
Lara
"Gimana? Sudah puas mencari tahunya?" tanya Ditya saat kami dalam perjalanan pulang.
Aku mengangguk lemah. "Kasihan sekali Agni. Dibalik senyumnya menyimpan segudang luka. Aku seharusnya bersyukur akan hidupku namun aku menyia-nyiakannya. Sedang Agni berharap memiliki umur panjang tapi malah tidak ada kesempatan hidup."
"Itu namanya takdir, Ra. Kamu ibaratnya perpanjangan tangan Agni. Hanya dengan kamu Agni bisa menceritakan segala hal yang bahkan tidak Ia ceritakan padaku dan Kak Nisa yang selama ini dekat dengannya. Selanjutnya rencana kamu apa?"
"Aku akan ke tempat Tante Sofie. Tapi tidak hari ini. Sudah terlalu malam. Aku lelah. Aku ingin istirahat dulu." kataku dengan suara lelah.
"Kemana aku harus mengantar kamu? Jujur saja aku mau nanya sejak tadi kamu asyik sendiri dengan pikiran kamu. Takut aku kelewatan."
Aku melihat dimana kami sekarang. "Oh belum terlewat kok. Di Apartemen Indah. Kamu keluar toll aja dulu nanti putar balik di tugu."
"Oh... Kamu tinggal di Apartemen Indah. Aku tahu kok itu apartemen baru. Aku suka designnya."
Aku teringat dengan Lily yang belum aku jemput. Aku menepuk keningku. Bisa-bisanya aku lupa dengan anakku sendiri! Kulihat jam di Hp milikku. Sudah jam setengah sebelas malam. Lily pasti sudah tidur.
Kuhubungi no hp Mama Bima. "Ma, maaf Lara baru telepon. Lara sibuk sekali malam ini. Lara baru bisa kesana besok ya Ma. Maaf sekali!"
"Tak apa, Ra. Lily hari ini senang sekali di sekolah. Tak usah kamu pikirkan. Biar Mama yang menjaganya. Mama mengerti kok kamu baru mulai bekerja pasti banyak yang harus kamu pelajari. Kamu istirahatlah. Biar Mama yang jaga Lily. Mama senang ada yang menemani Mama malam ini." kata Mama Bima dengan lembut.
"Makasih sekali Ma. Maafin keteledoran Lara ya Ma. Lara janji tak akan berbuat seperti ini lagi!"
"Iya, Sayang. Hati-hati ya di jalan. Kamu jangan lupa makan." pesan Mama Bima.
"Iya, Ma. Terima kasih banyak."
Kututup teleponku dengan tatapan ingin tahu Ditya.
"Ma?" tanyanya sambil mengernyitkan keningnya.
"Mamanya Bima. Aku sudah menganggap Mamanya Bima seperti Mamaku sendiri. Aku berutang budi pada Mama. Seharusnya aku kesana tapi sekarang sudah malam. Besok pagi saja!"
Ditya mengangguk mengerti. "Kalau begitu aku menginap malam ini di apartemen kamu boleh kan?"
Aku terkejut mendengar pertanyaannya. "Menginap? Untuk apa?" tanyaku heran.
"Ya aku tinggal dimana pun istriku tinggal. Aku sudah bilang kemana pun kamu pergi aku akan ikuti. Sudah cukup aku kehilangan kamu lima tahun ini. Kalau perlu kamu akan aku rantai agar tak bisa pergi dari sisiku."
"Tapi aku tak bilang setuju loh! Aku juga tak bilang akan rujuk sama kamu!" elakku.
"Tak masalah! Toh kita tak pernah bercerai. Aku tetap menafkahi kamu lima tahun ini. Status kita masih suami istri. Aku juga sudah membawa pakaianku. Tuh lihat saja koper di belakang!"
Aku lalu berbalik badan dan melihat sebuah koper sudah ada di bangku penumpang. Sejak tadi aku tak memperhatikan, rupanya Ditya sudah mempersiapkan semuanya.
"Sejak tau kamu kembali, aku bertekad tak akan melepaskan kamu lagi. Aku semalam langsung membereskan pakaianku dan siap mau tinggal dimana pun kamu tinggal!" kata Ditya penuh percaya diri.
"Kalau aku tak mau gimana?" tanyaku balik.
"Aku akan memaksa. Pokoknya aku tak mau jauh-jauh dari kamu lagi!"
