Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Menjenguk Bima


Lara


"Oh iya, Mama udah nunggu di bawah. Nanti Mama mikir kita lagi ngapa-ngapain lagi!"


Ditya tersenyum. "Mama pasti ngerti kok. Kita kan pengantin baru. Kesenggol dikit pasti kesetrum."


"Ish! Udah ah ayo ke bawah. Aku yang lapar nih. Masakan Mama enak-enak tadi aku lihat. Rasanya sarapan roti tadi pagi sudah menguap entah kemana."


"Yaudah besok aku buatin sarapan yang awet kenyangnya sampai siang ya?"


"Apa?"


"Nasi tumpeng!"


Aku dan Ditya tertawa bersama. "Enggak ada yang lebih ngenyangin lagi? Ha...ha...ha..."


Aku dan Ditya akhirnya turun ke bawah. Nampak Mama sudah menunggu kedatangan kami sambil menahan senyum.


"Tuh kan pasti Mama mikirnya kita enak-enakkan di atas!" protesku.


"Biarin aja! Udah halal ini. Mau dimana dan kapan saja bebas!" sahut Ditya.


"Kan aku malu!"


"Tenang, ada aku. Toh kita enggak ngapa-ngapain!"


Kami pun menghampiri Mama yang masih senyum-senyum penuh arti. "Enggak seperti yang Mama pikirin, Ma. Aku tidur pulas. Lara enggak bangunin malah asyik lihat-lihat koleksi bukuku."


"Memang Mama mikirin apa? Sok tau kamu! Udah ayo kita makan. Nanti dingin."


Aku menuangkan lauk dan nasi untuk suamiku. Mulai sekarang, ini adalah tugasku. Aku inisiatif sendiri melakukannya. Sudah lama aku memimpikan berada di kondisi seperti saat ini.


Kami makan bersama sambil mengobrol dengan akrab. Sesekali Mama menggoda kami yang masih pengantin baru.


Sebelum pulang, Mama berpesan untuk secepatnya memberikannya cucu. Ditya menyanggupi tanpa pikir panjang. Aku sih ikut aja apa kata Ditya.


****


Selesai dari rumah Mama, Ditya mengajakku ke supermarket. Berbelanja kebutuhan sehari-hari kami.


Seperti di drama Korea yang sering kutonton. Sepasang pengantin baru yang berbelanja dengan mesra. Romantis sekali.


"Maaf ya kita enggak pergi berbulan madu. Jadwalku padat sekali. Besok saja aku sudah mulai bekerja lagi. Belum proses aku transisi ke perusahaan Papa kamu. Semakin sedikit saja deh waktu aku buat kamu!" kata Ditya dengan sedih.


Ya, kami memang tidak berbulan madu seperti kebanyakan pasangan pengantin baru lainnya. Tuntutan pekerjaan Ditya tak memberinya waktu untuk berbulan madu.


Aku yang merasa bosan karena akan di rumah tanpa ditemani Ditya memutuskan mengambil beberapa endorse. Ditya tidak melarangku bekerja. Selama tidak menyita terlalu banyak waktuku.


Malam hari, kami kembali bersenang-senang. Menikmati indahnya masa-masa awal pernikahan kami. Melakukan penyatuan penuh cinta. Tak ada yang bisa mengganggu kami.


Sayangnya, besok Ditya sudah harus kembali bekerja. Aku akan sangat kesepian berada di apartemen sendirian.


Setelah meminta ijin pada Ditya, aku pun pergi ke rumah Bima untuk bekerja. Anak itu tidak datang ke resepsi pernikahanku dengan alasan sedang tidak enak badan.


Aku datang membawa parcel buah dan langsung naik ke kamarnya. Kuketuk dahulu pintu kamar dan masuk begitu Ia mempersilahkan.


"Hi, Bim!" sapaku dengan ramah. "Gimana keadaan kamu?"


Aku menaruh parcel buah di atas meja yang kosong. "Sakit apa?"


Bima tidak menjawab pertanyaanku, malah bertanya balik padaku. "Enggak pergi bulan madu?"


"Enggak. Ditya sibuk. Hari ini saja sudah pergi ngantor. Makanya aku kesini. Mau ngabarin kamu kalau aku siap ambil tawaran endorse lagi dan buat konten."


Bima tersenyum sinis. "Udah abis duitnya buat resepsi kemarin makanya sekarang nyari duit lagi?"


