Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Kunjungan Keluarga Kusuma


Lara


Malam harinya saat semua berkumpul di meja makan, aku memberitahu Papa tentang rencana Ditya dan keluarga untuk datang ke rumah besok malam.


"Pa, kemarin Ditya bilang sama Lara kalau keluarga Kusuma akan datang besok malam." aku mengumumkan dengan senyum bahagia dan penuh kebanggaan di depan ibu dan adik tiriku.


Papa sampai menjatuhkan sendok yang dipegangnya karena terkejut. "Besok? Secepat itu? Wah Papa tidak menyangka. Sudah Papa duga kalau Ditya memang menaruh rasa sama kamu! Akhirnya... Papa akan menikahkan anak Papa juga!"


Papa begitu bahagia, sama sepertiku. Namun dua orang di depanku tidak demikian. Wajah Tante Sofie terlihat mengeras menahan marah, dan wajah Anggi memperlihatkan kekesalan karena rencananya menikahi Arya disalip olehku.


"Iya, Pa. Lara juga tidak menyangka kalau Ditya mau secepatnya menikahi Lara. Berarti pernikahan Lara lebih dulu ya Pa dibanding Anggi?" aku sengaja menambah rasa kesal pada Anggi. Rasakan itu! Memang enak aku salip!


"Oh tentu! Kamu duluan yang menikah dibanding Anggi!" Papa mengaminkan perkataanku, membuat Tante Sofie angkat bicara membela anak tirinya.


"Papa kok enggak adil begitu sih? Kasihan dong Anggi!" Tante Sofie melihat ke arah Anggi yang menitikkan air mata. "Anggi duluan loh Pa yang ingin menikah. Kenapa malah Lara yang Papa nikahkan? Apa karena Anggi bukan putri kandung Papa makanya Papa begitu membedakan antara Anggi dan Lara?"


Pintar sekali Tante Sofie berkata-kata, pasti sekarang Papa merasa bersalah akan keputusan yang dibuatnya.


"Bukan begitu, Sayang. Papa adil kok antara Anggi dan Lara. Papa memperlakukan mereka berdua sama. Memang benar Anggi yang mengutarakan ingin menikah lebih dahulu, namun keluarga Ditya yang datang pertama kali." selesai bicara dengan Tante Sofie, Papa kini berbicara dengan Anggi.


"Mana orang tua Arya? Kamu bilang mereka akan datang melamar kamu?" tanya Papa.


"Mereka mau datang, Pa. Orang tua Arya sedang panen di kampung. Mereka bilang habis panen akan segera datang dan melamar Anggi, Papa bisa kan menunggu sebentar?" Anggi menatap Papa dengan tatapan memohon.


Papa menghela nafas dalam. "Kalau orang tua Arya datang sejak kemarin, Papa akan menikahkan kamu duluan. Papa berusaha bersikap adil loh! Namun ternyata Ditya dan keluarga duluan yang datang, sudahlah kamu tenang saja. Setelah Lara menikah, baru kamu yang Papa nikahkan."


Yess... Papa tidak terbujuk.


Keesokan harinya aku ijin sama Papa tidak pergi ke kantor, aku juga ijin pada Bima untuk tidak syuting apapun hari ini. Aku harus mempersiapkan semuanya. Aku harus menyambut kedatangan Ditya dengan sebaik-baiknya.


Aku pun ke salon sejak pagi, melakukan beragam perawatan agar aku cantik saat dilamar nanti malam. Aku juga membeli sebuah dress di salah satu butik ternama di Mall. Jangan tanya berapa harga satu buah baju disana, bisa setara harga sebuah motor baru.


Tak apa. Aku sekarang punya uang untuk membelinya. Papa membekaliku dengan ATM yang Ia transfer dalam jumlah besar setiap bulannya.


Aku juga punya uang sendiri, hasil endorse dan syuting yang sudah kubagi dua dengan Bima sesuai kesepakatan awal. Sementara artis lain memberi manajernya 10%, aku 50%.


Bima adalah orang dibalik kesuksesan karirku. Tanpa Bima, aku pasti akan tetap menjadi Lara si cupu yang membosankan.


Papa sudah memerintahkan Tante Sofie untuk mempersiapkan makanan untuk menyambut keluarga Ditya. Meski nampak enggan, Tante Sofie tetap melakukannya. Mana berani si monster salon itu membantah perintah Papa?


Persiapan sudah matang dan sempurna hanya tinggal menanti kedatangan Ditya dan keluarga. Tepat jam 7 malam, Ditya datang bersama kedua orang tuanya.


