
Lara
Aku mengangkat wajahku dan melihat Ditya yang menangis. Aku tahu Ia memang sangat mencintaiku. Kutepikan keraguanku selama ini tentangnya.
Sorot mata penuh cinta itu terlihat begitu jujur. Begitu takut kehilangan. Aku menyadari kesalahanku selama ini yang sudah meninggalkannya tanpa kabar sama sekali.
"Maafkan aku juga. Aku terlalu memikirkan diriku sendiri. Aku ingin pergi dan melupakan semuanya. Padahal aku tahu kamu begitu menderita. Maafkan aku..." kataku dengan suara lirih.
"Aku tak mau kamu pergi lagi. Kamu adalah istriku. Sampai kapanpun kamu tetaplah istriku. Kamu wanita yang sangat kucintai. Jangan lagi meninggalkanku, Ra." Ditya memelukku erat. Menangis dalam pelukanku.
Bagaimana aku tidak luluh? Seorang pemimpin perusahaan besar yang namanya sering masuk dalam majalah bisnis kini menangis di pelukanku. Menangis layaknya anak kecil yang takut ditinggal pergi.
Aku merasa sangat dicintai...
Aku merasa sangat dibutuhkan...
Ini yang membuatku selalu mencintai Ditya dan tak pernah bisa melupakannya. Lelaki yang begitu mencintaiku dengan tulus, meski aku sempat meragukan ketulusannya.
"Aku tak akan pergi lagi." kataku.
Ditya melepaskan pelukannya dan menatapku dengan lekat. "Kamu janji?"
Aku mengangguk yakin. "Ya. Aku janji!" kataku.
Ia lalu mendekatiku dan mencium bibirku. Perlahan dan dengan lembut. Membuatku tanpa sadar membalas setiap ciumannya. Membuatku ingin memuaskan rasa rindu yang begitu membuncah selama lima tahun ini.
Kami pun mulai saling meluapkan isi hati yang menggebu. Ciuman kami semakin panas saja. Tubuh kami menginginkan lebih.
Aku bahkan mengingkari perkataanku tadi yang tak ingin disentuh Ditya sama sekali. Aku menyerah saat tubuhku begitu merindukan setiap sentuhan darinya.
Ditya mulai membelaiku dengan lembut. Mulai menyusuri setiap inci tubuhku. Setiap gerakan tangannya membuatku seakan terbakar, membuatku ingin lagi dan lagi.
Lalu Ditya mulai memberikan ciumannya di leherku. Mencium setiap tubuhku dengan lembut. Ah.... Aku begitu menginginkan hal ini...
Aku tak menyadari kalau semua kancing bajuku sudah terlepas seluruhnya. Aku bahkan tak sadar kalau Ditya sudah berada di atas tubuhku. Mengukungku dengan kedua ototnya yang begitu ingin kusentuh.
Aku mau menyentuh dirinya juga. Aku pun melepaskan baju yang Ia kenakan. Menelusuri tubuhnya yang bak pahatan sempurna dari Sang Pencipta.
Ditya lalu membenamkan dirinya di leherku. Nafasnya membuatku meremang namun aku tak mau semua ini berhenti.
Ditya pun mulai turun dan membuat pertahananku hilang kendali saat Ia mulai bermain-main dengan dua buah sintal milikku. Suaraku mulai mendesaahkan namanya.
"Dit...."
"Iya, Ra. Sebut namaku terus Ra!" pintanya.
Aku terus menyebut namanya diantara kenikmatan demi kenikmatan yang kurasakan.
Sampai aku tak menyadari kalau Ditya mulai melakukan penyatuan. Aku ingin menolak namun tubuhku tak kuasa. Tubuhku menginginkannya.
Aku akhirnya membiarkan Ia melakukan apa yang Ia mau. Kamar apartemen ini jadi saksi bersatunya cinta kami kembali. Tak perlu waktu lama, hanya dua hari setelah aku kembali ke perusahaan dan kami sudah lepas kendali.
Kami memang sejak dahulu selalu hilang kendali jika bertemu satu sama lain. Karena itu aku dan Ditya sudah melakukannya sebelum kami menikah.
Kami terus meluapkan rasa rindu sampai kami kelelahan dan tertidur di seperempat malam. Ditya terus memelukku sepanjang tidur, takut aku akan meninggalkannya lagi. Aku pun juga memeluknya erat. Takut kehilangan kenyamanan yang sudah lama tak kurasakan.
****
Aku terbangun karena suara alarm yang memang kupasang setiap hari agar tidak kesiangan. Rasanya aku tak mau terbangun. Tubuhku masih sangat lelah setelah semalaman memuaskan diriku dan rasa rindu kami berdua.
