Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Kecurigaan Bima


Lara


Benar-benar tak ada hari libur bagiku. Bima menjemputku dan langsung membawaku ke sebuah taman.


Semua properti untuk syuting, Bima bawa dalam mobilnya. Aku hanya perlu make up dan berakting di depan kamera.


Meski aku sudah terkenal seperti sekarang, aku dan Bima masih kerja berdua saja. Bima merangkap semua pekerjaan, dari manager, asisten, fotografer dan penata gaya. Pokoknya Bima yang handle semuanya.


Kami masih nyaman bekerja berdua, kecuali syuting yang memang diadakan di TV dan konten kreator lain, sisanya kami berdua yang mengerjakannya.


Bukan karena aku pelit dan tak mau membayar orang lagi, semua karena masih bisa kami handle berdua dan juga terlalu banyak orang malah membuat kami ribet, apalagi jadwalku yang double job ini.


"Nanti kamu jalan dari tengah dan mendekat ke arahku ya, Ra. Terus kamu baru nyebutin merknya saat di depan kamera. Jangan senyum dulu, pasang wajah datar lalu senyum. Agar kelihatan natural di kamera. Siap?" Bima mulai mengarahkan gayaku.


"Siap."


Bima mengatur kamera dan tangannya diangkat ke atas. "Aku mulai ya! Kamera.... Action!"


Aku berjalan dari tengah sambil mengibaskan rambut panjangku. Tatapanku menatap ke depan dan berjalan mendekat. Sesuai instruksi, aku baru tersenyum saat sudah di depan kamera.


"Aku bisa bebas beraktivitas karena si tipis ini." kuangkat produk yang mengendorseku. "Pembalut tipis yang anti bocor? Ya... Womenku Pembalut!"


"Oke! Cut!"


Huft...


"Tunggu Ra!" kata-kata Bima menghentikan langkahku yang hendak mengambil air mineral.


"Kenapa? Masih kurang, Bim?"


Nampak Bima sedang mengernyitkan keningnya dan terus menatap hasil video yang baru diambil. Bima lalu menatap ke arahku dan seperti mencari sesuatu.


"Kenapa sih?" aku agak risih dengan apa yang Bima lakukan. "Ada yang aneh dengan penampilanku?"


Bima menaruh kamera dan mendekat ke arahku. Tatapannya tertuju ke arah leherku. Dengan jari telunjuknya Ia mengangkat wajahku dan terus melihat leherku lebih jelas lagi.


"Siapa yang ngelakuin hal ini sama kamu?" tanya Bima yang kini menatapku dengan tajam.


"Siapa? Memangnya ada apa?" aku menurunkan tangan Bima dan mengambil kaca di atas meja portabel yang biasa Bima bawa sebagai salah satu properti.


Bima tadi melihat leherku, memangnya ada apa? Aku pun melihat ke kaca dan betapa terkejutnya aku saat melihat ada warna merah di leherku.


Oh My God...


Ini pasti kissmark yang Ditya buat. Masih membekas dan aku tidak menutupinya. Lara bodoh!


Dengan takut-takut kutatap Bima yang sejak tadi terus menatapku dengan tajam.


"Ini... Bekas gigitan nyamuk, Bim!" bohongku. Enggak mungkin aku bilang kalau ini semua karena aku dan Ditya sudah menghabiskan malam bersama.


"Jangan bohong sama aku deh, Ra! Kamu bisa menyembunyikan bekasnya dengan consealer dan aku juga bisa menghapusnya dengan mengedit videonya. Aku tak mempermasalahkannya, aku hanya mau kamu jujur. Kita berteman bukan?"


"Ya jelas dong. Kita berteman." jawabku cepat tak mau Bima marah.


"Kalau begitu, siapa yang melakukannya?"


"Em... Itu..." aku menghindari tatapan tajam Bima yang meminta jawaban dariku.


"Dia.... Ditya!" aku tak bisa lagi menyembunyikan semua dari Bima. Kami sudah sangat akrab dan tak ada yang bisa aku sembunyikan darinya.


Kuberanikan diri mengangkat wajahku dan kulihat wajah Bima memerah. Entah karena marah atau...


Enggak! Bima enggak akan cemburu bukan? Bima tidak menyukaiku. Bima cuma sahabat dan rekan kerjaku.


Iya kan?


"Kamu pacaran sama Ditya?" pertanyaan pertama yang Bima ajukan setelah sejak tadi hanya diam dengan wajah menahan amarah.


"Aku-" belum sempat aku bertanya Bima sudah mengajukan pertanyaan lain.


