
Lara
4 tahun kemudian
"Iya, Om. Lara akan pulang secepatnya ke Indonesia. Sudah waktunya Lara menghadapi semua orang. Lara nggak akan bersembunyi lagi Om." kataku pada Om Wisnu melalui sambungan telepon.
Aku berjanji pada Bima untuk kembali ke Indonesia, namun ternyata aku masih membutuhkan keberanian untuk menghadapi masa lalu kelamku.
Keadaan perusahaan semakin banyak perubahan. Ditya yang awalnya memiliki saham hanya 5% ini bahkan sudah memiliki 30% saham perusahaan. Aku jadi curiga, Ditya memang ingin menguasai harta milik Papa Handaka. Tak akan aku biarkan itu terjadi!
Om Wisnu bercerita, rumah tangga Anggi dan Arya tidak berlangsung mulus. Arya yang terbiasa hidup susah, merasa dirinya kaya dadakan setelah menikah dengan Anggi. Ia merasa sombong karena memiliki saham sebesar 5%.
Gaya hidup Arya pun berubah. Dari serba pas-pasan berubah menjadi bak crazy Rich yang punya banyak uang. Tak jauh beda, Anggi pun bersikap demikian. Terbiasa dimanjakan dan dituruti semua keinginan oleh Papa, membuat Anggi terus-menerus berbelanja dan pada akhirnya menjual sedikit demi sedikit saham miliknya pada Ditya untuk menutupi segala kebutuhan hidupnya.
Arya yang sudah sombong pun membuat bisnis baru namun gagal. Kurang pengalaman dan terlalu banyak ingin mengambil untung membuat perusahaannya hancur. Ia pun mengalami kerugian yang besar dan pada akhirnya menjual sisa saham miliknya pada Ditya.
Om Wisnu bilang, Ditya semakin kaya karena Ia pintar memimpin perusahaan. Memegang dua perusahaan dalam waktu bersamaan bukan hal yang mudah tapi dia mampu melakukannya. Namanya semakin terkenal saja. Beberapa kali aku melihatnya masuk dalam majalah bisnis dan menjadi cover di halaman depan.
Mungkin hal itu juga yang menyebabkan dia menjadi semakin ambisius. Ia ingin menguasai perusahaan Papa karena kini Ia memiliki 30% saham. Kalau Tante Sofie menjual sahamnya juga, maka posisinya akan sama denganku yakni 50 : 50.
Lily yang sudah besar dan mulai bisa aku tinggal untuk bekerja membuatku yakin untuk pulang kembali ke Indonesia. Aku akan tinggal di apartemen yang sudah aku beli. Mama Bima yang akan menjaga Lily untukku.
Selepas kepergian Bima, Mama Bima seorang diri karena tak lama kemudian Papa Bima juga meninggal. Ia sangat kesepian dan Lily adalah satu-satunya hiburan untuknya. Aku sudah berjanji pada Bima akan menjaga Mamanya. Mama Bima sudah seperti Mamaku sendiri. Aku sangat menyayanginya. Ia sangat baik hati dan lembut. Aku merasakan kasih sayang Mama kembali darinya.
Mama Bima tinggal tak jauh dari apartemen milikku. Aku sudah berencana, mengajak Mama tinggal bareng namun beliau menolak. Rencananya saat nanti aku berada di Indonesia aku akan menitipkan Lily pada Mama.
Segala sesuatunya sudah siap sesuai dengan rencana, aku dan Lily pun meninggalkan rumah kakeknya Bima di Belanda. Meski berat hati, aku dan Lily harus pulang ke tanah kelahiranku. Aku meninggalkan rumah penuh kenangan dengan senyum seperti yang Bima inginkan.
Kepulanganku ke Indonesia disambut hangat oleh Mama Bima dan Om Wisnu. Aku memeluk Om Wisnu yang sudah seperti Papaku sendiri dan mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya selama aku di Belanda.