Ia mengecup keningku dan kubalas dengan memeluknya makin erat. Udara pagi yang dingin membuatku tak mau beranjak dari tempat paling nyaman. Pelukannya.
"Kamu katanya mau ke rumah Mamanya Bima. Lupa? Aku sih tak masalah kalau kamu mau seperti ini terus." perkataan Ditya mengingatkanku tentang anakku Lily.
Aku pun duduk tegak dan langsung menuju kamar mandi. Ditya tersenyum dan melakukan apa yang biasa Ia lakukan. Merapihkan tempat tidur sambil menungguku selesai mandi.
"Tunggu aku mandi dulu! Kita akan ke rumah Mamanya Bima bersama-sama. Ingat, aku tak akan membiarkan kamu pergi kemana-mana tanpa pengawasanku!" ancam Ditya.
Aku mengangguk patuh. Sementara Ditya mandi, aku memakai make up dan merapihkan penampilanku. Aku juga memanggang roti dan membuatkan susu hangat untuk sarapan kami.
Ditya keluar kamar dengan dandanan yang rapi. Kemeja kerja dan celana dengan warna cokelat tua. Terlihat begitu menggoda. Rasanya ingin kuajak Ia bertempur lagi di kasur jika tak ingat janji yang kubuat semalam pada Mamanya Bima.
"Pagi Sayang!" Ditya memelukku dan mencium pipiku. "Pemandangan indah ini akhirnya kembali lagi dalam hidupku." Ditya melingkarkan pelukannya di pinggangku yang sedang memanggang roti.
"Pemandangan indah?" tanyaku.
"Ya. Melihat kamu menyiapkan sarapan sambil memelukmu erat seperti ini bagiku adalah pemandangan indah. Aku rela menukar semua milikku demi bersama kamu seperti ini." Ia kembali mencium pipiku. Ia lalu menangkup wajahku dan mencium bibirku lembut. "Aku mau berduaan kayak semalam lagi. Bagaimana kalau kita bolos kerja hari ini?"
"Ada yang mau aku beritahu sama kamu! Itu yang penting. Ayo kita sarapan dulu!" ajakku.
"Beritahu apa?" Ditya mengikutiku dan duduk di kursi meja makan. Ia meminum susu hangat yang kubuatkan.
"Nanti saja. Kita sarapan dulu!" kuhidangkan roti bakar untuknya dan kami sarapan bersama.
Selesai sarapan, aku mengajak Ditya pergi ke rumah baru Mamanya Bima. Hanya rumah ini yang tersisa. Semua habis untuk biaya pengobatan Bima. Aku ingin membantu namun selalu ditolak. Sampai akhirnya bantuan aku diterima namun tak lama Bima akhirnya menyerah dan pergi selamanya.
"Ayo! Turunlah!" ajakku.
Ditya menurut. Kami turun dari mobil dan aku menekan bell rumah Bima. Mama Bima tak langsung membukakan pintu. Beberapa kali kutekan baru Ia membukakan pintu.
"Ma!" aku mencium tangan Mamanya Bima. Ia nampak terkejut mendapati Ditya berdiri di belakangku namun tetap memberikan tangannya untuk Ditya salim.
"Kamu... Bersama dia?" tanya Mama Bima sambil menunjuk Ditya.
Aku mengangguk. "Kami... Kembali bersama seperti yang Bima inginkan."
Mama Bima tersenyum. "Syukurlah. Mama tahu Bima pasti ingin kamu bahagia juga. Kalian masuk dulu. Lily sudah menunggu kamu sejak kemarin!" Mama Bima membukakan pintu lebar-lebar untuk kami masuk.
Sebelum aku masuk, Ditya menarik tanganku. "Lily? Siapa Lily?"
Aku tersenyum. "Anakku. Masuklah! Nanti kuperkenalkan."
Ditya terdiam. Ia masih mencerna informasi yang kukatakan.
"Anak kamu? Lily?" tanyanya lagi seakan tak percaya dengan pengakuan jujurku.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ditya, seorang anak kecil cantik dengan kuncir dua berlari sambil meneriakkan namaku.
"Mama!"
Aku membuka kedua tanganku dan Lily menghambur ke pelukanku. "Mama kok semalam enggak datang sih?"
"Mama?" tanya Ditya lagi. Ia menatap Lily dengan lekat.
"Lily, kenalin. Ini Papa Ditya! Papa kamu!" perkataanku membuat Lily dan Ditya tercengang kaget.
****