Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Lengah


POV AUTHOR


Arya bertepuk tangan mendengar apa yang Lara katakan. "Wow... Wow... Aku tak menyangka setelah kembali ucapan kamu jadi makin pedas saja! Ternyata bukan hanya makin cantik, kamu juga makin berani saja!"


Gantian Lara yang tersenyum mengejek. "Iyalah. Kenapa juga aku harus takut melawan orang seperti kamu?"


"Ini yang aku suka." Arya lalu mendekatkan dirinya pada Lara dan berbisik sesuatu. "Aku bosan pada Anggi. Aku menyesal menikahinya. Melihat kamu sekarang, aku makin yakin kalau yang aku inginkan adalah kamu!"


"Ehem!" suara berdehem dari belakang mengejutkan Arya. Lara sih tenang saja. Ia tidak merasa melakukan kesalahan.


Lara menoleh dan melihat Ditya berdiri di belakang dirinya dan Arya. "Apa yang kamu katakan pada istriku?" tanya Ditya yang terlihat menahan amarahnya.


Bagaimana tidak, istrinya digoda oleh laki-laki lain di depan matanya. Ia tidak terima. Ia saja sulit mendapatkan maaf dari Lara eh sudah ada yang mau menikung dari belakang.


"Hm.... Hanya percakapan biasa dengan mantan pacar. Maklum, sudah lama tidak bertemu banyak yang kami harus bicarakan." kata Arya beralasan. "Jadi, kita makan siang dimana, Ra?"


"Kamu nanya sama aku?" tanya Lara sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya dong. Kamu kan mantan pacar aku yang sudah lama tidak bertemu." ujar Arya.


"Oh ya? Kok baru ngakuin sekarang? Dulu kemana aja?!" sindir Lara.


"Yang berlalu biarlah berlalu. Posisi kamu tetaplah yang utama di hatiku." kata Arya dengan gombalnya.


Lara kembali tersenyum. "Kok kata-katanya mirip ya? Tapi maaf, aku makan sendiri saja! Kalian saja makan berdua. Biar akrab!"


Lara lalu masuk ke dalam lift dan meninggalkan Ditya dan Arya yang saling menatap dengan tatapan permusuhan.


Lara keluar lift dan disambut dengan sekretaris Ditya yang menunduk hormat padanya. Lara pun masuk ke dalam ruangan yang kini miliknya.


Dalam waktu semalam, ruangan Ditya berubah. Jika kemarin hanya ada satu meja kerja saja, kini ada dua. Lengkap dengan sekat yang Lara minta.


"Bagaimana? Sesuai dengan yang kamu inginkan bukan?" tanya Ditya yang baru datang.


"Lumayan!" jawab Lara singkat.


"Aku di sebelah kiri dan kamu di sebelah kanan. Berkas kerjaku sudah menumpuk di sana soalnya."


"Oke. Tak masalah!" Lara pun menuju mejanya dan menaruh tas miliknya di atas meja. Tas branded yang Ia beli sebelum pergi ke Indonesia sebagai penguat hati menghadapi cobaan hidup.


Ditya juga duduk di tempatnya. Meski mereka dibatasi sekat, namun Ditya menaruh kaca besar tepat di dekat pintu masuk. Ia bisa melihat apa yang Lara lakukan dari kaca tersebut. Rencana yang sempurna karena Lara tak menyadari niat Ditya.


"Apa yang bisa aku kerjakan sekarang?" tanya Lara dari sekat sebelah.


Ditya sengaja pura-pura tidak mendengar dan menunggu Lara mendatangi tempatnya. Benar saja, Lara yang tidak sabaran pun datang sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Apa yang bisa aku kerjakan sekarang?" ulang Lara.


"Apa Sayang?" tanya balik Ditya sambil menggoda istrinya.


"Kamu pasti dengar apa yang aku katakan! Jangan beralasan deh! Aku bisa kerjakan apa? Sudah 3x aku bertanya nih!" omel Lara.


"Hmm... Gimana kalau kita mulai dengan duduk di pangkuan aku dan bermesraan seperti dulu?" goda Ditya lagi.


"Lupakan!" Lara kesal dan kembali lagi ke tempatnya.


