Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Pembagian Harta-1


Lara


Aku terbangun dan melihat Ditya yang melihatku dengan khawatir. Pasti aku tadi mengigau saat bermimpi buruk. Tapi aku yakin, yang kumimpikan tadi bukan hanya sekedar mimpi semata.


"Kamu mimpi buruk? Minumlah dulu!" Ditya memberikan sebotol air mineral yang sudah Ia bukakan sebelumnya.


Aku menerima air mineral tersebut dan meminumnya. Ditya juga mengambilkan tisu dan menyeka keningku yang berkeringat. Heran, padahal AC di ruangan Ditya sangat dingin namun tetap saja aku keringetan.


"Mimpi apa sih sampai teriak-teriak begitu?" tanya Ditya dengan wajah khawatirnya.


"Aku teriak-teriak? Teriak apa?"


"Kamu teriak: "Aku bukan pencuri! Aku bukan pencuri!". Aku sampai terkejut dan meninggalkan pekerjaanku. Memangnya kamu dituduh pencuri?" tanya Ditya.


Aku mengangguk. "Sama kakek-kakek mesum!"


Ditya mengernyitkan keningnya. "Kakek-kakek mesum? Kamu dituduh mencuri?"


Aku mengangguk. "Iya. Aku dituduh mencuri-" aku tak boleh bercerita sebelum cincin itu ketemu dan membuktikan kebenaran semuanya. "Mencuri uang. Aku bilang kalau aku punya uang tapi kakek-kakek itu tak percaya!" akhirnya aku memilih berbohong.


Ditya tersenyum. "Itu bunga tidur, oke? Jangan kamu pikirkan lagi ya! Mau pulang sekarang? Pekerjaan aku sudah selesai."


"Sekarang? Memangnya jam berapa?" aku melihat jam di dinding Ditya. "Ya ampun aku tidur selama itu? Pantas sampai mimpi buruk!" aku tertidur selama 2 jam ternyata. Efek nyaman tidur sambil dipijit rupanya.


"Tak masalah. Aku jadi bisa bekerja dengan tenang. Ayo kita pulang!"


****


Hari ini aku dan Ditya akan menginap di rumah Papa. Kedatangan kami disambut oleh Papa yang memelukku seraya meluapkan rasa kangennya.


"Kamu kenapa tak pernah pulang sih? Setelah Papa menelepon Ditya baru deh kamu mau pulang!" protes Papa.


"Maaf, Pa. Banyak buat video untuk endorse makanya aku belum sempat kesini." jawabku jujur seraya menggandeng Papa masuk ke dalam rumah.


"Memang kamu masih butuh uang? Nanti Papa kasih." tanya Papa.


"Uang ada, Pa. Ditya juga kasih. Papa tau kan kalau Lara suka sekali membuat video. Apalagi kalau video yang Lara buat bermanfaat buat orang lain."


Papa tersenyum. "Tapi jangan lupa mengunjungi Papa ya!"


"Iya, Pa. Kok sepi sih? Mana Anggi dan Tante Sofie?" tanyaku.


"Pergi. Fitting baju."


"Fitting baju? Buat apa?" tanyaku heran.


"Loh memangnya kamu enggak tau? Minggu ini orang tua Arya akan datang melamar Anggi! Papa pikir Anggi sudah memberitahu kamu!"


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku enggak dikasih tau. Kalau Papa enggak ngomong, aku enggak tau."


"Mungkin Anggi lupa, Sayang!" Ditya pun ikut berkomentar.


"Ya... Mungkin."


"Sudahlah! Kamu datang saja minggu depan ya! Mereka sudah mempersiapkan semuanya untuk menyambut keluarga Arya."


"Liat nanti deh, Pa. Kalau aku enggak sibuk!" malas aku menghadiri acara Anggi.


Aku pun mengobrol sambil melepas kangen dengan Papa. Ditya juga membahas tentang perusahaan dengan Papa. Sampai kedua orang menyebalkan itu pulang dengan membawa banyak belanjaan di kedua tangan mereka.


"Oh ada tamu!" ujar Tante Sofie.


"Bukan tamu kali! Aku malah pemilik rumah yang sebenarnya!" kataku dengan ketus. Ditya menyenggol lenganku, memberi isyarat untuk tidak mengajak ribut Tante Sofie dan Anggi.


"Maksudnya Nak Ditya. Apa kabar Nak Ditya? Sehat?" kata Tante Sofie dengan ramah.


Ditya menghampiri dan mencium tangan Tante Sofie dengan sopan. "Sehat. Tante gimana? Sehat?"