Huft... Aku bisa apa?
Ditya tersenyum. "Itu... Lihat nanti!"
Ditya lalu membelokkan mobilnya ke apartemen tempatku tinggal. Ia mengambil koper miliknya dan mengikuti langkahku menuju lantai tempatku tinggal.
"Apartemen yang bagus. Sesuai gaya kamu!" puji Ditya saat masuk ke dalam apartemenku.
Untung saja kami tadi sempat makan dahulu sebelum pulang. Aku jadi tak perlu repot menyiapkan makan malam.
"Aku mau mandi dulu. Kamu mau ikutan?" tawarnya.
Aku menggelengkan kepalaku cepat. "No! Udah sana cepat! Aku juga mau mandi!"
Ditya tersenyum. "Padahal kalau mandi bareng kita lebih cepat loh!"
Aku mengacuhkan Ditya dan lebih memilih mengambil baju ganti untukku sendiri. Kupilih baju tidur motif hello kitty yang kembaran dengan Lily. Setelan atas bawah yang menurutku pas untuk momen kali ini. Jangan memancing Ditya sama sekali.
Ditya selesai mandi dan hanya mengenakan handuk putih yang dililitkan di pinggangnya. Membuatku tak kuasa untuk melihat perutnya yang penuh otot.
Tubuh itu masih mempesona seperti dahulu. Masih begitu kuinginkan. Namun aku sadar kalau aku harus menahan keinginanku.
Aku mengambil handuk dan baju ganti lalu gantian masuk ke dalam kamar mandi. Kubasahi kepalaku dengan air dingin agar pikiran kotorku yang ingin menyentuh otot-otot di perut Ditya hilang bersama air yang aku guyur.
Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di kepalaku. Nampak Ditya sudah memakai kaos lengan pendek dan celana pendek. Nampak santai seperti berada di rumahnya sendiri.
"Mau aku bantu keringkan rambutnya?" tawar Ditya.
"Terserah." jawabku. Aku mengambil body butter dan membalurkan ke kaki dan tanganku.
Aku lalu memakai skincare dan Ditya membantu mengeringkan rambutku yang basah sehabis keramas.
"Sudah lama ya kita enggak seperti ini. Aku merindukan saat-saat seperti ini." kata Ditya.
Aku hanya diam saja. Aku juga merindukan kebersamaan kami, saat dimana cinta kami begitu membara.
"Kamu pasti sangat kesepian sampai tempat tidur kamu dipenuhi oleh banyak boneka. Tapi tenang saja, mulai malam ini ada aku yang akan menemani tidur kamu. Menjaga kamu dari mimpi buruk dan memelukmu di dinginnya malam."
Ditya salah paham. Boneka itu bukan milikku. Tapi milik Lily. Aku akan mengatakannya tapi tidak sekarang. Aku akan langsung mempertemukan mereka berdua. Ditya pasti langsung mengenali Lily karena wajah mereka yang sangat mirip satu sama lain.
"Sudah kering! Ayo kita bobo!" ajak Ditya.
Aku tak beranjak dari dudukku.
"Aku tak akan berbuat lebih. Aku janji. Aku tahu kamu masih butuh waktu. Tapi ijinkan aku memelukmu untuk menghapus rinduku lima tahun ini!" ujar Ditya yang kini sudah di tempat tidur.
Aku melihat kejujuran dalam ucapannya. Aku pun bangkit dan berjalan menuju tempat tidur. Ditya menepuk lengannya untuk kujadikan bantal seperti yang biasa aku lakukan dulu.
Aku menurut. Kuletakkan kepalaku di tempat paling nyaman. Ditya menarikku dalam pelukannya. Mau tak mau aku membalas pelukannya.
Ditya lalu mengecup keningku dan aku merasakan sesuatu membasahi keningku. "Terima kasih sudah kembali dengan keadaan baik-baik saja. Selama lima tahun ini aku selalu takut... Takut kamu mengakhiri hidup kamu seperti dulu. Aku terlalu takut kehilangan kamu. Aku selalu membaca berita tentang orang yang bunuh diri dan tak siap kalau menemukan nama kamu di sana. Terima kasih kamu masih hidup dan baik-baik saja. Maafkan aku. Aku sangat mencintai kamu, Ra. Jangan tinggalkan aku lagi."
****