Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Tertangkap Basah


POV Author


Mobil Ditya memasuki halaman parkir panti asuhan tempat Ia dibesarkan dulu. Ia selalu merasa bahagia ketika mengunjungi Panti Asuhan, selalu ada perasaan bahwa Ia sedang berada di rumahnya sendiri yang melingkupinya. Panti Asuhan sederhana ini bahkan lebih nyaman dari rumah mewahnya.


Ditya memarkirkan mobilnya di samping mobil milik Bima. Ditya merasa tenang, melihat mobil Bima masih ada di parkiran artinya sang istri Lara handaka masih berada di Panti. Berarti Ia tidak telat untuk menjemput istrinya tercinta.


Sejak pagi hari, hati Ditya begitu bahagia mendengar niat baik Lara yang akan menyumbangkan barang-barang miliknya ke Panti Asuhan. Lara memang hatinya sangat baik. Itu yang membuat Ditya semakin mencintai istrinya.


Di mata Ditya, Lara berbeda dengan anak orang kaya lainnya. Lara bukanlah anak manja yang hanya bisa menghabiskan harta orang tuanya saja. Saat rumahnya diambil paksa oleh Ibu dan adik tirinya, Lara seakan tidak peduli pada harta Papanya. Ia malah mencari foto Papanya untuk ya simpan sebagai kenang-kenangan. Baginya, foto Papanya lebih berharga dari rumah.


Perasaan sayang di dalam diri Ditya semakin besar terhadap istrinya. Apalagi, saat istrinya begitu sedih karena kehilangan Papa tersayangnya. Dia merasa dirinya sebagai laki-laki dan seorang suami harus melindungi istrinya yang begitu rapuh. Kalau bukan dia, siapa lagi?


Beberapa hari kemudian Lara terlihat tidak napsu makan dan akhirnya baru bisa terlihat ceria saat akan menyumbangkan barang-barangnya ke p


Panti Asuhan. Ditya sudah membuat rencana, hari ini Ia akan mengajak Lara jalan-jalan ke tempat yang manapun Lara inginkan.


Ditya keluar dari mobil dan langsung menuju ruangan Kak Nisa. Ia berpikir, Lara dan Bima akan mengobrol disana. Jadi, tujuan pertama adalah ruangan Kak Nisa.


Sebenarnya, dia bisa saja langsung masuk ke dalam ruangan Kak Nisa. Namun, agar Lara tidak curiga Ia pun mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat Ia mengetuk, tak ada yang menjawab. Apakah tidak ada orang? Untuk memastikannya, Ditya pun membuka pintu dan benar saja tidak ada orang sama sekali di ruangan Kak Nisa.


Ditya lalu mencari tempat lain yang Lara sukai, pilihan pertama jatuh ke kamar bayi. Dulu waktu bazar Lara memilih ke kamar bayi karena menyukai anak-anak kecil. Ditya pun pergi ke kamar bayi dan lagi-lagi Ia harus kecewa. Lara tak ada di sana. Kak Nisa juga tak ada, Ia harus bertanya pada siapa?


Saat berbalik, Ditya bertabrakan dengan Bunga yang baru saja pulang sekolah.


"Bunga baru pulang?" tanya Ditya dengan lembut.


Bunga adalah salah satu adik yang Ia sayangi di Panti Asuhan ini. Sudah lama Ia mengenal Bunga dan seakan tak rela kalau ada yang mau mengadopsi Bunga. Ia selalu menyeleksi keluarga yang hendak mengadopsi dan berujung dengan menolaknya dengan berbagai alasan.


Bunga dengan sopan mencium tangan Ditya. "Iya, Kak. Kak Ditya ke sini sama Kak Lara? Kok ada mobil temannya Kak Lara di depan?"


"Aku nyusul Lara. Baru banget kau sampai. Lara kayaknya masih ada di sini sih, tapi aku belum ketemu. Kemana ya kira-kira?"


"Kak Ditya udah cari ke halaman belakang? Kak Lara dari kemarin suka sekali berada di halaman belakang. Kayaknya, Kak Lara begitu menikmati halaman belakang yang banyak bunga-bunga dan udara yang terasa sejuk di sana. Coba deh, Kak Ditya cari di halaman belakang." saran dari Bunga.


"Iya ya. Coba Kak Ditya cari dulu ya ke halaman belakang? Nanti kalau kamu ketemu sama Kak Nisa, bilangin aja kalau Kak Ditya datang. " pesan Ditya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Bunga.


Ditya pun menuju halaman belakang. Halaman yang luas dengan banyak bunga yang bermekaran dengan cantik. Semua berkat tangan dingin Kak Nisa dan anak-anak di Panti yang rajin merawat kebun mereka. Halaman belakang kini sangat indah dan membuat siapa pun betah berlama-lama berada di sana.