"Loh kirain lagi telpon-telponan sama Bima. Biasanya juga kayak gitu!" Ditya menyerahkan bantex warna biru dan menaruhnya di atas meja Lara.


"Andai aku bisa menelepon Bima..." kata Lara dengan sorot mata sedih. "Ini apa?" Lara mengambil bantex dan membukanya.


"Kamu.... Berantem sama Bima?" tanya Ditya. Ia lebih tertarik dengan masalah Lara dan Bima ketimbang menjelaskan apa isi bantex yang Ia bawa.


"Bima.... Sudah meninggal!"


Ditya sangat terkejut dengan apa yang Lara katakan. "Aku turut berduka cita. Kapan? Kenapa?"


Meski tak menyukai kedekatan Bima dengan istrinya, namun Bima yang menjaga Lara selama ini. Ditya bisa tahu kalau laki-laki itu sangat mencintai Lara.


"Empat tahun lalu. Setelah aku me-" hampir saja keceplosan dan mengatakan kalau dirinya telah melahirkan. "Kamu belum bilang ini bantex apa?"


"Itu adalah rencana strategi marketing dan laporannya. Kalau kamu butuh data lebih lengkap kamu bisa akses sendiri di komputer kamu! Biar aku ajarkan!"


Ditya lalu mendekati Lara dan berdiri di belakangnya. Komputer Lara sudah dinyalakan sebelumnya oleh sekretaris pribadi Ditya.


"Coba kamu buka sharring komputer kita." perintah Ditya.


Lara yang sudah lama tidak bekerja agak kaku dalam mengoperasikan komputer. Ia hanya mendalami ilmu mengedit video dan foto. Sisanya nol besar.


Lara bingung harus memilih apa? Tangannya di atas mouse Ia gerakkan tapi tak tahu mana yang Ia pilih.


Ditya pun menaruh tangannya di atas tangan Lara lalu mengajari Lara mana yang harus Ia klik. "Yang ini, Sayang! Semua data ada di sini. Passwordnya adalah tanggal lahir kamu! Hanya aku dan kamu yang bisa mengaksesnya. Bagian lain tidak bisa."


Deg... Jantung Lara berdegup kencang. Kenapa harus tanggal lahirnya yang dijadikan password?


Jantung Lara semakin kencang berdegup manakala Ditya menaruh tangan kirinya di meja. Posisinya kini Lara seperti dalam kungkungan Ditya yang berdiri di belakangnya.


"Laporan keuangan yang kamu perlukan ada di sini. Kalau biaya marketing ada di sini. Bisa kamu cocokkan dengan bantex yang aku berikan. Berapa biaya dan promosi apa yang paling efektif. Aku mau kamu yang kembangkan. Kamu lama berkecimpung dalam bidang endorse. Pasti kamu tahu strategi marketing apa yang sesuai dengan produk kita."


Lara mengangguk sambil menenangkan debaran jantungnya yang bertalu makin kencang.


"Satu lagi!"


"Apa?" tanya Lara yang mengangkat wajahnya dan kini mereka bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.


Kesempatan ini tidak Ditya lewatkan. Ia mencium bibir Lara cepat. "Kamu wangi sekali."


Ditya pun berdiri dan meninggalkan Lara yang terdiam kaku. Tak menyangka dengan apa yang Ditya lakukan.


"Anggap saja tadi DP. Akan aku tagih full kiss nanti sama kamu!" Ditya tersenyum menggoda dan kembali ke tempat duduknya. Diusapnya bibirnya sambil tersenyum senang.


Ditya menatap Lara yang menutup wajahnya karena malu dari balik cermin. Senyum Ditya semakin mengembang saja. Sudah lama Ia tidak merasakan kebahagiaan seperti ini.


Sementara itu Lara terus menutupi wajahnya yang merona merah. Tak menyangka Ditya akan menciumnya saat kesempatan datang.


"Lara bodoh! Lara bodoh! Kok bisa enggak sadar sih? Kok bisa merasa pengen dicium lagi sih? Bodoh Lara... Bodoh! Jangan terjebak! Ini hanya akal-akalan Ditya saja! Sadar Lara... Sadar!" batin Lara.


Ditya tak semangat bekerja. Sambil senyum-senyum, Ia memandangi Lara yang terus merasa malu. "Menggemaskan sekali kamu, Sayang!" batin Ditya.


****