"Kalian sudah sejauh mana? Selain tanda merah di leher kamu, apa saja yang sudah Ditya lakukan? Dia memaksa kamu? Dimana kalian melakukannya? Sebelum berangkat ke Batam, tak ada bekas apapun di leher kamu, aku yang biasa mengambil video kamu. Kalian janjian di Batam?" Bima memberondongku dengan banyak pertanyaan sekaligus.


Aku seperti sedang diinterogasi oleh keluargaku sendiri, padahal keluargaku yang sebenarnya sama sekali tak peduli dengan keadaanku.


Ekspresi wajah Bima adalah perpaduan antara khawatir , marah dan cemburu. Sangat menyeramkan dan membuatku merasa amat bersalah.


"Kamu benar, kami melakukannya di Batam. Aku dan Ditya janjian disana." jawabku jujur.


Bima mengacak rambutnya dengan kesal. "Kenapa harus Ditya sih Ra? Kenapa? Apa enggak ada cowok lain lagi?"


"Cowok lain siapa menurut kamu, Bim? Ditya satu-satunya lelaki yang menyukaiku apa adanya! Bukan seperti Arya mantan kekasihku yang tega berselingkuh dengan adik tiriku, Anggi!"


Bima terlihat terkejut dengan fakta yang baru saja kukatakan. Bima mengenal Arya dan Anggi karena mereka berdua yang menghancurkan karir selebgramku dengan terpaan fitnah.


"Ya, aku adalah mantan kekasih tak dianggap Arya. Lelaki yang kuanggap sangat mencintaiku namun ternyata malah menyelingkuhiku. Kamu bilang enggak ada cowok lain? Arya adalah cowok lain dalam hidupku, dan Arya yang menghancurkanku sampai aku nekat...."


Aku tak melanjutkan perkataanku. Aku tak mau Bima tahu kalau aku sudah pernah bunuh diri. Papa dengan keras melarang keluarga Handaka untuk memberitahu orang lain perihal bunuh diriku. Papa akan sangat marah jika berita aku bunuh diri sampai tersebar luas, karena akan menghancurkan semua usahanya untuk menutupi perbuatan nekatku.


"Aku dan Ditya sudah bertunangan dan kami akan segera menikah."


Bima kembali terkejut dengan berita yang baru saja kukatakan. "Menikah? Kamu serius? Lalu karir kamu sebagai selebgram gimana? Kita susah payah lo mencapai tangga kesuksesan seperti sekarang dan kamu mau ninggalin begitu saja gitu?"


Aku menghela nafas dalam. Bima sudah sangat marah padaku. Aku sudah menyembunyikan hubungan masa laluku dengan Arya dan kini aku juga menyembunyikan fakta kalau aku dan Ditya akan menikah.


"Aku akan tetap menjadi selebgram kok, Bim." aku berusaha meredam emosi Bima. "Justru aku ingin melepaskan perusahaan. Tujuan pernikahanku dan Ditya awalnya hanya pernikahan bisnis namun ternyata kami saling menyukai sejak awal dan ya... kami janjian di Batam. Tak perlu aku jelaskan semua. Ditya akan segera menikahiku. Besok Ditya akan datang bersama keluarganya untuk melamarku."


Kali ini tatapan mata Bima tak lagi emosi, melainkan penuh kesedihan. Apa Bima sedih aku akan menikah? Seharusnya senang dong, temannya yang cupu ini ada yang menikahi berarti sudah laku dan tak perlu khawatir akan jadi perawan tua.


"Kita lanjutin lagi saja! Ganti produk! Aku akan edit video tadi, kamu tutupi saja agar tidak terlihat di video berikutnya!" kata Bima dengan dingin.


Baru kali ini Bima marah padaku. Biasanya Ia tak pernah marah, aku membangunkannya pagi-pagi buta saja Ia tak marah. Aku salah skrip saja, Bima sabar mengulangi setiap adegan.


Aku jadi merasa tak enak. Apa kali ini aku benar-benar sudah keterlaluan ya?


Selesai syuting, Bima mengantarkanku sampai depan rumah. Sepanjang jalan Bima hanya diam saja tak mengajakku berbicara. Aku sadar diri kalau Bima masih marah.


Bima mengeluarkan koper milikku dari dalam mobil dan memberikannya padaku. "Maafin aku ya, Bim!" kataku dengan sungguh-sungguh.


Bima memaksakan senyum di wajahnya. Ia mengacak rambutku dan berkata, "Kamu enggak salah. Kalau kamu memang mencintainya dan bahagia dengannya... jalanilah. Lakukan apapun yang membuat kamu bahagia."


Aku pun menghambur ke pelukan Bima. "Makasih ya Bim. Makasih atas kebaikan kamu selama ini sama aku. Kamu memang sahabat terbaikku, Bim."


****