"Sehat dong. Apalagi kalau habis belanja kayak gini! Makin sehat saja deh!" pamer Tante Sofie.


Kamarku masih tak ada perubahan. Pasti Papa yang meminta untuk tak ada yang menyentuh barang-barangku.


Drrt...drrt...


Hp yang aku silent bergetar. Bima ternyata mengirim pesan.


*Ra, uang dari endorse yang rencananya mau kita sumbangin ke Panti Asuhan udah aku transfer ya.*


Aku tersenyum setelah mengecek mobile banking. Jumlah yang lumayan untuk disumbangkan ke Panti Asuhan.


"Kenapa sih senyum-senyum sendiri?" tanya Ditya yang datang sambil memelukku dari belakang.


"Iya dong, aku lagi happy."


"Boleh tau kenapa?" Ditya menaruh kepalanya di bahuku. Sesekali Ia mencium pipiku dengan mesra.


"Bima kasih aku kabar kalau uang endorse yang telah kami kumpulkan untuk sumbangan ke Panti Asuhan udah di transfer. Rencananya besok aku mau ke Panti." kataku penuh semangat.


"Oh ya? Wah hebat sekali istriku ini! Rajin beramal. Aku bangga deh!" Ditya mencium pipiku lagi. "Hebat!"


Aku tersenyum senang. "Aku akan pergi bersama Bima. Rencananya Bima mau belanja kebutuhan adik-adik di sana dulu. Boleh kan?"


Ditya mengangguk. "Tentu boleh, Sayang!"


"Makasih, Sayang! Kalau bukan karena dukungan kamu, aku enggak akan punya niat sebesar ini untuk beramal." aku berbalik badan dan menatap suami tampanku.


Ditya memajukan dirinya dan mencium bibirku. "Karena kamu. Bukan karena aku. Kamu malaikat bernama Lara Handaka."


Aku tersenyum dan balas menciumnya. Kami kembali dalam mode romantis sampai pintu kamarku diketuk oleh Bibi. Bibi menyampaikan kalau Papa meminta aku bergabung di meja makan.


Kami berdua datang ke meja makan paling terakhir. Sudah ada Tante Sofie dan Anggi di sana. Papa sudah menunggu kedatanganku dengan pengacaranya.


"Ada apa ini, Pa?" tanyaku.


"Papa sengaja mengumpulkan kalian di sini untuk pembagian harta warisan Papa." kata Papa.


"Loh? Papa masih hidup kenapa membicarakan warisan? Lara enggak setuju!" kataku agak emosi.


"Ini keinginan Papa, Sayang. Papa tak mau kalian berseketa setelah kepergian Papa. Duduklah!" pinta Papa dengan tegas.


Mau tak mau aku menurut. Pantas saja Tante Sofie terlihat begitu bahagia. Ada pembagian harta rupanya.


"Tolong dicatat ya, Pak!" perintah Papa pada pengacaranya. "Papa sudah memutuskan membagi harta Papa tanpa ada paksaan dari siapa pun."


Papa menatap lekat ke arahku. "50 persen harta Papa, Papa wariskan untuk anak kandung Papa, Lara Handaka!"


Tante Sofie begitu terkejut. Tak menyangka kalau pembagian terbesar jatuh padaku. Wajahnya mengeras dan senyum di wajahnya menghilang.


"Ditya yang akan mengurus perusahaan mewakili Lara. Tujuannya agar Lara bisa menjadi istri yang berbakti pada kedua orang tua." tambah Papa.


Aku menatap Tante Sofie yang menatapku dengan tatapan penuh kebencian. Begitu pun dengan Anggi. Kenapa mereka protes? Aku anak kandung Papa! Wajar kalau aku dapat bagian terbesar!


"Kamu bisa kan Ditya?" tanya Papa.


"Iya, Pak. Ditya akan mengurus perusahaan Papa mewakili Lara." kata Ditya menyanggupi.


"Lalu selanjutnya. Untuk istriku Sofie dan anak angkatku Anggi masing-masing akan mendapatkan 20 persen dari semua hartaku." pengacara Papa menulis semua yang Ia sebutkan.


"Sayang, kok kami berdua 40 persen? Kenapa tidak dibagi 3 saja, masing-masing 33 persen?" nego Tante Sofie. "Agar kita bertiga tidak meributkan masalah harta nantinya!"


Wah... Licik sekali Tante Sofie. Kalau mereka 33 persen dan digabungkan, aku akan kalah karena persentase mereka lebih besar.


Meski aku tak menginginkan pembagian harta ini namun aku tak sudi kalau mereka akan serakah. Please Pa, jangan setujui... please...


***