"Sakit apa ya? Entah. Aku juga enggak tau sakit apa. Sakit malas kali?!" masih menjawab dengan sinis.


"Ish! Jangan gitu ah! Udah makan belum? Kita pesan makanan yuk! Aku lapar nih. Tadi pagi cuma sarapan roti. Enggak nampol!"


Bima pun tersenyum. Hilang sudah kekesalan dalam dirinya. "Biasa makan nasi uduk sok-sokan makan roti. Udah sana pesan. Soto ceker ayam aja. Biar seger!"


"Oke siap!" aku tersenyum senang. Melihat Bima sudah kembali ke Bima yang kukenal membuatku sangat senang.


Kami pun mulai memilih-milih endorse mana yang akan kami pilih dan mana yang tidak. Memastikan produk terdaftar di BPOM dan mengecek berbagai hal sebelum menyetujui menerima endorse tersebut.


"Lalu kita buat konten apa?" tanyaku. "Udah lama nih aku enggak buat konten. Nanti sepi deh jadinya."


"Ya... Konten tentang pernikahan kamu. Itu yang sejak kemarin semua orang ingin tahu." jawab Bima lagi-lagi dengan ketus.


"Iya sih. Aku juga banyak pertanyaan. Kenapa enggak merilis sendiri acara pernikahan di konten milikku."


"Terus? Ada video enggak? Yang belum di blow up ke publik?"


"Ada. Kamu tau kan aku rajin bikin video dimana pun dan kapan pun."


Dengan malas Bima meminta video milikku. "Yaudah sini. Aku edittin!"


Aku tersenyum. "Makasih Bima. Baik banget deh! Bima memang the best!" kuacungkan dua jempol milikku untuknya.


Aku pun mengirimkan beberapa video yang kurekam sendiri. Pertama video saat aku fitting baju. Aku merekam dimana kami melakukan fitting baju, lalu saat masuk ke dalam butik dan melihat Ditya sedang fitting jas.


Bima terlihat malas mengeditnya. Tapi Bima terlihat tersenyum saat aku meminta pelayan butik merekamku saat mengenakan kebaya dan baju pengantin.


"Cantik banget." puji Bima pelan.


"Siapa? Aku cantik ya? Iyalah. Lara mah memang cantik." kataku dengan percaya diri.


"Bukan! Kebayanya yang cantik!" ketus Bima. "Udah ah jangan gangguin. Kirim lagi aja mana yang mau dijadiin konten."


Meski ketus aku tahu Bima tidak bermaksud jahat. Aku tersenyum dan mencubit pipi Bima. "Jangan jutek! Awas jutek-jutek sama aku ya! Udah enggak datang ke nikahan aku, sok jutek lagi!"


Bima akhirnya tersenyum. Ia melepaskan tanganku yang mencubit pipinya. "Kalau kamu bahagia, aku bahagia. Kalau kamu sedih, aku sedih. Maaf aku enggak datang di hari bahagia kamu. Aku beneran enggak bisa datang saat itu. Tapi aku selalu mendoakan kebaikan kamu."


"Ah.... sweet..." kupeluk Bima dan kudengar jantungnya berdetak kencang. Cepat-cepat Ia melepaskan pelukanku.


"Ih apaan sih! Main peluk-peluk aja! Udah jadi bini orang juga!" omelnya dengan wajah memerah malu.


"Memangnya kenapa? Kamu belum mandi ya Bim? Bau acem pas aku peluk! Sana mandi dulu!" omelku sambil memukul bahunya pelan.


"Ngapain mandi? Buang-buang air aja!" jawabnya santai.


"Iyuuuuhhh... Bima jorok! Mandi sana! Aku guyur air ya kalau enggak mandi!"


"Kalau aku mandi nanti dipeluk lagi enggak sama kamu?" goda Bima.


"Enggak lah! Tadi tuh bonus aja! Udah sana cepat! Banyak kerjaan menanti nih!"


Bima tersenyum dan berdiri. "Kirain dipeluk lagi! Yaudah pesenin es juga jangan soto doang. Es yang paling mahal dan enak!"


"Iya bawel!"


Kupesankan apa yang Bima mau lalu sambil menunggu aku membuka file video yang Bima sudah edit. Nampak foto masa kecilku sampai besar. Foto yang sudah Bima edit.


Maaf, Bim. Aku tau apa perasaan kamu. Namun aku sudah terlanjur menyerahkan diri pada Ditya. Aku enggak pantas buat kamu...


****