengusaha terkenal yang harus terlihat keren di manapun berada.


Papa bilang, seorang pemimpin itu juga dilihat dari penampilannya. Kalau berdandan rapi dan terlihat mahal maka orang lain akan menaruh kagum dan tidak memandang aku dengan sebelah mata.


Yang Papa katakan memang benar, beberapa kerjasama antar perusahaan dapat terwujud karena mereka yakin dengan ide dariku dan juga penampilanku tentunya. Aku semakin disayang oleh Papa dan Mama karena berhasil membuat perusahaan yang hampir bangkrut menjadi sangat sukses seperti sekarang.


Apalagi sekarang aku akan menikahi Lara Handaka, tentunya Papa dan Mama semakin bangga padaku. Bisa memiliki besan dari keluarga kaya raya seperti Pak Handaka adalah impian mereka. Sayangnya, mereka tidak dikaruniai anak. Jadi aku yang akan memenuhi impian mereka.


Sebuah gedung mewah di hotel berbintang 5 sudah di booking untuk acara resepsipernikahanku dan Lara. Sebelumnya, kami sudah melangsungkan akad nikah di hari yang dan tempat yang sama pula.


Lara hari ini terlihat bak ratu sehari. Mengenakan kebaya putih yang terlihat begitu mewah ditubuhnya.


Lara terus menunduk seakan tak berani untuk menatapku. Aku terus menerus menatap dirinya dengan kagum. Cantik sekali Ia hari ini. Make up nya terlihat cantik namun tidak berlebihan.


Aku yakin, menikahi Lara adalah keputusanku yang paling benar. Aku masih ragu tentang perasaanku terhadap Agni. Namun aku yakin kalau aku mencintai Lara. Kami memang sudah berbuat dosa dan kami akan menikah dan tak lagi berbuat dosa.


Dengan penuh keyakinan, aku berjanji di depan Allah untuk menjadikan Lara Handaka sebagai istriku. Aku berjanji akan membahagiakannya dan selalu bersama dalam suka maupun duka, sedih maupun senang. Semua yang hadir nampak lega setelah aku melakukan ijab kabul dengan penuh keyakinan tersebut.


Lara kemudian dipersilakan untuk mencium tanganku. Aku memberikan tanganku untuk dia cium. Mulai kini, Lara Handaka adalah istriku. Seseorang yang harus aku jaga dan lindungi.


Kami sudah resmi menikah sekarang. Buku nikaj kami pun sudah kami tandatangani. Kami pun berpose sambil memegang buku nikah dengan penuh kebanggaan. Senyumku dan Lara terlihat begitu lepas dan bebas.


Aku bahagia bisa mempersunting wanita yang aku cintai. Aku juga berjanji, akan selalu melindungi dan menyayangi wanita ini dengan segenap hati.


Rencananya resepsi akan dilakukan 2 jam lagi. Kami pun diberi kesempatan untuk menikmati makan terlebih dahulu. Rupanya, karena kami berdua grogi sejak tadi aku dan Lara hanya diam saja dan sesekali tersenyum malu. Aku yang berinisiatif duluan untuk mencairkan suasana, aku tahu istriku itu begitu pemalu.


"Bagaimana perasaan kamu?" tanyaku.


"Grogi banget." jawab Lara dengan jujur.


"Sama dong? Deg-degan nggak?" tanyaku lagi.


"Tentu dong! Sejak tadi kayak konser musik ini jantung deg-degan terus." lagi-lagi Ia menjawab dengan polosnya, khas Lara sekali.


" Aku.... bahagia sekali hari ini!" kataku sepenuh hati.


" Aku juga!" kata Lara dengan senyum dan mata berbinar-binar.


"Karena aku cinta sama kamu, makanya aku grogi!"


"Sama dong!"


"Ih sama terus?!"


"Iyalah. Kan sama-sama saling mencintai!"


****