Ditya pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam Panti. Dengan penasaran Ia berjalan menuju belakang pohon besar itu. Di sana, Ditya melihat Lara sedang mencangkul sebuah tanah. Ditya masih berpikir kalau Lara mau menanam sesuatu. Tak ada pikiran buruk dalam diri Ditya terhadap istrinya tersebut.


Ditya berniat memeluk istrinya dari belakang dan memberikan surprise. Ditya pun berjalan sambil mengendap-endap agar Lara tidak tahu keberadaannya. Namun, langkahnya yang semula semangat tiba-tiba melemah saat Lara mengangkat sesuatu yang Ia kenal dengan sangat apa isinya. Ia tidak percaya, kenapa Lara sampai mencangkul benda itu?


Ditya berjalan mendekat ke arah Lara dan ternyata benar, yang Lara pegang adalah benda yang dulu Ia dan Agni kuburkan di dalam tanah, di halaman belakang Panti saat mereka masih SMA. Sudah bertahun-tahun lamanya dan tak ada yang tahu selain mereka berdua. Lantas kenapa Lara bisa tahu?


"Apa yang kamu lakukan Lara?" tanya Ditya dengan nada tinggi. Ditya tak bisa lagi membendung perasaan marah dan terkejut yang bercampur menjadi satu.


Marah karena Lara mengetahui tempat Ia dan Agni menyembunyikan sesuatu dan penasaran bagaimana Lara bisa mengetahuinya?


Lara terlihat ketakutan dan merasa kalau dirinya adalah pencuri yang sedang kedapatan mencuri di rumah orang lain. "Dari mana kamu tahu semua ini? Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan sampai kamu bisa tahu tempat rahasiaku dengan Agni?" cecar Ditya pada istrinya sendiri.


Lara sangat terkejut saat Ditya tanpa sungkan menyebut nama Agni. Ia tak menyangka, Ditya langsung berkata yang sebenarnya. Dirya tidak menyembunyikan apapun. Berarti benar, cincin itu adalah cincin yang dikubur oleh mereka berdua. Apa artinya itu semua? Apakah mereka memang benar sepasang kekasih?


Lara masih terdiam tak percaya dengan apa yang Ia lihat dan Ia dengar. Ditya yang marah dan emosi bahkan sampai berbicara dengan nada tinggi padannya. Ditya tak pernah seperti ini, Ditya selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih. Lara merasa, Ditya yang berdiri di depannya bukankah suami yang selama ini sangat mencintainya. Ditya yang berbeda.


"Jawab pertanyaan aku, Ra! Dari mana kamu tahu cincin ini?" tanya Ditya lagi dengan nada tinggi.


Lara ingin berbicara, namun semua yang Ia ingin katakan seperti tercekat di dalam tenggorokannya. Tak ada suara yang keluar sama sekali. Ia terus memaksakan diri dan akhirnya bisa berbicara. "Kenapa kamu tahu tentang cincin itu?" tanya balik Lara dengan suara pelan.


"Justru aku yang bertanya duluan sama kamu, dari mana kamu tahu tentang cincin ini? Sudah aku juga, kamu pasti tahu dari Agni kan? Apa saja yang Agni katakan? Ada hubungan apa antara kalian berdua? Apa jangan-jangan kamu adalah penyebab meninggalnya Agni?!" mata Ditya memancarkan kemarahan yang teramat sangat.


Deg... Wajah Lara semakin terlihat pucat. Ditya benar-benar sangat marah padanya.


"Agni? Maksud kamu apa?" Lara berpura-pura tidak tahu. Ia sungguh sangat takut dengan Ditya saat ini. Berbohong lebih baik daripada jujur.


"Jangan pura-pura tidak tahu kamu! Aku sudah menyewa detektif dan mencari tahu hubungan kamu dan Agni! Kalian berdua bunuh diri bersama kan di atas Jembatan Cinta? Atau, cerita sebenarnya kamu yang telah membunuh Agni?" pertanyaan Ditya begitu memojokkan Lara.


Lara tak lagi kuat menopang tubuhnya. Ia yang semula jongkok akhirnya terduduk di atas gundukan tanah kotor yang telah Ia gali.


Jadi selama ini Ditya telah mencari tahu tentang dirinya? Apa selama ini Ditya menikahinya karena tujuan dan maksud tertentu? Lara tidak percaya sama sekali kalau Ditya setega itu. Jadi, semua kata cinta yang Ditya ucapkan adalah palsu, hanya demi mencari tahu kematian Agni? Apa cinta Ditya juga palsu?


****