Mama Bima memeluk Lily dengan penuh kasih sayang. Semenjak Bima dan Papanya meninggal, Mama Bima kembali ke Indonesia dan hanya sesekali menengok Lily dibelanda.
Aku tak langsung datang ke perusahaan, aku memutuskan untuk mencari sekolah yang tepat untuk Lily. Akhirnya aku putuskan menyekolahkan Lily tak jauh dari rumah Mama Bima. Mama Bima yang akan mengawasi Lily langsung nantinya juga lebih enak karena dekat dengan rumahnya.
"Lily sayang, mulai besok Mama akan bekerja di perusahaan milik Kakek Handaka. Lily nanti sama Oma ya. Jangan nakal loh! Lili harus menyayangi Oma karena Oma sangat sayang sama Lily! Papa Bima sudah meninggalkan Oma. Kini tugas Lily sekarang menjaga Oma dan membahagiakannya seperti yang Papa Bima inginkan. Lily mau kan?" kataku seraya menguncir rambut panjang Lily.
Lily mengangguk. "Lily sayang sama Oma. Lily akan jaga Oma."
"Anak pintar! Mama percaya sama Lily. Ayo kita siapkan barang-barang untuk Lily sekolah besok. Nanti pulang kerja Mama akan jemput Lily ya di rumah Oma."
"Baik, Mama."
Keesokan harinya aku dan Lily berangkat pagi-pagi sekali. Aku menitipkan Lily pada Mama Bima dan lalu pergi ke salon untuk merubah penampilanku. Aku sudah membooking salon di pagi hari. Aku ingin penampilanku saat bertemu dengan Ditya berubah total.
Selama di Belanda aku kurang memperhatikan penampilan. Untuk apa? Saat aku membuat video aku selalu memakai topeng yang tidak menunjukkan wajah asliku. Aku hanya perawatan standar dan jarang bermake-up. Kini, Lara Si Selebgram Hot telah kembali lagi ke Indonesia, akan kutunjukkan pada orang-orang yang sudah menyakitiku bahwa aku sudah berubah menjadi Lara yang kuat dan siap melawan mereka semua!
Oh ya, selama aku di Belanda aku tak lagi mimpikan tentang Agni. Aku menjadi diriku sendiri seperti yang Bima inginkan. Entah apa sebabnya, mungkin karena apa yang Agni inginkan sudah tercapai maka dari itu aku tak lagi bermimpi tentang Agni.
Penampilanku pun berubah total setelah di make over di salon. Aku terlihat sangat cantik dan bahkan tidak mengenali diriku sendiri. Aku sengaja mengenakan blouse warna putih dengan rok merah yang berbelahan tinggi sampai ke ke atas paha.
Rambut panjangku kubiarkan tergerai. Dengan penuh percaya diri aku melangkah menuju perusahaan milik Papa Handaka.
Kedatanganku membuat setiap pasang mata menatap takjub. Tentu saja mereka sangat mengenali siapa diriku. Seorang Lara handaka yang sebelumnya terkenal sebagai selebgram hot kini sudah kembali. Pemilik perusahaan yang sebenarnya.
Para karyawan menunduk penuh hormat padaku yang aku balas dengan senyum kecil namun tetap terkesan misterius dan berwibawa tentunya. Aku berjalan menuju lift dengan banyak tatap mata terarah padaku. Aku pun langsung menuju ke ruang pimpinan dimana Ditya berada. Lantai paling atas yang dulu Papa Handaka tempati.
Ibaratnya, wajahku adalah pasporku. Saat aku keluar dari lift, sekretaris Ditya langsung mengenali dan tanpa perlu membuat janji Ia langsung mengantarku menemui Ditya.
Aku terdiam sebentar sebelum memasuki pintu besar di mana dulu Papaku menghabiskan waktunya bekerja di dalam sana. Kini, di belakang pintu tersebut terdapat laki-laki yang sangat aku cintai dan juga aku benci. Aku menghirup udara banyak-banyak dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang sudah dibukakan oleh sekretaris pribadinya.
****