Ditya terlihat sangat tampan malam ini. Mengenakan atasan batik Jagatan Pisang khas Bali. Aku sempat di-endorse salah satu UMKM pengrajin batik dan sedikit tahu tentang motif batik yang dipakai Ditya malam ini.


Rambut Ditya disisir rapi dan memakai pomade agar rambutnya terlihat makin klimis. Penampilannya terlihat formal namun tak mengesampingkan fakta kalau Ditya masih muda.


Ganteng maksimal!


Bukan aku saja yang terkesima, Anggi pun juga. Arya yang diundang Anggi untuk datang bahkan sampai mencubit lengan Anggi agar kekasihnya tidak terkesima pada cowok lain selain dirinya.


Benar-benar pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Si ganteng itu yang sudah merenggut kesucianku. Perbuatan bodoh yang tak kusesali di antara sekian banyak perbuatan bodoh yang kulakukan dalam hidup ini.


Ditya benar-benar mencuri perhatian semua orang. Ketampanannya, cara berbicaranya yang pintar dan juga sikapnya yang sopan.


Kulirik Tante Sofie yang juga sejak tadi begitu terpukau dengan Ditya. Awas saja kalau nenek lampir itu mau memisahkan Ditya dariku!


Papa lalu mengajak keluarga Kusuma untuk makan malam bersama. Meja makan kami yang besar muat untuk kami berdelapan. Dulu cita-cita Papa mau punya keluarga besar. Mau punya anak banyak. Apa daya, Mama tak bisa memiliki anak lagi setelah melahirkanku dan Tante Sofie ... ah sudahlah, nenek lampir itu tak berniat melahirkan anak dari Papa sepertinya.


"Kami mau pernikahan Ditya dan Lara dilakukan secepatnya. Ditya sudah sangat tak sabar dan memajukan acara melamar yang seharusya baru kami lakukan sebulan lagi." kata Pak Kusuma.


"Biarlah, Pa. Namanya juga anak muda. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya." sahut Mamanya Ditya.


Wanita yang memasuki usia 50 tahun itu terlihat cantik dengan kebaya dan sanggul yang dikenakannya. Gayanya anggun, beda sekali dengan Tante Sofie yang memilih memakai dress dibanding kebaya.


Yang membuat aku heran, kenapa Ditya sama sekali tidak mirip dengan kedua orang tuanya ya? Wajah mereka sama sekali tak ada kemiripan.


Ah... Aku tak boleh berburuk sangka. Mungkin saja Ditya mirip dengan kakek atau neneknya. Tidak sepertiku yang sangat mirip dengan Mama.


"Betul itu. Namanya anak muda, kalau sudah jatuh cinta, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Toh pernikahan mereka adalah pemersatu keluarga kita juga bukan?" Papa berbicara dengan sangat bahagia.


Aku senang melihatnya. Aku mau Papa tetap bahagia dan jangan memikirkan tentang permasalahan hidupnya. Aku yang akan menjaga senyum di wajah Papa agar tak pudar.


"Saya setuju. Bagaimana kalau pernikahan mereka kita percepat saja? Toh tak ada ruginya kita mengulur waktu!" usul Bapak Kusuma.


"Saya sih terserah Lara dan Ditya saja. Mereka yang akan menjalaninya." kata Papa.


Ditya menatapku dan tersenyum. Ya ampun.... Tampan banget.


"Saya juga maunya segera mempersunting Lara." kata Ditya dengan penuh keyakinan.


"Saya suka ini. Tegas. Kapan kamu akan menikahi Lara?" tanya Papa.


Suasana pun berubah menjadi tegang. Semua menunggu jawaban Ditya.


Aku mengedarkan pandanganku dan menatap Arya. Ternyata sejak tadi Arya terus menatapku lekat. Mau apa sih dia?


Aku dan Arya akhirnya bertemu mata dan Arya menggelengkan kepalanya. Isyarat kah kalau aku jangan menyetujuinya?


"Seminggu lagi, Pak. Boleh?"


****



Note: Batik jagatan pisang atau batik pisang merupakan jenis batik yang berasal dari Bali. Sesuai dengan namanya, batik ini memiliki motif pisang bali. Umumnya, batik ini digunakan sebagai pemberian kepada kekasih yang hendak bepergian jauh dengan harapan ia akan kembali lagi. Oleh karena itu batik ini menjadi simbol doa, keselamatan, dan harapan.- Sorce: 99.co